alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Griaku dan Pasar Sayur Dongkrak Ekonomi Warga

Sebagai kawasan wisata, Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, tidak mau ketinggalan mendongkrak potensi yang ada di desa. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Pemerintah Desa Pacet berhasil menyulap taman bundaran menjadi pusat atau Gria Kuliner (Griaku).

Berdiri sejak 2018 akhir, Griaku yang sudah menjadi ikon Desa Pacet berhasil memberdayakan dan mengangkat perekonomian ratusan warga. Dari 20 lapak, ada 104 orang lebih yang dipekerjakan. Tiap lapaknya dibantu lima sampai tujuh orang. ’’Konsep kami memang bagaiamana BUMDes Pacet ini bisa menyejahterakan warga,’’ ungkap Kepala Desa Pacet Yadi Mustofa.

Buka pukul 10.00 sampai 22.00, menu kuliner yang disajikan juga lengkap. Mulai sate, gado-gado, nasi goreng, soto, lontong, hingga susu murni yang juga menjadi minuman favorit. Per hari, untuk susu rasa orisinal bisa tembus 1.000 kemasan.

Baca Juga :  Pohon Tumbang Timpa Warkop

Rasa menu di tiap stan kuliner juga tak perlu diragukan. Terbukti dengan serbuan pelanggan yang hadir tiap harinya. Khususnya Sabtu dan Minggu, banyak warga luar daerah yang datang untuk sekadar menikmati kuliner di tempat tersebut.

Dengan modal Rp 740 juta, kini omzet tiap bulannya sudah tembus Rp 300 juta lebih. Angka itu belum ditambah pendapatan dari sektor parkir. ’’Alhamdulillah jadi favorit wisatawan. Jika Rp 300 juta per bulan, kalau dirata-rata tiap stan bisa dapat Rp 15 juta per bulan,’’ tambah Ketua BUMDes Pacet Sugeng Siswantoro.

Tingginya konsumen secara otomatis juga berdampak pada suplai kebutuhan di tiap stannya. Warga yang belum terlibat akan ikut menikmati dengan melakukan suplai sayur, telur, dan kebutuhan pokok lainnya. ’’Secara ekonomi akhirnya banyak masyarakat yang ikut menikmati. Jadi saling keterkaitan satu dengan yang lainnya,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Fighting Tournament Airlangga Hartarto Cup 2022 Perebutkan Rp 2 Miliar

Optimalisasi di sektor pasar sayur juga berhasil. Pasar sayur milik BUMDes juga mampu mendongkrak perekonomian warga. Diisi 60 pedagang, perputaran ekonomi di pasar tersebut juga cukup fantastis, tembus Rp 300 juta per hari. ’’Pokoknya per hari per pedagang bisa dapat uang Rp 5 juta jika ramai. Kalau sepi rata-rata Rp 2-3 juta per hari per pedagang,’’ tandasnya.

Dengan konsep mobil parkir pasar sayur milik desa ini pukul 10.00 sampai 16.00. Sistemnya, para pedagang harus sewa lapak senilai Rp 4 juta per tahun. Minimal jangka waktu sewa selama tiga tahun. Kontribusi ke desa tiap lapak dikenakan retribusi Rp 5 ribu per hari. (ori/abi)

Sebagai kawasan wisata, Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, tidak mau ketinggalan mendongkrak potensi yang ada di desa. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Pemerintah Desa Pacet berhasil menyulap taman bundaran menjadi pusat atau Gria Kuliner (Griaku).

Berdiri sejak 2018 akhir, Griaku yang sudah menjadi ikon Desa Pacet berhasil memberdayakan dan mengangkat perekonomian ratusan warga. Dari 20 lapak, ada 104 orang lebih yang dipekerjakan. Tiap lapaknya dibantu lima sampai tujuh orang. ’’Konsep kami memang bagaiamana BUMDes Pacet ini bisa menyejahterakan warga,’’ ungkap Kepala Desa Pacet Yadi Mustofa.

Buka pukul 10.00 sampai 22.00, menu kuliner yang disajikan juga lengkap. Mulai sate, gado-gado, nasi goreng, soto, lontong, hingga susu murni yang juga menjadi minuman favorit. Per hari, untuk susu rasa orisinal bisa tembus 1.000 kemasan.

Baca Juga :  Penggendara Motor Tewas Dilibas Xenia

Rasa menu di tiap stan kuliner juga tak perlu diragukan. Terbukti dengan serbuan pelanggan yang hadir tiap harinya. Khususnya Sabtu dan Minggu, banyak warga luar daerah yang datang untuk sekadar menikmati kuliner di tempat tersebut.

Dengan modal Rp 740 juta, kini omzet tiap bulannya sudah tembus Rp 300 juta lebih. Angka itu belum ditambah pendapatan dari sektor parkir. ’’Alhamdulillah jadi favorit wisatawan. Jika Rp 300 juta per bulan, kalau dirata-rata tiap stan bisa dapat Rp 15 juta per bulan,’’ tambah Ketua BUMDes Pacet Sugeng Siswantoro.

Tingginya konsumen secara otomatis juga berdampak pada suplai kebutuhan di tiap stannya. Warga yang belum terlibat akan ikut menikmati dengan melakukan suplai sayur, telur, dan kebutuhan pokok lainnya. ’’Secara ekonomi akhirnya banyak masyarakat yang ikut menikmati. Jadi saling keterkaitan satu dengan yang lainnya,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Ning Ita Kawal Langsung Evaluasi Kinerja OPD
- Advertisement -

Optimalisasi di sektor pasar sayur juga berhasil. Pasar sayur milik BUMDes juga mampu mendongkrak perekonomian warga. Diisi 60 pedagang, perputaran ekonomi di pasar tersebut juga cukup fantastis, tembus Rp 300 juta per hari. ’’Pokoknya per hari per pedagang bisa dapat uang Rp 5 juta jika ramai. Kalau sepi rata-rata Rp 2-3 juta per hari per pedagang,’’ tandasnya.

Dengan konsep mobil parkir pasar sayur milik desa ini pukul 10.00 sampai 16.00. Sistemnya, para pedagang harus sewa lapak senilai Rp 4 juta per tahun. Minimal jangka waktu sewa selama tiga tahun. Kontribusi ke desa tiap lapak dikenakan retribusi Rp 5 ribu per hari. (ori/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/