alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Ribuan Popok Mengapung di Anak Kali Mas

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ribuan popok ditemukan mengapung di aliran sungai di bawah Jembatan, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Rabu (13/9). Selain membuat ekosistem rusak, popok sekali pakai ini dikhawatirkan menjadi sumber penyakit warga. Tak hanya menimbulkan bau menyengat. Tumpukan sampah tersebut dipastikan banyak mengandung kuman dan bakteri.

Koordinator Brigade Evakuasi Popok (BEP), Aziz, mengatakan, ribuan popok di aliran sungai membuatnya prihatin.

Tak hanya tingkat kesadaran masyarakat yang rendah, minimnya respons pemerintah dalam penanganan sampah popok tersebut juga disesalkan. ’’Tentu berpotensi merusak ekosistem sungai dan sumber penyakit. Bentar lagi musim hujan, dipastikan air akan naik dan masuk ke Kali Mas yang bermuara ke Surabaya,’’ ungkapnya.

Ia menjelaskan, dari temuan di lapangan, setidaknya ada sekitar seribu lebih popok berbagai merek itu terapung di aliran sungai yang menjadi anak Kali Mas Surabaya.

Pihaknya bersama tim mulai melakukan evakuasi popok. Popok tersebut nantinya akan diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto. Selain merusak ekosistem, kata Aziz, popok yang merupakan jenis sampah residu juga mengancam pencemaran sungai Surabaya yang belakangan diketahui dimanfaatkan oleh PDAM memenuhi kebutuhan air bersih di tiga daerah.

Baca Juga :  Truk Muatan Tepung Susu Terguling di Jembatan Brangkal

Yakni, Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. ’’Mungkin dampak nyata akan terasa saat musim hujan. Karena, popok akan terbawa arus sungai. Makanya, kita minta DLH melakukan penanganan cepat atas banyaknya sampah di aliran sungai di perbatasan,’’ terangnya. Meski, tumpukan sampah juga ditemukan di wilayah Mojosari, Pungging, dan Ngoro, nyatanya temuan popok terbanyak berada di Kali Kwangen, Desa Sidorejo, yang menjadi anak Sungai Kali Mas Surabaya.

 ’’Kurang lebih sudah ada 1.300 popok yang kita evakuasi,’’ ucapnya. Pihaknya berharap, agar pemerintah lebih serius dalam menangani sampah popok yang tak bisa didaur ulang. Pemerintah, lanjutnya, harus bergerak aktif dalam melakukan sosialisasi dan pengadaan tempat, serta meminta produsen untuk melakukan pengolahan.

Pemerintah juga harusnya berupaya menyediakan tempat dan fasilitas sebagai sarana prasarana terkait sampah popok yang tidak terkoordinir dengan baik dan benar. ’’Produsen pembuat popok juga harus bertangggung jawab atas limbah yang dihasilkan,’’ tegasnya.

Hal itu, lanjut Aziz, sudah diatur UU RI Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Tanggung jawab produsen itu di antaranya dengan mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mengelola popok sebelum dibuang ke tempat sampah misalnya. ’’Juga menyediakan kontainer sampah khusus popok,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Lima Jamaah Haji Dirawat Intensif di Rumah sakit

Sementara itu, Mariono, 57, warga setempat mengatakan, setiap kali musim kemarau Sugai Kwangen, anak sungai Kali Surabaya ini selalu penuh dengan sampah. ’’Yang membuang kebanyakan masyarakat luar sini,’’ ungkapnya. Pembuangan sampah pun kerap dilakukan pada dini hari. ’’Di saat masyarakat mau ke pasar. Ya, sekitar pukul 04.00 sampai 05.00,’’ terangnya.

Atas menumpuknya sampai di setiap musim kemarau, masyarakat desa sekitar sebelumnya juga sudah beberapa kali mengusulkan penanganan sampah di Sungai Kwangen ini.

Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak pemerintah desa. ’’Kalau DLH selalu siap dalam melayani pengelolaan sampah,’’ ungkap Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Zainul Arifin. Menurutnya, pihaknya akan mengoordinasikan dengan muspika dan perangkat desa setempat dalam hal penanganan. Sebab, kewenangan DLH atak lain pengambilan dari TPS ke TPA. Sebaliknya, masyarakat harus ikut bertanggung jawab mengelola sampah di masing-masing RT/RW maupun desa sebelum dibawa ke TPS.

