alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Krisis Air Bersih, Warga Manfaatkan Air Sungai

MOJOKERTO – Kekeringan dan krisis air bersih berkepanjangan melanda sebagian wilayah Kabupaten Mojokerto terus meluas. Terbaru, hal ini dialami warga di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang.

Setidaknya, dalam dua bulan terkahir ini warga setempat mengeluhkan minimnya air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sumur maupun sumber air selama ini menjadi tumpuan, belakangan mengering seiring musim kemarau panjang.

Selain itu, menjamurnya aktivitas galian C (sirtu) diduga ilegal di sepanjang aliran sungai turut menjadi salah satu penyebab menyusutnya pasokan air bersih. Sehingga, dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka rela mengangsu (memanfaatkan) air sungai setempat.

Hanya untuk sekadar mandi saja, warga harus rela mengais air di sungai. ’’Mau ambil air dibuat mandi,’’ ungkap Triono, di tengah memasukkan air menggunakan jeriken.

Menurutnya, hampir setiap hari dia dan warga lainnya melakukan rutinitas mengambil air sungai. Sebab, sudah dua bulan ini, sumur di pemukiman warga mengering alias tidak mengeluarkan sumber air bersih lagi.

Baca Juga :  Siswa Gelar Salat Gaib untuk sang Teladan Bangsa, Doakan Mbah Maimoen

Dengan demikian, untuk memenuhi hajat hidup sehari-hari, seperti memasak, minum, dan MCK (mandi, cuci, kakus) mau tak mau mereka harus memanfaatkan air sungai.

’’Sehari tiga kali. Tapi, tidak pasti juga, menyesuaikan kebutuhan. Kalau persediaan di rumah habis ya ambil lagi ke sini,’’ terangnya. Satunah, warga lainnya menambahkan, selama ini, sungai memang menjadi satu-satu sumber air yang dimanfaatkan warga.

’’Kalau tidak ambil air ke sungai, buat masak dan mencuci pakai apa,’’ tegasnya. Dia mengaku krisis air bersih melanda desanya baru kali pertama terjadi. Selain faktor musim kemarau panjang, aktivitas galian C tidak jauh dari lingkungan warga turut menyumbang mengeringnya sumur warga.

’’Sebelumnya tidak pernah. Sejak ada alat berat (backhoe) menggali akhir-akhir ini, sumbernya mengering,’’ tuturnya. Tak hanya air sumur warga. Galian C diduga ilegal dilakukan di sepanjang aliran sungai menyebabkan pasokan air untuk lahan pertanian menyusut.

Baca Juga :  Sulit Rapid Antigen, Stasiun Sepi

Petani mengeluh pasokan airnya sudah tidak selancar sebelumnya. ’’Air jadi keruh. Hasil panen juga menurun,’’ tambah Supami, warga lainnya. Beruntung, kekurangan air bersih di desanya sudah mendapat perhatian pemerintah daerah dan tim relawan.

Dengan membantu pasokan air bersih menggunakan mobil tangki.’’Alhamdulillah, dua hari sekali sudah ada bantuan air bersih,’’ tuturnya. Warga berharap pihak terkait segera mengambil langkah agar kekeringan di Desa Jatidukuh tidak berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Mochamad Zaini menyatakan, kekurangan air bersih di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang bukan tergolong bencana kekeringan, melainkan sebatas mengalami krisis air bersih.

’’Buktinya, masyarakat bisa mengambil air sungai untuk keperluan mandi,’’ tuturnya. Dia mengaku dalam memenuhi kebutuhan air bersih, secara periodik, BPBD telah melakukan dropping air bersih.

Setiap hari, petugas menambah jumlah dropping air bersih di wilayahnya. ’’Sekarang menjadi delapan tangki dari sebelumnya empat tangki. Bantuan tandon juga sudah kita cukupi,’’ papar Zaini.

 

MOJOKERTO – Kekeringan dan krisis air bersih berkepanjangan melanda sebagian wilayah Kabupaten Mojokerto terus meluas. Terbaru, hal ini dialami warga di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang.

Setidaknya, dalam dua bulan terkahir ini warga setempat mengeluhkan minimnya air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sumur maupun sumber air selama ini menjadi tumpuan, belakangan mengering seiring musim kemarau panjang.

Selain itu, menjamurnya aktivitas galian C (sirtu) diduga ilegal di sepanjang aliran sungai turut menjadi salah satu penyebab menyusutnya pasokan air bersih. Sehingga, dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka rela mengangsu (memanfaatkan) air sungai setempat.

Hanya untuk sekadar mandi saja, warga harus rela mengais air di sungai. ’’Mau ambil air dibuat mandi,’’ ungkap Triono, di tengah memasukkan air menggunakan jeriken.

- Advertisement -

Menurutnya, hampir setiap hari dia dan warga lainnya melakukan rutinitas mengambil air sungai. Sebab, sudah dua bulan ini, sumur di pemukiman warga mengering alias tidak mengeluarkan sumber air bersih lagi.

Baca Juga :  Kameranya Seharga Mobil Mercy, Kini Tak Diminati Lagi

Dengan demikian, untuk memenuhi hajat hidup sehari-hari, seperti memasak, minum, dan MCK (mandi, cuci, kakus) mau tak mau mereka harus memanfaatkan air sungai.

’’Sehari tiga kali. Tapi, tidak pasti juga, menyesuaikan kebutuhan. Kalau persediaan di rumah habis ya ambil lagi ke sini,’’ terangnya. Satunah, warga lainnya menambahkan, selama ini, sungai memang menjadi satu-satu sumber air yang dimanfaatkan warga.

’’Kalau tidak ambil air ke sungai, buat masak dan mencuci pakai apa,’’ tegasnya. Dia mengaku krisis air bersih melanda desanya baru kali pertama terjadi. Selain faktor musim kemarau panjang, aktivitas galian C tidak jauh dari lingkungan warga turut menyumbang mengeringnya sumur warga.

’’Sebelumnya tidak pernah. Sejak ada alat berat (backhoe) menggali akhir-akhir ini, sumbernya mengering,’’ tuturnya. Tak hanya air sumur warga. Galian C diduga ilegal dilakukan di sepanjang aliran sungai menyebabkan pasokan air untuk lahan pertanian menyusut.

Baca Juga :  Sulit Rapid Antigen, Stasiun Sepi

Petani mengeluh pasokan airnya sudah tidak selancar sebelumnya. ’’Air jadi keruh. Hasil panen juga menurun,’’ tambah Supami, warga lainnya. Beruntung, kekurangan air bersih di desanya sudah mendapat perhatian pemerintah daerah dan tim relawan.

Dengan membantu pasokan air bersih menggunakan mobil tangki.’’Alhamdulillah, dua hari sekali sudah ada bantuan air bersih,’’ tuturnya. Warga berharap pihak terkait segera mengambil langkah agar kekeringan di Desa Jatidukuh tidak berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Mochamad Zaini menyatakan, kekurangan air bersih di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang bukan tergolong bencana kekeringan, melainkan sebatas mengalami krisis air bersih.

’’Buktinya, masyarakat bisa mengambil air sungai untuk keperluan mandi,’’ tuturnya. Dia mengaku dalam memenuhi kebutuhan air bersih, secara periodik, BPBD telah melakukan dropping air bersih.

Setiap hari, petugas menambah jumlah dropping air bersih di wilayahnya. ’’Sekarang menjadi delapan tangki dari sebelumnya empat tangki. Bantuan tandon juga sudah kita cukupi,’’ papar Zaini.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/