alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Setahun Pembelajaran Daring, 10 Persen Siswa Terkendala

Setahun sudah pembelajaran daring berjalan sejak ditetapkan Maret tahun lalu. Di Kabupaten Mojokerto, rencananya baru dibuka kelas tatap muka April nanti. Sedangkan, di Kota, sudah mulai tatap muka terbatas awal Maret lalu. Selama daring, banyak ditemukan kendala. Terutama sarana dan prasarana.

 

 

Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Zainul Arifin menjelaskan, setidaknya terdapat beberapa catatan selama setahun diterapkan PJJ. Sebab, sebelumnya, pembelajaran daring memang tidak pernah terpikirkan untuk diterapkan di jenjang PAUD, SD, maupun SMP. ’’Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, pembelajaran daring harus dilaksanakan. Karena itu dalam pelaksanaannya banyak keluhan-keluhan mulai dari awal,’’ terangnya, kemarin (15/3).

Zainul menyebut, permasalahan yang muncul pada periode awal tersebut adalah terkait kesiapan sumber daya manusia. Diakuinya, jika belum semua guru menguasai bidang informasi teknologi (IT). Sehingga, para guru juga harus meningkatkan kompetensinya untuk bisa mengoperasionalkan sejumlah aplikasi pembelajaran.

Baca Juga :  Hobi Mutasi, Sebulan Dua Kali Rombak Pejabat

Tak hanya itu, keluhan juga datang dari orang tua siswa. Khususnya terkait masalah kuota internet. Meski sempat direncanakan untuk dialokasikan melalui dana Bantuan Operator Sekolah (BOS), tetapi kebutuhan paket data itu akhirnya dipenuhi Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan memberi kuota belajar gratis. ’’Walau begitu, masih ada orang tua yang tidak mampu mendampingi anak-anaknya selama pembelajaran daring,’’ tandasnya.

Sarana dan prasarana juga menjadi catatan Dispendik Kabupaten Mojokerto. Sebab, kondisi geografis di Kabupaten Mojokerto juga memunculkan kendala lainnya. Di antaraya belum meratanya jaringan internet yang menjangkau 299 desa dan 5 kelurahan.

Di samping itu, siswa dari kategori ekonomi menengah ke bawah juga tidak sedikit yang belum terfasilitasi sarana berupa gadget atau telepon pintar. Akibatnya, tidak semua bisa mengikuti pembelajaran daring.  Karena ada siswa yang memang tidak punya smartphone maupun ada juga yang harus bergantian dengan orang tuanya. ’’Paling tidak setiap sekolah ada 10 persen yang tidak mempunyai fasilitas dan tidak terjangkau jaringan,’’ bebernya.

Baca Juga :  Sinyal Megap-megap, Satu Wifi untuk 30 Rumah

Karena itu, para guru juga tetap memberikan pembelajaran secara luar jaringan (luring). Salah satunya dengan cara melakukan home visite untuk memberikan materi pelajaran di rumah siswa. Sehingga, dispendik memastikan semua peserta didik mendapatkan pembelajaran.

Setahun sudah pembelajaran daring berjalan sejak ditetapkan Maret tahun lalu. Di Kabupaten Mojokerto, rencananya baru dibuka kelas tatap muka April nanti. Sedangkan, di Kota, sudah mulai tatap muka terbatas awal Maret lalu. Selama daring, banyak ditemukan kendala. Terutama sarana dan prasarana.

 

 

Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Zainul Arifin menjelaskan, setidaknya terdapat beberapa catatan selama setahun diterapkan PJJ. Sebab, sebelumnya, pembelajaran daring memang tidak pernah terpikirkan untuk diterapkan di jenjang PAUD, SD, maupun SMP. ’’Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, pembelajaran daring harus dilaksanakan. Karena itu dalam pelaksanaannya banyak keluhan-keluhan mulai dari awal,’’ terangnya, kemarin (15/3).

Zainul menyebut, permasalahan yang muncul pada periode awal tersebut adalah terkait kesiapan sumber daya manusia. Diakuinya, jika belum semua guru menguasai bidang informasi teknologi (IT). Sehingga, para guru juga harus meningkatkan kompetensinya untuk bisa mengoperasionalkan sejumlah aplikasi pembelajaran.

Baca Juga :  Tak Bermasker, Puluhan E-KTP Diblokir

Tak hanya itu, keluhan juga datang dari orang tua siswa. Khususnya terkait masalah kuota internet. Meski sempat direncanakan untuk dialokasikan melalui dana Bantuan Operator Sekolah (BOS), tetapi kebutuhan paket data itu akhirnya dipenuhi Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan memberi kuota belajar gratis. ’’Walau begitu, masih ada orang tua yang tidak mampu mendampingi anak-anaknya selama pembelajaran daring,’’ tandasnya.

- Advertisement -

Sarana dan prasarana juga menjadi catatan Dispendik Kabupaten Mojokerto. Sebab, kondisi geografis di Kabupaten Mojokerto juga memunculkan kendala lainnya. Di antaraya belum meratanya jaringan internet yang menjangkau 299 desa dan 5 kelurahan.

Di samping itu, siswa dari kategori ekonomi menengah ke bawah juga tidak sedikit yang belum terfasilitasi sarana berupa gadget atau telepon pintar. Akibatnya, tidak semua bisa mengikuti pembelajaran daring.  Karena ada siswa yang memang tidak punya smartphone maupun ada juga yang harus bergantian dengan orang tuanya. ’’Paling tidak setiap sekolah ada 10 persen yang tidak mempunyai fasilitas dan tidak terjangkau jaringan,’’ bebernya.

Baca Juga :  Warga Harus Beri Keterangan Jujur

Karena itu, para guru juga tetap memberikan pembelajaran secara luar jaringan (luring). Salah satunya dengan cara melakukan home visite untuk memberikan materi pelajaran di rumah siswa. Sehingga, dispendik memastikan semua peserta didik mendapatkan pembelajaran.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/