Sehingga masing-masing lingkungan harus berkoordinasi dengan DLH dalam pengelolaan sampah. ’’Termasuk, pengadaan kontainer juga atas dasar permintaan dari pengelola sampah. Bisa desa, RW/RT atau kantor yang membutuhkan layanan dari kita,’’ tandasnya.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ribuan popok ditemukan mengapung di aliran sungai di bawah Jembatan, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Rabu (13/9). Selain membuat ekosistem rusak, popok sekali pakai ini dikhawatirkan menjadi sumber penyakit warga. Tak hanya menimbulkan bau menyengat. Tumpukan sampah tersebut dipastikan banyak mengandung kuman dan bakteri.

Koordinator Brigade Evakuasi Popok (BEP), Aziz, mengatakan, ribuan popok di aliran sungai membuatnya prihatin.

Tak hanya tingkat kesadaran masyarakat yang rendah, minimnya respons pemerintah dalam penanganan sampah popok tersebut juga disesalkan. ’’Tentu berpotensi merusak ekosistem sungai dan sumber penyakit. Bentar lagi musim hujan, dipastikan air akan naik dan masuk ke Kali Mas yang bermuara ke Surabaya,’’ ungkapnya.

Ia menjelaskan, dari temuan di lapangan, setidaknya ada sekitar seribu lebih popok berbagai merek itu terapung di aliran sungai yang menjadi anak Kali Mas Surabaya.

- Advertisement -

Pihaknya bersama tim mulai melakukan evakuasi popok. Popok tersebut nantinya akan diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto. Selain merusak ekosistem, kata Aziz, popok yang merupakan jenis sampah residu juga mengancam pencemaran sungai Surabaya yang belakangan diketahui dimanfaatkan oleh PDAM memenuhi kebutuhan air bersih di tiga daerah.

Baca Juga :  Telusuri Pemalsuan E-KTP, Pjs Bupati Terjunkan Inspektorat

Yakni, Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. ’’Mungkin dampak nyata akan terasa saat musim hujan. Karena, popok akan terbawa arus sungai. Makanya, kita minta DLH melakukan penanganan cepat atas banyaknya sampah di aliran sungai di perbatasan,’’ terangnya. Meski, tumpukan sampah juga ditemukan di wilayah Mojosari, Pungging, dan Ngoro, nyatanya temuan popok terbanyak berada di Kali Kwangen, Desa Sidorejo, yang menjadi anak Sungai Kali Mas Surabaya.

 ’’Kurang lebih sudah ada 1.300 popok yang kita evakuasi,’’ ucapnya. Pihaknya berharap, agar pemerintah lebih serius dalam menangani sampah popok yang tak bisa didaur ulang. Pemerintah, lanjutnya, harus bergerak aktif dalam melakukan sosialisasi dan pengadaan tempat, serta meminta produsen untuk melakukan pengolahan.

Pemerintah juga harusnya berupaya menyediakan tempat dan fasilitas sebagai sarana prasarana terkait sampah popok yang tidak terkoordinir dengan baik dan benar. ’’Produsen pembuat popok juga harus bertangggung jawab atas limbah yang dihasilkan,’’ tegasnya.

Hal itu, lanjut Aziz, sudah diatur UU RI Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Tanggung jawab produsen itu di antaranya dengan mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mengelola popok sebelum dibuang ke tempat sampah misalnya. ’’Juga menyediakan kontainer sampah khusus popok,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Satpol PP Kota Segel Rumah Kos Tak Berizin

Sementara itu, Mariono, 57, warga setempat mengatakan, setiap kali musim kemarau Sugai Kwangen, anak sungai Kali Surabaya ini selalu penuh dengan sampah. ’’Yang membuang kebanyakan masyarakat luar sini,’’ ungkapnya. Pembuangan sampah pun kerap dilakukan pada dini hari. ’’Di saat masyarakat mau ke pasar. Ya, sekitar pukul 04.00 sampai 05.00,’’ terangnya.

Atas menumpuknya sampai di setiap musim kemarau, masyarakat desa sekitar sebelumnya juga sudah beberapa kali mengusulkan penanganan sampah di Sungai Kwangen ini.

Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak pemerintah desa. ’’Kalau DLH selalu siap dalam melayani pengelolaan sampah,’’ ungkap Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Zainul Arifin. Menurutnya, pihaknya akan mengoordinasikan dengan muspika dan perangkat desa setempat dalam hal penanganan. Sebab, kewenangan DLH atak lain pengambilan dari TPS ke TPA. Sebaliknya, masyarakat harus ikut bertanggung jawab mengelola sampah di masing-masing RT/RW maupun desa sebelum dibawa ke TPS.

Sehingga masing-masing lingkungan harus berkoordinasi dengan DLH dalam pengelolaan sampah. ’’Termasuk, pengadaan kontainer juga atas dasar permintaan dari pengelola sampah. Bisa desa, RW/RT atau kantor yang membutuhkan layanan dari kita,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/