Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Penerima Vaksin Booster Didata Ulang

14 Januari 2022, 08: 10: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Penerima Vaksin Booster Didata Ulang

DICEK DULU: Seorang lansia menjalani skrining sebelum disuntik vaksin kedua di Puskesmas Blooto, kemarin. (Indah Oceananda/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto mendata ulang sasaran orang lanjut usia (lansia) yang akan mendapatkan vaksinasi lanjutan. Menyusul, bukti e-tiket vaksinasi dosis pertama dan kedua menjadi syarat sebelum mendapatkan suntikan dosis ketiga.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr Lily Nurlaily mengatakan di kota sebanyak 16.379 lansia menjadi sasaran prioritas vaksinasi lanjutan sesuai hasil sosialisasi Kemenkes. Namun, pihaknya belum bisa melaksanakan pemberian dosis ketiga itu lantaran, dari total tersebut belum semua lansia memiliki e-tiket vaksinasi dosis lengkap.

’’Sehingga, ini kita lakukan sweeping sekaligus pendataan ulang. Mana saja lansia yang sudah mendapatkan vaksin lengkap dan belum. Karena itu nanti berpengaruh dengan e-tiket yang menjadi syarat vaksinasi booster,’’ ulasnya, kemarin.

Baca juga: Rambu Peringatan dan Reflektor Dipasang

Lily melanjutkan, setelah pendataan, otomatis penyuntikan dosis ketiga bakal segera dilakukan. Apalagi, kata dia, kota sudah menyiapkan vaksin khusus dosis ketiga. Yakni, jenis Astra Zeneca dengan total sebanyak 110 vial.

’’Itu bisa digunakan untuk 2.200 dosis. Kalau data sudah masuk dan aplikasi P-care sudah siap langsung kita laksanakan. Karena juknis juga sudah turun tadi malam (kemarin) yang diprioritaskan lansia dan kelompok rentan,” ulasnya.

Lily menuturkan pemberian vaksinasi lanjutan ini berbeda dengan dosis pertama dan kedua. Sebab, ukuran yang disuntikkan saat vaksin booster ini hanya 1,5 dosis saja dari vaksin primer. Selain itu, pemberian vaksin booster harus memiliki interval atau jeda minimal enam bulan dari dosis kedua.

’’Dosisnya hanya setengah dari vaksin primer, karena efikasinya sama. Dan harapannya KIPI-nya dari vaksin ketiga ini bisa diminimalisir,’’ bebernya. Sedianya, pelaksanaan vaksinasi lanjutan hanya bisa dilakukan di faskes pemerintah. Seperti puskesmas dan rumah sakit umum daerah. (oce/fen)

(mj/OCE/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia