alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Ruang Isolasi Mulai Dipangkas

Disiplin protokol kesehatan terus ditekankan. Kini, Kabupaten Mojokerto berstatus zona kuning. Sedangkan, Kota Mojokerto zona oranye. Yakni, risiko rendah dan risiko sedang. Jumlah kasus baru menurun. Kebutuhan tempat isolasi tidak seperti dulu.

 Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Mojokerto mulai hari ini memangkas jumlah tempat isolasi untuk pasien Covid-19 berstatus orang tanpa gejala (OTG). Hal itu bertujuan efesiensi anggaran sekaligus efektivitas penanganan terhadap mereka yang terpapar virus berbahaya tersebut.

Pengurangan tempat isolasi juga dipengaruhi penurunan pasien baru Covid-19 yang terjadi belakangan ini. Kadinkes Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko mengatakan, status kabupaten saat ini zona kuning atau risiko rendah persebaran Covid-19. Kondisi itu dibuktikan dengan penurunan kasus baru yang terjadi selama ini. ’’Pasien yang diisolasi saat ini juga menurun,’’ ungkapnya, kemarin.

Sesuai data di laman http://infocovid19.jatimprov.go.id/ setidaknya ada 2.137 orang yang terpapar dengan pasien sembuh 2.018 orang dan meninggal 68 pasien. Sementara itu, secara global ada 73 pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi. Terdiri dari 14 pasien berstatus OTG dan selebihnya 59 pasien disertai komorbid.

Tak urung kondisi itu membuat dinkes harus menutup tiga puskesmas yang sbelumnya dipakai tempat isolasi. Di antaranya, Puri, Jatirejo, dan Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. Penutupan ini mulai berlaku hari ini. Dengan begitu, kini tinggal dua dari lima puskesmas rawat inap yang masih dipakai tempat isolasi. Meliputi Gondang dan Dawarblandong. ’’Jadi, untuk pasien OTG yang masih dirawat di tiga puskemas (Puri, Jatirejo, dan Gayaman) kita harapkan untuk memindahkannya ke PKM Gondang,’’ tegasnya.

Sebaliknya, tiga puskemas tersebut sudah tidak diperbolehkan menerima pasien OTG lagi. ’’Penutupan ini memang untuk efisiensi anggaran dan efektivitas penanganan,’’ tambahnya.

Ditutupnya tiga PKM menjadi tempat isolasi secara otomatis membuat dinkes juga bisa hemat anggaran. Namun, Sujatmiko tak mau membeberkan berapa anggaran yang dihemat. ’’Hitungan ada di teman-teman tim dinkes. Bukan hanya anggaran, tapi juga sumber daya tenaga, jangan sampai dengan Covid-19, bidang kesehatan yang lain juga perlu perhatian,’’ urainya.

Yang jelas, Sujatmiko melanjutkan, jika setiap PKM yang dijadikan tempat isolasi, dinkes harus menganggarkan untuk 7 sampai 10 tenaga kesehatan. ’’Yang jelas dengan dua puskesmas (Gondang dan Dawarblandong) tersebut insya Allah sudah bisa mengatasi dengan situasi yang membaik seperti ini,’’ tegasnya.

Dinkes berharap, nakes juga bisa lebih dimaksimalkan divaksinasi dan preventif promotif bidang yang lain.’’Semoga Covid-19 segera berakhir,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Ruang Isolasi Penuh, Warga Bakal Diisolasi ke Luar Kota

Sebelumnya, dinkes melakukan pengajuan anggaran Rp 19,9 miliar untuk penangan Covid-19 tahun ini. Angka itu terbagi dalam dua fokus. Masing-masing, Rp 12,6 miliar untuk vaksinasi dan Rp 7,2 miliar untuk operasional tempat isolasi di wilayah kerjanya. Rp 12,6 miliar operasional vaksinasi yang diajukan dinkes di antaranya untuk sosialiasi vaksin, pendataan sasaran vaksin, penyusunan micro planning tingkat kabupaten dan puskesmas, distribusi vaksin, dan limbah vaksin hingga alat kesehatan. Termasuk, untuk honor vaksinator dan bantuan transport petugas pengamanan.

