alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Muslimat Kota Harus Bersinergi untuk Transformasi Digital

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Wali Kota Ika Puspitasari mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang digelar Muslimat NU Kota Mojokerto selama tiga hari, Jumat-Minggu (11-13/2), di Hall lantai 4 Mal Pelayanan Publik Gajah Mada. Wali kota yang akrab disapa Ning Ita Ita itu menyampaikan, seiring percepatan transformasi digital, muslimat tentu perlu menyesuaikan diri dan bersinergi dengan Banom NU yang lain.

’’Muslimat sebagai organisasi dengan jumlah anggotanya yang cukup besar. Namun kita tahu bahwa anggota ini jamiyahnya adalah kategori lansia yang usianya sudah generasi boomers. Nah, maka di sini kalau muslimat bergerak sendirian, saya kira akan sulit untu beradaptasi. Maka kita perlu bersinergi dengan merangkul Banom NU yang secara generasi itu berada di bawahnya Muslimat, seperti Fatayat dan  IPPNU,’’ jelas Ning Ita saat jeda materi, Sabtu (13/2).

Ia menambahkan, sinergi ini bisa dilakukan dengan merekrut anggota Fatayat  yang mungkin sudah terlalu lama dan secara usia sudah berada di atas 25 tahun ke dalam struktural Muslimat. Sehingga ke depan bisa merealisasikan apa yang menjadi panca harokahnya NU.

Baca Juga :  Ngaku Ajudan Ning Ita, Telepon Bank, Minta Ratusan Juta

Lebih lanjut, Ning Ita menyampaikan, Muslimat NU Kota Mojokerto mempunyai tantangan tersendiri dalam berdakwah di era transformasi digital. ’’Karena kita ketahui wilayah perkotaan itu memang lebih heterogen dibandingkan dengan pedesaan. Sehingga ini menjadi satu tantangan tersendiri bagi muslimat Nahdlatul Ulama Kota Mojokerto untuk bisa berjuang lebih keras lagi bagaimana mengadopsi metode-metode dakwah dengan mengarah kepada digitalisasi karena kelompok-kelompok sebelah ini sudah bertransformasi ke arah sana dalam rangka berdakwah menyebarluaskan ajaran mereka,’’ tegasnya.

’’Kita tidak boleh ketinggalan agar generasi yang kategori milenial ini juga tetap berpegang teguh kepada ajaran Aswaja An-Nahdliyah seperti para leluhurnya, orang tuanya, mbah mbahnya. Tidak terbawa dan tergoda oleh aliran-aliran lain yang sekarang banyak bergerak secara masif dengan metode dakwah yang menggunakan digitalisasi,’’ kata Ning Ita.

Baca Juga :  Jadwal Pelantikan Wali Kota-Wawali Terpilih Maju-Mundur

Sebagai kader Muslimat, dengan adanya MKNU ini, Ning Ita berharap dapat memberikan pemahaman terkait penguatan Aswaja An-Nahdliyah dalam rangka menyebarluaskan dakwah Aswaja An-Nahdliyah. Juga bagaimana mengelolaorganisasi ini ke depan supaya menjadi organisasi yang mampu menjadi penguat basis Aswaja An-Nahdliyah yang ada di Kota Mojokerto.

Bagi Ning Ita, keikutsertaanya dalam MKNU hingga tuntas adalah bentuk komitmennya sebagai kader Muslimat. ’’Ini penting sekali bagi saya secara pribadi untuk berkomitmen mengikuti pendidikan pendidikan terkait ke Aswaja Aswaja An-Nahdliyah dalam rangka menguatkan peran saya pribadi selaku pengurus dalam pimpinan cabang muslimat NU,’’ pungkasnya.

