alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Dua Tahun Perpustakaan Mangkrak, Separo Koleksi Buku Rusak

MOJOKERTO – Pemkot Mojokerto harus memberi perhatian lebih pada sarana prasarana (sarpras) di lingkup pendidikan. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, sedikitnya ada tujuh lembaga yang mengalami kerusakan sedang hingga berat.

Salah satunya juga dialami di SDN Prajurit Kulon 1. Setidaknya, selama kurun waktu dua tahun ini siswa tidak lagi bisa mendapatkan akses pelayanan perpustakaan. Hal itu lantaran kondisi gedung yang mengalami kerusakan. Selain itu, tak kurang dari separo koleksi buku tidak bisa lagi digunakan karena sudah rusak.

Kondisi perpustakaan terlihat sudah tidak utuh lagi. Atap ruangannya ambruk total. Seperti genting, plafon, rangka kayu atap bangunan juga dibiarkan berserakan. Buku yang rusak juga tertumpuk begitu saja di gudang. Bahkan, di dalamnya sudah ditumbuhi tanaman liar. Sat ini, akses pintu masuk juga telah dikunci oleh pihak sekolah demi alasan keamanan siswa.

Baca Juga :  3 Orang Berebut Kursi Disbudporapar

Kepala SDN Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Pariyono mengungkapkan, kerusakan ruang perpustakaan terjadi sejak Oktober 2016 lalu. Menurutnya, saat itu kondisi bangunan dinilai masih cukup layak. Namun, tidak diketahui penyebabnya, tiba-tiba atap bangunan ambruk. ”Awalnya tidak ada tanda-tanda apa-apa,” jelasnya, kemarin.

Beruntung, kejadian ambruknya atap terebut itu terjadi saat sore hari, sehingga di lingkungan sekolah sedang tidak ada kegiatan pembelajaran. Pariyono menjelaskan, sebelumnya, koleksi buku perpustakaan sebagian besar terdiri dari buku pelajaran, mulai jenjang kelas I hingga kelas VI SD. Sedangkan sisanya merupakan buku bacaan umum.

Namun, pasca kejadian itu, tidak sedikit koleksi buku yang terimbas mengalami kerusakan. ”Buku-buku yang masih bisa diselamatkan kita simpan di ruang UKS dan di lantai atas,” terangnya. Sedangkan buku yang telah rusak ditaruh di gudang yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan.

Praktis, fungsi perpustakaan menjadi mangkrak selama dua tahun ini. Pasalnya, sekolah tidak memiliki lagi ruang pengganti lagi yang bisa digunakan untuk ruang membaca. ”Sejak saat itu ditutup. Tidak ada kegiatan sama sekali di perpus,” paparnya.

Baca Juga :  Pajak Kendaraan Bermotor Dihapus

Padahal, kata dia, perpustakaan merupakan salah satu fasilitas untuk menunjang pembelajaran siswa. ”Sebenarnya, semua mapel itu terkait dengan perpustakaan, karena banyak sumber ilmu yang didapat dari buku-buku,” paparnya.

Dia mengaku, pihak sekolah sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan (Dispedik) Kota Mojokerto. Selain itu, disusul dengan pengajuan proposal untuk rehabilitasi. Akan tetapi, menginjak tahun kedua ini, belum ada sinyal perbaikan di tahun ini. ”Saya belum dapat informasi, tapi sementara kita menunggu saja,” pungkasnya.

Dari data yang ditelusuri koran ini, kerusakan sarpras juga dialami di SDN Kedudung 1, SDN Surodinawan, SDN Blooto 1, SDN Blooto 2, dan SDN Kranggan 3, dan SDN Kranggan 4.

MOJOKERTO – Pemkot Mojokerto harus memberi perhatian lebih pada sarana prasarana (sarpras) di lingkup pendidikan. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, sedikitnya ada tujuh lembaga yang mengalami kerusakan sedang hingga berat.

Salah satunya juga dialami di SDN Prajurit Kulon 1. Setidaknya, selama kurun waktu dua tahun ini siswa tidak lagi bisa mendapatkan akses pelayanan perpustakaan. Hal itu lantaran kondisi gedung yang mengalami kerusakan. Selain itu, tak kurang dari separo koleksi buku tidak bisa lagi digunakan karena sudah rusak.

Kondisi perpustakaan terlihat sudah tidak utuh lagi. Atap ruangannya ambruk total. Seperti genting, plafon, rangka kayu atap bangunan juga dibiarkan berserakan. Buku yang rusak juga tertumpuk begitu saja di gudang. Bahkan, di dalamnya sudah ditumbuhi tanaman liar. Sat ini, akses pintu masuk juga telah dikunci oleh pihak sekolah demi alasan keamanan siswa.

Baca Juga :  3 Orang Berebut Kursi Disbudporapar

Kepala SDN Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Pariyono mengungkapkan, kerusakan ruang perpustakaan terjadi sejak Oktober 2016 lalu. Menurutnya, saat itu kondisi bangunan dinilai masih cukup layak. Namun, tidak diketahui penyebabnya, tiba-tiba atap bangunan ambruk. ”Awalnya tidak ada tanda-tanda apa-apa,” jelasnya, kemarin.

- Advertisement -

Beruntung, kejadian ambruknya atap terebut itu terjadi saat sore hari, sehingga di lingkungan sekolah sedang tidak ada kegiatan pembelajaran. Pariyono menjelaskan, sebelumnya, koleksi buku perpustakaan sebagian besar terdiri dari buku pelajaran, mulai jenjang kelas I hingga kelas VI SD. Sedangkan sisanya merupakan buku bacaan umum.

Namun, pasca kejadian itu, tidak sedikit koleksi buku yang terimbas mengalami kerusakan. ”Buku-buku yang masih bisa diselamatkan kita simpan di ruang UKS dan di lantai atas,” terangnya. Sedangkan buku yang telah rusak ditaruh di gudang yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan.

Praktis, fungsi perpustakaan menjadi mangkrak selama dua tahun ini. Pasalnya, sekolah tidak memiliki lagi ruang pengganti lagi yang bisa digunakan untuk ruang membaca. ”Sejak saat itu ditutup. Tidak ada kegiatan sama sekali di perpus,” paparnya.

Baca Juga :  Dewan Minta Pedagang Pasar Rakyat Didata Ulang

Padahal, kata dia, perpustakaan merupakan salah satu fasilitas untuk menunjang pembelajaran siswa. ”Sebenarnya, semua mapel itu terkait dengan perpustakaan, karena banyak sumber ilmu yang didapat dari buku-buku,” paparnya.

Dia mengaku, pihak sekolah sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan (Dispedik) Kota Mojokerto. Selain itu, disusul dengan pengajuan proposal untuk rehabilitasi. Akan tetapi, menginjak tahun kedua ini, belum ada sinyal perbaikan di tahun ini. ”Saya belum dapat informasi, tapi sementara kita menunggu saja,” pungkasnya.

Dari data yang ditelusuri koran ini, kerusakan sarpras juga dialami di SDN Kedudung 1, SDN Surodinawan, SDN Blooto 1, SDN Blooto 2, dan SDN Kranggan 3, dan SDN Kranggan 4.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/