alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Jadi Pembuka Pengukuhan Dewan Kebudayaan Kota Mojokerto

TAMPIL perdana di luar sekolah, grup karawitan Madyo Laras SMPN 9 (Spensem) Kota Mojokerto tampil luar biasa. Gending-gending yang dilantunkan empan sinden dengan iringan 11 pengrawit siswa-siswi SMPN 9 memukau undangan yang hadir di acara pengukuhan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto, Sabtu malam (4/2).

Karawitan Madyo Laras Spensem, mendapat kepercayaan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto, Amin Wachid S.Sos, M.Si, menjadi Among Tamu di acara yang digelar di Pendapa Rumah Rakyat (Rumah Dinas Wali Kota Mojokerto). Dibuka dengan tembang berjudul SMPN 9, siswa-siswi yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) sejak setahun lalu itu tampil percaya diri.

’’Keren….keren….terima kasih partisipasinya dari SMPN 9 Kota Mojokerto,’’ tutur Amin Wachid sembari mengacungkan kedua jempolnya saat menghampiri tempat tampil Karawitan Madyo Laras Spensem yang berada di sebelah kiri bagian pendapa.

Karawitan Madyo Laras merupakan salah satu kegiatan ekskul di SMPN 9 Kota Mojokerto. Usia ekskul Karawitan Madyo Laras tepat setahun diselenggrakan di sekolah yang berada di Jalan Semeru, Nomor 50, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini. ’’Ini penampilan perdana anak-anak ekskul karawitan di luar sekolah. Alhamdulillah bisa tampil  bagus. Ekstrakurikuler karawitan di bulan Februari ini tepat setahun usianya. Sejak saya dikukuhkan sebagai Kepala SMPN 9 pada 13 Januari 2020, saya melihat di sekolah ada fasilitas gamelan lengkap. Dan, di bulan Februari tahun lalu dimulai ada kegiatan karawitan untuk anak-anak,’’ kata Kepala SMPN 9 Kota Mojokerto Dra Evi Poespito Hany, M.Pd, saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto.

Baca Juga :  Isolasi 13 Hari, Bisa Dinyatakan Sembuh

Menurut Evi Poespito, animo siswa-siswi mengikuti kegiatan ekskul karawitan sangat bagus. SMPN 9 saat ini sudah memiliki dua kelompok grup ekskul karawitan. Masing-masing satu grup karawitan kelas 8 yang pengrawitnya terdiri sepuluh siswa laki-laki dengan empat sinden. Dan satu grup karawitan lainnya adalah kelas 7 yang pengrawitnya terdiri sepuluh murid perempuan dengan empat sinden.

’’Sedangkan yang tampil di acara Pengukuhan Dewan Kebudayaan (DPD) Kota malam ini (kemarin, Red) adalah tim gabungan terdiri dari lima pengrawit laki laki kelas 8 dan lima perempuan kelas 7. Sindennya juga diambil dari grup kelas 7. Saya bersyukur anak-anak tampil percaya diri,’’ ujar Evi.

Bercerita tentang ekskul karawitan, Evi mengungkapkan, dirinya sangat kagum dengan skill yang dimiliki anak didiknya. Saat awal dibentuk, setelah dua kali latihan anak-anak sudah bisa membawakan gending-gending dolanan. Jadwal latihan ekstra karawitan seminggu hanya sekali di hari Selasa. Latihan ditambah jika ada kegiatan tamu untuk lomba sekolah. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda dan siswa harus belajar di rumah, kegiatan latihan rutin dihentikan sementara.

Baca Juga :  Tenda Disapu Angin, Wabup Nyaris Celaka, Ini Fotonya

’’Selama pandemi anak-anak latihan menjelang ada kegiatan penjurian lomba di sekolah. Tapi semua dilaksanakan sesuai prokes dan seizin orang tua. Seperti saat menjelang tampil di Pengukuhan Dewan Kebudayaan Kota Mojokerto ini anak-anak latihan dua kali saja dengan durasi masing masing dua jam,’’ tambah Evi Poespito.

Terkait dengan langkahnya mengadakan ekskul karawitan, dipaparkan lebih jauh, selain dilatar belakangi adanya fasilitas gamelan di sekolah, juga didorong dengan keinginan menumbuhkembangkan rasa cinta Tanah Air melalui aktivitas nyata mencintai kebudayaan tradisional daerah. Hal itu selaras dengan visi SMPN 9 yang memiliki kepedulian terhadap budaya.

Di bidang budaya di SMPN 9, selain ekskul karawitan, juga dikembangkan ekskul tari yang hasilnya sudah beberapa kali tariannya ditampilkan di acara Pemkot Mojokerto. ’’Budaya tradisional daerah merupakan ciri dan identitas bangsa. Sehingga anak didik perlu diperkenalkan sekaligus menjadi pelaku sehingga warisan leluhur bisa terlestarikan,’’ tutup Evi Poespito. (ram)

TAMPIL perdana di luar sekolah, grup karawitan Madyo Laras SMPN 9 (Spensem) Kota Mojokerto tampil luar biasa. Gending-gending yang dilantunkan empan sinden dengan iringan 11 pengrawit siswa-siswi SMPN 9 memukau undangan yang hadir di acara pengukuhan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto, Sabtu malam (4/2).

