alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Siswa Diungsikan ke Balai Desa

Banjir di Dua Desa Kecamatan Kemlagi Makin Parah

KEMLAGI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Luapan air sungai yang merendam gedung SDN Watesprojo, Kecamatan Kemlagi, tak kunjung surut. Kemarin (14/3), 89 siswa terpaksa menjalani pembelajaran di balai desa setempat.

Dampak banjir dari wilayah Jombang tersebut makin parah. Banjir menerjang dua desa di perbatasan barat Mojokerto sejak Minggu (13/3). Jumlah rumah yang terdampak pun kian bertambah. ”Sampai sekarang yang rumahnya di posisi rendah kemasukan air (setinggi) 10 sentimeter,” terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat.

BPBD mencatat, hingga Senin siang (14/3), sebanyak 17 rumah di Dusun Betro Timur, Desa Betro terendam air setinggi 5-10 sentimeter. Atau bertambah dua rumah sejak banjir kali pertama menerjang sejak Minggu (13/3) sekitar pukul 04.00.

Sementara itu, banjir yang menerjang Dusun Kedungbulus, Desa Watersprojo juga meluas. Dari yang semula sebanyak sembilan rumah, kini terdapat 17 rumah yang terdampak. Ketinggian air 10-15 sentimeter. ”Tren genangan air stabil,” imbuh Djoko. Artinya banjir belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Baca Juga :  Tumpukan Sampah Sumbat Drainase Kota, Tugas DLH Jadi Cibiran Warga

Di luar permukiman, total 60 hektare lahan pertanian di dua desa berdempetan itu ikut terendam. Mayoritas tanaman jenis tebu, padi, jagung, dan singkong. Selain itu, banjir juga merendam fasilitas umum gedung sekolah SDN Waterprojo. Air setinggi 30 sentimeter merendam halaman sekolah yang berada di Dusun Watespinggir tersebut.

Banjir membuat proses pembelajaran terkendala. Siswa dan guru tidak dapat masuk ke ruang kelas. Kegiatan sekolah pun diungsikan. Untuk sementara waktu, pembelajaran dilakukan di pendapa balai desa setempat. ”Jelas tidak nyaman dan bisa memicu penyakit juga. Sehingga belajar mengajarnya di alihkan ke balai desa,” jelasnya. Tempat belajar darurat berlangsung selama banjir belum surut.

Baca Juga :  Dispendik Mendadak Ubah Metode Seleksi PPDB SMP Negeri di Malam Hari

SDN Watesprojo memiliki 89 peserta didik. Selama mengungsi, proses pembelajaran dilakukan secara sif. Sebanyak 45 siswa kelas 1, 2, dan 3 masuk pukul 07.00 sampai 09.00. Selanjutnya, disambung siswa kelas 4, 5, dan 6 yang berjumlah 44 anak hingga pukul 11.40.

Apakah banjir bakal cepat surut? ”Semoga saja segera surut dan daerah Nganjuk dan Jombang dan sekitarnya tidak terjadi hujan lebat,” ungkap Djoko. Sebab, selama ini, dua kampung tersebut tak pernah diterjang banjir. Namun, meningkatnya debit sungai Marmoyo dampak banjir di Jombang membuat aliran meluber ke permukiman. Kondisi ini sudah berlangsung selama dua hari. ”Dam di Nganjuk juga jebol imbasnya di Mojokerto akhirnya,” tukas dia.

Kemarin, Bupati Ikfina Fahmawati meninjau lokasi banjir. Dalam kesempatan tersebut, Ikfina menyerahkan bantuan berupa 39 paket sembako kepada warga di dua desa. (adi/ron)

Banjir di Dua Desa Kecamatan Kemlagi Makin Parah

KEMLAGI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Luapan air sungai yang merendam gedung SDN Watesprojo, Kecamatan Kemlagi, tak kunjung surut. Kemarin (14/3), 89 siswa terpaksa menjalani pembelajaran di balai desa setempat.

Dampak banjir dari wilayah Jombang tersebut makin parah. Banjir menerjang dua desa di perbatasan barat Mojokerto sejak Minggu (13/3). Jumlah rumah yang terdampak pun kian bertambah. ”Sampai sekarang yang rumahnya di posisi rendah kemasukan air (setinggi) 10 sentimeter,” terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat.

BPBD mencatat, hingga Senin siang (14/3), sebanyak 17 rumah di Dusun Betro Timur, Desa Betro terendam air setinggi 5-10 sentimeter. Atau bertambah dua rumah sejak banjir kali pertama menerjang sejak Minggu (13/3) sekitar pukul 04.00.

Sementara itu, banjir yang menerjang Dusun Kedungbulus, Desa Watersprojo juga meluas. Dari yang semula sebanyak sembilan rumah, kini terdapat 17 rumah yang terdampak. Ketinggian air 10-15 sentimeter. ”Tren genangan air stabil,” imbuh Djoko. Artinya banjir belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Baca Juga :  Tiga Formasi CPNS Kota Dipastikan Lowong

Di luar permukiman, total 60 hektare lahan pertanian di dua desa berdempetan itu ikut terendam. Mayoritas tanaman jenis tebu, padi, jagung, dan singkong. Selain itu, banjir juga merendam fasilitas umum gedung sekolah SDN Waterprojo. Air setinggi 30 sentimeter merendam halaman sekolah yang berada di Dusun Watespinggir tersebut.

- Advertisement -

Banjir membuat proses pembelajaran terkendala. Siswa dan guru tidak dapat masuk ke ruang kelas. Kegiatan sekolah pun diungsikan. Untuk sementara waktu, pembelajaran dilakukan di pendapa balai desa setempat. ”Jelas tidak nyaman dan bisa memicu penyakit juga. Sehingga belajar mengajarnya di alihkan ke balai desa,” jelasnya. Tempat belajar darurat berlangsung selama banjir belum surut.

Baca Juga :  Pemkab Serahkan Bantuan Logistik Bencana Banjir Jotangan

SDN Watesprojo memiliki 89 peserta didik. Selama mengungsi, proses pembelajaran dilakukan secara sif. Sebanyak 45 siswa kelas 1, 2, dan 3 masuk pukul 07.00 sampai 09.00. Selanjutnya, disambung siswa kelas 4, 5, dan 6 yang berjumlah 44 anak hingga pukul 11.40.

Apakah banjir bakal cepat surut? ”Semoga saja segera surut dan daerah Nganjuk dan Jombang dan sekitarnya tidak terjadi hujan lebat,” ungkap Djoko. Sebab, selama ini, dua kampung tersebut tak pernah diterjang banjir. Namun, meningkatnya debit sungai Marmoyo dampak banjir di Jombang membuat aliran meluber ke permukiman. Kondisi ini sudah berlangsung selama dua hari. ”Dam di Nganjuk juga jebol imbasnya di Mojokerto akhirnya,” tukas dia.

Kemarin, Bupati Ikfina Fahmawati meninjau lokasi banjir. Dalam kesempatan tersebut, Ikfina menyerahkan bantuan berupa 39 paket sembako kepada warga di dua desa. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/