Selain itu, akomodasi dan konsumsi petugas vaksinasi juga menjadi tanggung jawab dinkes. Sebaliknya, untuk rencana kebutuhan belanja operasional rumah isolasi dinkes juga mengajukan Rp 7,28 miliar. Angka ini tak lain untuk dibelanjakan peralatan dan perlengkapan kesehatan. Meliputi, masker, sarung tangan panjang, APD set, masker respocare dan masker N95. Termasuk untuk konsumsi rumah isolasi. Tak hanya itu, honor insentif  petugas rumah sakit juga menjadi atensi dinkes. Meliputi, UPT Puskesmas Jatirejo, Gondang, Gayaman, Puri, Kupang, dan Dawarblandong.

Anggaran itu juga dipakai insentif pemakaman penderita Covid-19. Dari data yang ada anggaran jumbo ini diketahui tidak termasuk penanganan Covid-19 yang ada di RSUD RA Basoeni dan RSUD prof dr Soekandar Mojosari. Dua rumah sakit plat merah itu, diketahui juga melakukan pengajuan ke Bupati dengan nilai masing-masing Rp 14,1 miliar dan Rp 1,8 miliar.

Tahun ini, dinkes juga dinkes merupakan salah satu OPD yang memiliki kekuatan anggaran yang cukup besar dibanding lainnya. Lantaran menjadi garda terdepan dan masih menjadi skala perioritas utama pemerintah. Dari data yang ada, setidaknya dari kekuatan APBD 2021 sekitar Rp 2,6 triliun, dinkes digerojok sekitar Rp 203,4 miliar. Kendati begitu angka ini turun dari tahun lalu. Yakni capai Rp 250 Miliar dengan realisasi Rp 208 miliar.

SEMENTARA itu, menurunnya kasus Covid-19 membuat tingkat keterisian ruang isolasi di Kota dan Kabupaten Mojokerto mulai melandai. Bahkan, rumah sakit rujukan memilih untuk memangkas kapasitas ruangan dengan menonaktifkan puluhan tempat tidur (TT) yang sebelumnya khusus untuk merawat pasien terpapar korona.

Seperti di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto yang telah mengurangi seperempat dari total daya tampung di ruang isolasi. Sebelumnya, rumah sakit pelat merah ini memiliki 75 bed di ruang isolasi Covid-19 yang tersebar di tiga lantai. Namun, mulai Maret ini hanya 55 TT yang diaktifkan. ’’Ada 20 TT di satu lantai kita tutup, karena sekarang pasiennya sudah menurun,’’ terang Kabid Yanmed RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo dr Achmad Reza kemarin.

Baca Juga :  Kampus Unggulan, Gelar Wisuda Virtual

Menurutnya, ruang perawatan di lantai dasar tersebut dikembalikan lagi fungsinya untuk merawat pasien umum. Sebelumnya, RSUD sempat mengalihkan ruangan tersebut untuk menambah kapasitas di ruang isolasi. Mengingat, pada periode Desember-Januari lalu sempat mengalami overload akibat tingginya rujukan pasien Covid-19.

Namun, pada Februari jumlah pasien korona mulai berkurang. Bahkan, sejak digulirkan vaksinasi Covid-19 di Kota Mojokerto, angka paparan menurun cukup signifikan. ’’Sehingga kita harus evaluasi, akhirnya kita putuskan untuk mengurangi TT-nya di ruang isolasi karena pasien-pasien yang non-Covid-19 juga mulai bertambah,’’ tandasnya.

Dari 55 TT yang di ruang isolasi saat ini, 7 bed di antaranya khusus untuk ruang intensive care unit (ICU) Covid-19. Dari kapasitas tersebut, ujar Reza, tingkat keterisian juga tidak sampai membeludak. Per Minggu  (14/3) kemarin, jumlah total pasien Covid-19 yang masih menjalani perawatan sebanyak 28 orang. ’’Jadi tidak pernah sampai penuh. Bisanya hanya di ICU yang rata-rata terisi 5 sampai 6 pasien,’’ imbuhnya.

Dokter spesialis kandungan ini menambahkan, pengalihfungsian ruangan menjadi rawat inap pasien reguler hanya bersifat sementara. Sebab, pihaknya akan kembali mengubahnya menjadi ruang isolasi jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus Covid-19. Terlebih, ruang perawatan satu lantai itu sebelumnya telah dilakukan penataan dengan standar penanganan pasien Covid-19. Sehingga, ke depan tidak perlu melakukan penataan ulang. ’’Sementara kita pakai untuk ruang pasien non-Covid-19, tapi kalau ada perubahan meningkat ya kita pakai lagi,’’ pungkasnya.

Sementara itu, bed occuppancy rate (BOR) atau keterisian tempat tidur di ruang isolasi RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Kabupaten Mojokerto, juga mengalami penurunan tajam. Bahkan, dari total 100 TT pasien dewasa hanya terisi 20 persen saja. ’’Sudah jauh menurun, hari ini (kemarin) tinggal 20-an pasien,’’ sambung Direktur RSUD Prof dr Soekandar dr Djalu Naskutub.

Namun, pihaknya mengaku belum memutuskan untuk mengurangi kapasitas ruang isolasi. Djalu mengaku masih menunggu instruksi dari pemeritah pusat maupun Pemkab Mojokerto. Dengan demikian, empat lantai di satu gedung masih sepenuhnya difungsikan untuk perawatan pasien Covid-19.

Di samping itu, RSUD juga masih menyediakan 16 ruang isolasi khusus anak, ICU, serta ruang bedah Covid-19. ’’Sementara ruang isolasi masih tetap. Jadi belum kami ubah sampai menunggu instruksi dari pemerintah,’’ pungkas Djalu. 

Disiplin protokol kesehatan terus ditekankan. Kini, Kabupaten Mojokerto berstatus zona kuning. Sedangkan, Kota Mojokerto zona oranye. Yakni, risiko rendah dan risiko sedang. Jumlah kasus baru menurun. Kebutuhan tempat isolasi tidak seperti dulu.

 Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Mojokerto mulai hari ini memangkas jumlah tempat isolasi untuk pasien Covid-19 berstatus orang tanpa gejala (OTG). Hal itu bertujuan efesiensi anggaran sekaligus efektivitas penanganan terhadap mereka yang terpapar virus berbahaya tersebut.

Pengurangan tempat isolasi juga dipengaruhi penurunan pasien baru Covid-19 yang terjadi belakangan ini. Kadinkes Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko mengatakan, status kabupaten saat ini zona kuning atau risiko rendah persebaran Covid-19. Kondisi itu dibuktikan dengan penurunan kasus baru yang terjadi selama ini. ’’Pasien yang diisolasi saat ini juga menurun,’’ ungkapnya, kemarin.

Sesuai data di laman http://infocovid19.jatimprov.go.id/ setidaknya ada 2.137 orang yang terpapar dengan pasien sembuh 2.018 orang dan meninggal 68 pasien. Sementara itu, secara global ada 73 pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi. Terdiri dari 14 pasien berstatus OTG dan selebihnya 59 pasien disertai komorbid.

Tak urung kondisi itu membuat dinkes harus menutup tiga puskesmas yang sbelumnya dipakai tempat isolasi. Di antaranya, Puri, Jatirejo, dan Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. Penutupan ini mulai berlaku hari ini. Dengan begitu, kini tinggal dua dari lima puskesmas rawat inap yang masih dipakai tempat isolasi. Meliputi Gondang dan Dawarblandong. ’’Jadi, untuk pasien OTG yang masih dirawat di tiga puskemas (Puri, Jatirejo, dan Gayaman) kita harapkan untuk memindahkannya ke PKM Gondang,’’ tegasnya.

Sebaliknya, tiga puskemas tersebut sudah tidak diperbolehkan menerima pasien OTG lagi. ’’Penutupan ini memang untuk efisiensi anggaran dan efektivitas penanganan,’’ tambahnya.

- Advertisement -

Ditutupnya tiga PKM menjadi tempat isolasi secara otomatis membuat dinkes juga bisa hemat anggaran. Namun, Sujatmiko tak mau membeberkan berapa anggaran yang dihemat. ’’Hitungan ada di teman-teman tim dinkes. Bukan hanya anggaran, tapi juga sumber daya tenaga, jangan sampai dengan Covid-19, bidang kesehatan yang lain juga perlu perhatian,’’ urainya.

Yang jelas, Sujatmiko melanjutkan, jika setiap PKM yang dijadikan tempat isolasi, dinkes harus menganggarkan untuk 7 sampai 10 tenaga kesehatan. ’’Yang jelas dengan dua puskesmas (Gondang dan Dawarblandong) tersebut insya Allah sudah bisa mengatasi dengan situasi yang membaik seperti ini,’’ tegasnya.

Dinkes berharap, nakes juga bisa lebih dimaksimalkan divaksinasi dan preventif promotif bidang yang lain.’’Semoga Covid-19 segera berakhir,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pasca Divaksin, Tiga Nakes Malah Positif Covid

Sebelumnya, dinkes melakukan pengajuan anggaran Rp 19,9 miliar untuk penangan Covid-19 tahun ini. Angka itu terbagi dalam dua fokus. Masing-masing, Rp 12,6 miliar untuk vaksinasi dan Rp 7,2 miliar untuk operasional tempat isolasi di wilayah kerjanya. Rp 12,6 miliar operasional vaksinasi yang diajukan dinkes di antaranya untuk sosialiasi vaksin, pendataan sasaran vaksin, penyusunan micro planning tingkat kabupaten dan puskesmas, distribusi vaksin, dan limbah vaksin hingga alat kesehatan. Termasuk, untuk honor vaksinator dan bantuan transport petugas pengamanan.

Selain itu, akomodasi dan konsumsi petugas vaksinasi juga menjadi tanggung jawab dinkes. Sebaliknya, untuk rencana kebutuhan belanja operasional rumah isolasi dinkes juga mengajukan Rp 7,28 miliar. Angka ini tak lain untuk dibelanjakan peralatan dan perlengkapan kesehatan. Meliputi, masker, sarung tangan panjang, APD set, masker respocare dan masker N95. Termasuk untuk konsumsi rumah isolasi. Tak hanya itu, honor insentif  petugas rumah sakit juga menjadi atensi dinkes. Meliputi, UPT Puskesmas Jatirejo, Gondang, Gayaman, Puri, Kupang, dan Dawarblandong.

Anggaran itu juga dipakai insentif pemakaman penderita Covid-19. Dari data yang ada anggaran jumbo ini diketahui tidak termasuk penanganan Covid-19 yang ada di RSUD RA Basoeni dan RSUD prof dr Soekandar Mojosari. Dua rumah sakit plat merah itu, diketahui juga melakukan pengajuan ke Bupati dengan nilai masing-masing Rp 14,1 miliar dan Rp 1,8 miliar.

Tahun ini, dinkes juga dinkes merupakan salah satu OPD yang memiliki kekuatan anggaran yang cukup besar dibanding lainnya. Lantaran menjadi garda terdepan dan masih menjadi skala perioritas utama pemerintah. Dari data yang ada, setidaknya dari kekuatan APBD 2021 sekitar Rp 2,6 triliun, dinkes digerojok sekitar Rp 203,4 miliar. Kendati begitu angka ini turun dari tahun lalu. Yakni capai Rp 250 Miliar dengan realisasi Rp 208 miliar.

SEMENTARA itu, menurunnya kasus Covid-19 membuat tingkat keterisian ruang isolasi di Kota dan Kabupaten Mojokerto mulai melandai. Bahkan, rumah sakit rujukan memilih untuk memangkas kapasitas ruangan dengan menonaktifkan puluhan tempat tidur (TT) yang sebelumnya khusus untuk merawat pasien terpapar korona.

Seperti di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto yang telah mengurangi seperempat dari total daya tampung di ruang isolasi. Sebelumnya, rumah sakit pelat merah ini memiliki 75 bed di ruang isolasi Covid-19 yang tersebar di tiga lantai. Namun, mulai Maret ini hanya 55 TT yang diaktifkan. ’’Ada 20 TT di satu lantai kita tutup, karena sekarang pasiennya sudah menurun,’’ terang Kabid Yanmed RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo dr Achmad Reza kemarin.

Baca Juga :  Kampus Unggulan, Gelar Wisuda Virtual

Menurutnya, ruang perawatan di lantai dasar tersebut dikembalikan lagi fungsinya untuk merawat pasien umum. Sebelumnya, RSUD sempat mengalihkan ruangan tersebut untuk menambah kapasitas di ruang isolasi. Mengingat, pada periode Desember-Januari lalu sempat mengalami overload akibat tingginya rujukan pasien Covid-19.

Namun, pada Februari jumlah pasien korona mulai berkurang. Bahkan, sejak digulirkan vaksinasi Covid-19 di Kota Mojokerto, angka paparan menurun cukup signifikan. ’’Sehingga kita harus evaluasi, akhirnya kita putuskan untuk mengurangi TT-nya di ruang isolasi karena pasien-pasien yang non-Covid-19 juga mulai bertambah,’’ tandasnya.

Dari 55 TT yang di ruang isolasi saat ini, 7 bed di antaranya khusus untuk ruang intensive care unit (ICU) Covid-19. Dari kapasitas tersebut, ujar Reza, tingkat keterisian juga tidak sampai membeludak. Per Minggu  (14/3) kemarin, jumlah total pasien Covid-19 yang masih menjalani perawatan sebanyak 28 orang. ’’Jadi tidak pernah sampai penuh. Bisanya hanya di ICU yang rata-rata terisi 5 sampai 6 pasien,’’ imbuhnya.

Dokter spesialis kandungan ini menambahkan, pengalihfungsian ruangan menjadi rawat inap pasien reguler hanya bersifat sementara. Sebab, pihaknya akan kembali mengubahnya menjadi ruang isolasi jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus Covid-19. Terlebih, ruang perawatan satu lantai itu sebelumnya telah dilakukan penataan dengan standar penanganan pasien Covid-19. Sehingga, ke depan tidak perlu melakukan penataan ulang. ’’Sementara kita pakai untuk ruang pasien non-Covid-19, tapi kalau ada perubahan meningkat ya kita pakai lagi,’’ pungkasnya.

Sementara itu, bed occuppancy rate (BOR) atau keterisian tempat tidur di ruang isolasi RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Kabupaten Mojokerto, juga mengalami penurunan tajam. Bahkan, dari total 100 TT pasien dewasa hanya terisi 20 persen saja. ’’Sudah jauh menurun, hari ini (kemarin) tinggal 20-an pasien,’’ sambung Direktur RSUD Prof dr Soekandar dr Djalu Naskutub.

Namun, pihaknya mengaku belum memutuskan untuk mengurangi kapasitas ruang isolasi. Djalu mengaku masih menunggu instruksi dari pemeritah pusat maupun Pemkab Mojokerto. Dengan demikian, empat lantai di satu gedung masih sepenuhnya difungsikan untuk perawatan pasien Covid-19.

Di samping itu, RSUD juga masih menyediakan 16 ruang isolasi khusus anak, ICU, serta ruang bedah Covid-19. ’’Sementara ruang isolasi masih tetap. Jadi belum kami ubah sampai menunggu instruksi dari pemerintah,’’ pungkas Djalu. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/