alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Terinspirasi sang Ayah, Sisipkan Nilai Karakter dan Agamis

Menjadi seorang pendidik bukan tugas mudah. Butuh kerja keras dan dedikasi tinggi dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa yang berkualitas. Khususnya, di lingkungan madrasah yang lebih menonjolkan akhlak dan sisi religius. Kerja keras itu lah yang berhasil diraih Husnuz Zaimah, hingga menyabet predikat guru madrasah berprestasi kedua tingkat nasional.

 

FARISMA ROMAWAN, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

 Jadilah guru yang selalu berkarya.

Karena, karya selalu abadi dan keabadian yang baik dan bermanfaat lah yang mengantarkan kita ke surga.

DUA kalimat yang selalu dipegang teguh dalam benak wanita 43 tahun ini setiap kali mengajar di kelas. Dua kalimat yang ia anggap sangat berarti lantaran ”diijazahi” langsung oleh orang tua sekaligus guru kehidupannya. Sebagai generasi penerus salah satu penyusun metode tilawati Alquran, Husnuz Zaimah, sangat menjaga betul warisan ilmu yang diberikan sang ayah.

Warisan tersebut yang sekaligus diyakini sebagai ramuan mujarab dalam meraih sejumlah prestasi mentereng sebagai pendidik. Termasuk ketika meraih predikat guru madrasah berprestasi kedua level nasional yang diberikan Kemenag pusat, 24 November lalu. Ya, guru MTs N 2 Mojokerto ini tak bisa melupakan apa yang sudah diucapkan ayahnya, KH Thohir Al Aly.

Baca Juga :  Pekan Ini, BLT Migor Segera Digelontor

Sejak ia memutuskan menjadi seorang pendidik, khususnya guru madrasah, Zaim begitu biasa Husnuz Zaimah disapa, selalu terngiang dengan prinsip yang sudah diajarkan orang tuanya itu. Bahkan, ia juga tak bisa meninggalkan sedikit pun amalan khusus yang sudah ”diijazahkan” sang abah sejak remaja. ’’Mungkin karena abah juga guru tilawati Alquran, jadi setiap surat yang diucapkan murid-muridnya atau yang mereka yang sempat diajar, juga turut mendoakan anak turunnya,’’ tuturnya.

Zaim sendiri tak menyangka dirinya bisa menyabet gelar tersebut. Meski sejak awal ia sudah menyiapkan dengan detail bahan ajar dan karya tulis ilmiah yang ia setorkan sesuai syarat penilaian yang dibebankan. Yakni, berupa penggunaan media komik sebagai bahan ajar efektif dalam memberikan materi jual beli pada mata pelajaran matematika tingkat MTs.

’’Sebenarnya sudah siap sejak tahun 2018. Tapi, karena saat itu penilaian bertepatan dengan jadwal berangkat haji, akhirnya tidak jadi ikut. Terus di tahun 2019 ini, saya coba ikut lagi,’’ tambahnya. Selain memanfaatkan media digital, terpilihnya Zaim juga tak lepas dari inovasinya dalam merangkai metode pembelajaran efektif selama lima tahun belakangan.

Baca Juga :  Monosodium Glutamat Menaikkan Selera Makan Lansia

Bahkan, di tahun 2017, ia berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Yakni, sebagai juara harapan 1 guru berprestasi kategori MTs tingkat Jatim, dan juara 1 lomba guru inovasi tingkat Kabupaten Mojokerto.

’’Sebenarnya saya mulai ikut lomba inovasi guru sejak tahun 2011. Saat itu masuk sebagai finalis di lomba media pembelajaran tekkomdik Dinas Pendidikan Jatim,’’ terang guru yang juga pengarang buku ini. Tidak hanya mahir dalam menciptakan metode pembelajaran, Zaim juga dikenal pandai menyisipkan nilai-nilai positif di setiap karya tulisnya.

Apalagi, statusnya sebagai pendidik di lingkungan madrasah, menuntut dirinya harus bisa memberikan nilai-nilai agamis kepada masing-masing siswa atau santri yang ia didik. Sehingga, kepribadian siswa terbentuk sesuai mental dan karakter yang kuat sebagai modal mengarungi masa depan yang cerah.

’’Karena setiap perangkat ajar guru hari ini harus disisipi dengan nilai karakter. Karena saya guru matematika, nggak melulu harus berupa angka. Misalnya, di materi jual beli, bisa kita beri pemahaman tentang 2,5 persen keuntungan untuk zakat,’’ pungkasnya.