Pada hari terakhir MKNU, selain mendapatkan materi, para peserta juga mengikuti muhasabah dan pembaiatan oleh Wakil Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Iskandar. Serta penyerahan pin MKNU sebagai bukti kelulusan dalam kaderisasi ini. (na/abi)

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Wali Kota Ika Puspitasari mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang digelar Muslimat NU Kota Mojokerto selama tiga hari, Jumat-Minggu (11-13/2), di Hall lantai 4 Mal Pelayanan Publik Gajah Mada. Wali kota yang akrab disapa Ning Ita Ita itu menyampaikan, seiring percepatan transformasi digital, muslimat tentu perlu menyesuaikan diri dan bersinergi dengan Banom NU yang lain.

’’Muslimat sebagai organisasi dengan jumlah anggotanya yang cukup besar. Namun kita tahu bahwa anggota ini jamiyahnya adalah kategori lansia yang usianya sudah generasi boomers. Nah, maka di sini kalau muslimat bergerak sendirian, saya kira akan sulit untu beradaptasi. Maka kita perlu bersinergi dengan merangkul Banom NU yang secara generasi itu berada di bawahnya Muslimat, seperti Fatayat dan  IPPNU,’’ jelas Ning Ita saat jeda materi, Sabtu (13/2).

Ia menambahkan, sinergi ini bisa dilakukan dengan merekrut anggota Fatayat  yang mungkin sudah terlalu lama dan secara usia sudah berada di atas 25 tahun ke dalam struktural Muslimat. Sehingga ke depan bisa merealisasikan apa yang menjadi panca harokahnya NU.

Baca Juga :  Luruk Balai Desa, Warga Protes Pencaplokan Tanah Negara

Lebih lanjut, Ning Ita menyampaikan, Muslimat NU Kota Mojokerto mempunyai tantangan tersendiri dalam berdakwah di era transformasi digital. ’’Karena kita ketahui wilayah perkotaan itu memang lebih heterogen dibandingkan dengan pedesaan. Sehingga ini menjadi satu tantangan tersendiri bagi muslimat Nahdlatul Ulama Kota Mojokerto untuk bisa berjuang lebih keras lagi bagaimana mengadopsi metode-metode dakwah dengan mengarah kepada digitalisasi karena kelompok-kelompok sebelah ini sudah bertransformasi ke arah sana dalam rangka berdakwah menyebarluaskan ajaran mereka,’’ tegasnya.

’’Kita tidak boleh ketinggalan agar generasi yang kategori milenial ini juga tetap berpegang teguh kepada ajaran Aswaja An-Nahdliyah seperti para leluhurnya, orang tuanya, mbah mbahnya. Tidak terbawa dan tergoda oleh aliran-aliran lain yang sekarang banyak bergerak secara masif dengan metode dakwah yang menggunakan digitalisasi,’’ kata Ning Ita.

Baca Juga :  Pola Hidup Sehat, Kunci Utama Hadapi Pandemi

Sebagai kader Muslimat, dengan adanya MKNU ini, Ning Ita berharap dapat memberikan pemahaman terkait penguatan Aswaja An-Nahdliyah dalam rangka menyebarluaskan dakwah Aswaja An-Nahdliyah. Juga bagaimana mengelolaorganisasi ini ke depan supaya menjadi organisasi yang mampu menjadi penguat basis Aswaja An-Nahdliyah yang ada di Kota Mojokerto.

- Advertisement -

Bagi Ning Ita, keikutsertaanya dalam MKNU hingga tuntas adalah bentuk komitmennya sebagai kader Muslimat. ’’Ini penting sekali bagi saya secara pribadi untuk berkomitmen mengikuti pendidikan pendidikan terkait ke Aswaja Aswaja An-Nahdliyah dalam rangka menguatkan peran saya pribadi selaku pengurus dalam pimpinan cabang muslimat NU,’’ pungkasnya.

Pada hari terakhir MKNU, selain mendapatkan materi, para peserta juga mengikuti muhasabah dan pembaiatan oleh Wakil Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Iskandar. Serta penyerahan pin MKNU sebagai bukti kelulusan dalam kaderisasi ini. (na/abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/