Karawitan Madyo Laras Spensem, mendapat kepercayaan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto, Amin Wachid S.Sos, M.Si, menjadi Among Tamu di acara yang digelar di Pendapa Rumah Rakyat (Rumah Dinas Wali Kota Mojokerto). Dibuka dengan tembang berjudul SMPN 9, siswa-siswi yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) sejak setahun lalu itu tampil percaya diri.

’’Keren….keren….terima kasih partisipasinya dari SMPN 9 Kota Mojokerto,’’ tutur Amin Wachid sembari mengacungkan kedua jempolnya saat menghampiri tempat tampil Karawitan Madyo Laras Spensem yang berada di sebelah kiri bagian pendapa.

Karawitan Madyo Laras merupakan salah satu kegiatan ekskul di SMPN 9 Kota Mojokerto. Usia ekskul Karawitan Madyo Laras tepat setahun diselenggrakan di sekolah yang berada di Jalan Semeru, Nomor 50, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini. ’’Ini penampilan perdana anak-anak ekskul karawitan di luar sekolah. Alhamdulillah bisa tampil  bagus. Ekstrakurikuler karawitan di bulan Februari ini tepat setahun usianya. Sejak saya dikukuhkan sebagai Kepala SMPN 9 pada 13 Januari 2020, saya melihat di sekolah ada fasilitas gamelan lengkap. Dan, di bulan Februari tahun lalu dimulai ada kegiatan karawitan untuk anak-anak,’’ kata Kepala SMPN 9 Kota Mojokerto Dra Evi Poespito Hany, M.Pd, saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto.

Baca Juga :  Kaki Mengecil, Perut Membuncit, Nenek Tak Mampu Bawa ke Rumah Sakit

Menurut Evi Poespito, animo siswa-siswi mengikuti kegiatan ekskul karawitan sangat bagus. SMPN 9 saat ini sudah memiliki dua kelompok grup ekskul karawitan. Masing-masing satu grup karawitan kelas 8 yang pengrawitnya terdiri sepuluh siswa laki-laki dengan empat sinden. Dan satu grup karawitan lainnya adalah kelas 7 yang pengrawitnya terdiri sepuluh murid perempuan dengan empat sinden.

’’Sedangkan yang tampil di acara Pengukuhan Dewan Kebudayaan (DPD) Kota malam ini (kemarin, Red) adalah tim gabungan terdiri dari lima pengrawit laki laki kelas 8 dan lima perempuan kelas 7. Sindennya juga diambil dari grup kelas 7. Saya bersyukur anak-anak tampil percaya diri,’’ ujar Evi.

- Advertisement -

Bercerita tentang ekskul karawitan, Evi mengungkapkan, dirinya sangat kagum dengan skill yang dimiliki anak didiknya. Saat awal dibentuk, setelah dua kali latihan anak-anak sudah bisa membawakan gending-gending dolanan. Jadwal latihan ekstra karawitan seminggu hanya sekali di hari Selasa. Latihan ditambah jika ada kegiatan tamu untuk lomba sekolah. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda dan siswa harus belajar di rumah, kegiatan latihan rutin dihentikan sementara.

Baca Juga :  Sentra Surga Bunga Refugia

’’Selama pandemi anak-anak latihan menjelang ada kegiatan penjurian lomba di sekolah. Tapi semua dilaksanakan sesuai prokes dan seizin orang tua. Seperti saat menjelang tampil di Pengukuhan Dewan Kebudayaan Kota Mojokerto ini anak-anak latihan dua kali saja dengan durasi masing masing dua jam,’’ tambah Evi Poespito.

Terkait dengan langkahnya mengadakan ekskul karawitan, dipaparkan lebih jauh, selain dilatar belakangi adanya fasilitas gamelan di sekolah, juga didorong dengan keinginan menumbuhkembangkan rasa cinta Tanah Air melalui aktivitas nyata mencintai kebudayaan tradisional daerah. Hal itu selaras dengan visi SMPN 9 yang memiliki kepedulian terhadap budaya.

Di bidang budaya di SMPN 9, selain ekskul karawitan, juga dikembangkan ekskul tari yang hasilnya sudah beberapa kali tariannya ditampilkan di acara Pemkot Mojokerto. ’’Budaya tradisional daerah merupakan ciri dan identitas bangsa. Sehingga anak didik perlu diperkenalkan sekaligus menjadi pelaku sehingga warisan leluhur bisa terlestarikan,’’ tutup Evi Poespito. (ram)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/