Menjadi seorang pendidik bukan tugas mudah. Butuh kerja keras dan dedikasi tinggi dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa yang berkualitas. Khususnya, di lingkungan madrasah yang lebih menonjolkan akhlak dan sisi religius. Kerja keras itu lah yang berhasil diraih Husnuz Zaimah, hingga menyabet predikat guru madrasah berprestasi kedua tingkat nasional.

 

FARISMA ROMAWAN, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

 Jadilah guru yang selalu berkarya.

Karena, karya selalu abadi dan keabadian yang baik dan bermanfaat lah yang mengantarkan kita ke surga.

DUA kalimat yang selalu dipegang teguh dalam benak wanita 43 tahun ini setiap kali mengajar di kelas. Dua kalimat yang ia anggap sangat berarti lantaran ”diijazahi” langsung oleh orang tua sekaligus guru kehidupannya. Sebagai generasi penerus salah satu penyusun metode tilawati Alquran, Husnuz Zaimah, sangat menjaga betul warisan ilmu yang diberikan sang ayah.

- Advertisement -

Warisan tersebut yang sekaligus diyakini sebagai ramuan mujarab dalam meraih sejumlah prestasi mentereng sebagai pendidik. Termasuk ketika meraih predikat guru madrasah berprestasi kedua level nasional yang diberikan Kemenag pusat, 24 November lalu. Ya, guru MTs N 2 Mojokerto ini tak bisa melupakan apa yang sudah diucapkan ayahnya, KH Thohir Al Aly.

Baca Juga :  Pendekatan Psikologis Secara Daring, Wali Kelas jadi Host

Sejak ia memutuskan menjadi seorang pendidik, khususnya guru madrasah, Zaim begitu biasa Husnuz Zaimah disapa, selalu terngiang dengan prinsip yang sudah diajarkan orang tuanya itu. Bahkan, ia juga tak bisa meninggalkan sedikit pun amalan khusus yang sudah ”diijazahkan” sang abah sejak remaja. ’’Mungkin karena abah juga guru tilawati Alquran, jadi setiap surat yang diucapkan murid-muridnya atau yang mereka yang sempat diajar, juga turut mendoakan anak turunnya,’’ tuturnya.

Zaim sendiri tak menyangka dirinya bisa menyabet gelar tersebut. Meski sejak awal ia sudah menyiapkan dengan detail bahan ajar dan karya tulis ilmiah yang ia setorkan sesuai syarat penilaian yang dibebankan. Yakni, berupa penggunaan media komik sebagai bahan ajar efektif dalam memberikan materi jual beli pada mata pelajaran matematika tingkat MTs.

’’Sebenarnya sudah siap sejak tahun 2018. Tapi, karena saat itu penilaian bertepatan dengan jadwal berangkat haji, akhirnya tidak jadi ikut. Terus di tahun 2019 ini, saya coba ikut lagi,’’ tambahnya. Selain memanfaatkan media digital, terpilihnya Zaim juga tak lepas dari inovasinya dalam merangkai metode pembelajaran efektif selama lima tahun belakangan.

Baca Juga :  Monosodium Glutamat Menaikkan Selera Makan Lansia

Bahkan, di tahun 2017, ia berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Yakni, sebagai juara harapan 1 guru berprestasi kategori MTs tingkat Jatim, dan juara 1 lomba guru inovasi tingkat Kabupaten Mojokerto.

’’Sebenarnya saya mulai ikut lomba inovasi guru sejak tahun 2011. Saat itu masuk sebagai finalis di lomba media pembelajaran tekkomdik Dinas Pendidikan Jatim,’’ terang guru yang juga pengarang buku ini. Tidak hanya mahir dalam menciptakan metode pembelajaran, Zaim juga dikenal pandai menyisipkan nilai-nilai positif di setiap karya tulisnya.

Apalagi, statusnya sebagai pendidik di lingkungan madrasah, menuntut dirinya harus bisa memberikan nilai-nilai agamis kepada masing-masing siswa atau santri yang ia didik. Sehingga, kepribadian siswa terbentuk sesuai mental dan karakter yang kuat sebagai modal mengarungi masa depan yang cerah.

’’Karena setiap perangkat ajar guru hari ini harus disisipi dengan nilai karakter. Karena saya guru matematika, nggak melulu harus berupa angka. Misalnya, di materi jual beli, bisa kita beri pemahaman tentang 2,5 persen keuntungan untuk zakat,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/