alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Keamanan Kampung Diserahkan Siskamling

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Imbauan pemadaman lampu teras rumah dan penerangan jalan lingkungan selama PPKM darurat berlaku bagi seluruh wilayah di Kota Mojokerto. Pemantauan dilakukan dengan memaksimalkan siskamling pihak setempat.

Sesuai dengan surat imbauan yang diterbitkan Dishub Kota Mojokerto, Selasa (13/7), setiap lampu teras dan penerangan jalan lingkungan diminta untuk dipadamkan mulai pukul 17.00 hingga pukul 05.00. ”Belaku untuk semuanya. Sebagaimana dalam surat imbauan,” kata Kabid Pengendalian Operasi dan Perparkiran Dishub Kota Mojokerto Robik Subagiyo.

Kebijakan ini menyusul pemadaman penerangan jalan utama (PJU) yang sudah diberlakukan lebih dulu. Selama ini, pihaknya juga melakukan pemantauan dengan patroli mobiling terhadap kondisi pemadaman lampu di seluruh jalan protokol tersebut. ”Kita monitoringnya tetap di jalan-jalan raya,” sebutnya.

Baca Juga :  Wali Kota Razia Room Karaoke, Temui Pemandu Lagu dan Pengunjung

Di sisi lain, pelaksanaan perluasan titik pemadaman lampu hingga ke teras-teras rumah warga dan penerangan jalan lingkungan ini diserahkan kepada lingkungan setempat. Yakni, dengan menggerakkan siskamling warga untuk turun andil dalam upaya penurunan mobilitas warga tersebut. ”Kalau di kampung-kampung ini diserahkan ke pam swakarya mandiri,” imbuh dia.

Dia juga tak memungkiri, imbauan ini mengundang pro-kontra warga. Namun, sebagai langkah untuk menekan angka persebaran Covid-19, penerangan cahaya menjadi salah satu komponen tolok ukur tingkat mobilitas warga. Setidaknya, lanjut Robik, terdapat tiga indikator yang mencerminkan aktivitas dan pergerakan masyarakat.

Di antaranya, pergerakan berdasarkan lokasi GPS (global positioning system) yang terhubung pada perangkat telekomunikasi warga. Kedua, pengukuran tingkat kepadatan mobilitas warga memalui monitoring di empat ruas jalan di setiap kota/kabupaten. ”Serta ukuran aktivitas dan pergerakan masyarakat pada malam hari melalui intensitas cahaya,” terang Robik. Data ini berupa gambar pencitraan dari satelit.

Baca Juga :  Hasil Swab Reaktif, Penghuni Kos Dikarantina

Sehingga, untuk menekan mobilitas warga, penyekatan jalan maupuan pemadaman lampu-lampu terus diupayakan. ”Karena tiga indikator itu menjadi syarat untuk menekan mobilitas dan efektivitas pembatasan warga dalam rangka memutus persebaran Covid-19,” tandasnya. (adi)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Imbauan pemadaman lampu teras rumah dan penerangan jalan lingkungan selama PPKM darurat berlaku bagi seluruh wilayah di Kota Mojokerto. Pemantauan dilakukan dengan memaksimalkan siskamling pihak setempat.

Sesuai dengan surat imbauan yang diterbitkan Dishub Kota Mojokerto, Selasa (13/7), setiap lampu teras dan penerangan jalan lingkungan diminta untuk dipadamkan mulai pukul 17.00 hingga pukul 05.00. ”Belaku untuk semuanya. Sebagaimana dalam surat imbauan,” kata Kabid Pengendalian Operasi dan Perparkiran Dishub Kota Mojokerto Robik Subagiyo.

Kebijakan ini menyusul pemadaman penerangan jalan utama (PJU) yang sudah diberlakukan lebih dulu. Selama ini, pihaknya juga melakukan pemantauan dengan patroli mobiling terhadap kondisi pemadaman lampu di seluruh jalan protokol tersebut. ”Kita monitoringnya tetap di jalan-jalan raya,” sebutnya.

Baca Juga :  Denda Pelanggar Prokes Terkumpul Rp 207 Juta

Di sisi lain, pelaksanaan perluasan titik pemadaman lampu hingga ke teras-teras rumah warga dan penerangan jalan lingkungan ini diserahkan kepada lingkungan setempat. Yakni, dengan menggerakkan siskamling warga untuk turun andil dalam upaya penurunan mobilitas warga tersebut. ”Kalau di kampung-kampung ini diserahkan ke pam swakarya mandiri,” imbuh dia.

Dia juga tak memungkiri, imbauan ini mengundang pro-kontra warga. Namun, sebagai langkah untuk menekan angka persebaran Covid-19, penerangan cahaya menjadi salah satu komponen tolok ukur tingkat mobilitas warga. Setidaknya, lanjut Robik, terdapat tiga indikator yang mencerminkan aktivitas dan pergerakan masyarakat.

Di antaranya, pergerakan berdasarkan lokasi GPS (global positioning system) yang terhubung pada perangkat telekomunikasi warga. Kedua, pengukuran tingkat kepadatan mobilitas warga memalui monitoring di empat ruas jalan di setiap kota/kabupaten. ”Serta ukuran aktivitas dan pergerakan masyarakat pada malam hari melalui intensitas cahaya,” terang Robik. Data ini berupa gambar pencitraan dari satelit.

Baca Juga :  Bupati Pantau Vaksinasi Covid-19 Kecamatan Pacet dan Dlanggu
- Advertisement -

Sehingga, untuk menekan mobilitas warga, penyekatan jalan maupuan pemadaman lampu-lampu terus diupayakan. ”Karena tiga indikator itu menjadi syarat untuk menekan mobilitas dan efektivitas pembatasan warga dalam rangka memutus persebaran Covid-19,” tandasnya. (adi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/