alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Sunday, June 26, 2022

Kurang Gerak Picu Datangnya Penyakit Pada Usia Produktif

PERKEMBANGAN teknologi cukup berpengaruh pada kesehatan. Terlebih kalangan usia produktif. Kurangnya aktivitas fisik karena dimanjakan dengan gadget dan kendaraan bermotor, menjadikan mereka rentan terpapar penyakit. Mulai hipertensi, diabetes, hingga gangguan pembuluh darah yang berakibat stroke.

’’Trennya untuk remaja memang penyakit-penyakit yang tidak menular. Seperti hipertensi, terus ada beberapa yang anemia, kekurangan zat besi, kencing manis, dan gangguan pembulu darah,’’ ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Agus Dwi Cahyono, kemarin.

Sejumlah faktor jadi pemicu, yang utama tak lain karena pola hidup yang berubah. Jika dulu banyak remaja yang aktif bergerak, berolah raga, kini cenderung diam saja. Banyak dimanjakan dengan teknologi, seperti handphone dan komputer, termasuk kendaraan bermotor.

Sehingga, lambat laun, kondisi itu membuat peredaran darah kurang lancar. ’’Imbasnya, timbul penyakit pembulu darah, dari syaraf tepi yang mulai banyak. Akhirnya bahayanya saat tua bisa menimbulkan stroke dan kanker,’’ tegasnya.

Sejumlah tanda-tanda kerap ditemui. Mulai kerap kesemutan, mudah capek, hingga kaku pada jari jemari. ’’Kekurangan minum juga berdampak pada peredaran darah yang kurang maksimal, utamanya ke ginjal, selain lemas, juga pengaruh ke anemia,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Hewan Kurban Terserang Penyakit, Disperta Sebut Masih Layak Dikonsumsi

Sesuai data dinkes, tahun lalu, tercatat ada 6.397 anak yang terjangkit anemia. Terutama untuk wanita lantaran darahnya banyak terbuang melalui menstruasi. ’’Jadi itu kalau tidak diimbangi dengan zat besi yang cukup, atau makanan bergizi, anemia ini akan berpengaruh. Jika hamil, anaknya jadi kurang gizi. Pengaruhnya pada kesehatan imun tubuh,’’ paparnya.

Pun demikian dengan hipertensi, tercatat tembus 53.441 orang. Angka itu terhitung dalam kurun waktu Januari sampai Mei 2022. Trennya pun mengalami naik turun. Jika Januari tercatat ada 10.023 orang, di Februari ada 9.884 orang. Sedangkan Maret-April, masing-masing 11.198 orang dan 12.764 orang.

Sebaliknya, Mei, ada 9.572 orang. Sementara itu, untuk penyakit masalah telinga dan mata selama lima bulan terakhir untuk usia 29 hari sampai 44 tahun, tercatat ada total 1.238 kasus. ’’Untuk diabetes melitus sesuai data di Januari sampai Mei ada 8.041 kasus untuk usia 17-35 tahun,’’ terangnya.

Baca Juga :  Ratusan CJH Belum Vaksin

Kondisi ini berbanding terbalik saat teknologi tak banyak mewabah. Lanjut Agus, ke mana-mana masih menggunakan sepeda angin, bahkan jalan kaki. Secara otomatis akan berpengaruh terhadap kesehatan. ’’Kalau sekarang, semua juga sudah pada instan. Semuanya ada di handphone, makan apa tinggal tekan di handphone, tidak pakai gerak,’’ bebernya.

Seharusnya, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, masyarakat harus tetap memperhatikan pola hidup sehat melalui gerakan cerdik. Cek kesehatan secara berkala, hindari merokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup dan kelola stres.

Idealnya, lanjut Agus, aktivitas tubuh ringan tiap harinya selama 30 menit atau 150 menit seminggu. ’’Aktivitas ringan itu tidak melulu olah raga, tapi menggerakkan tubuh sampai berkeringat. Contohnya jalan kaki, bersih-bersih rumah, taman, kebun, itu termasuk aktivitas fisik. Tapi lebih baik lagi olahraga, lari-lari, atau gowes, 30 menit selesai,’’ jelas mantan Kepala Puskesmas Pungging ini. (ori/ron)

PERKEMBANGAN teknologi cukup berpengaruh pada kesehatan. Terlebih kalangan usia produktif. Kurangnya aktivitas fisik karena dimanjakan dengan gadget dan kendaraan bermotor, menjadikan mereka rentan terpapar penyakit. Mulai hipertensi, diabetes, hingga gangguan pembuluh darah yang berakibat stroke.

’’Trennya untuk remaja memang penyakit-penyakit yang tidak menular. Seperti hipertensi, terus ada beberapa yang anemia, kekurangan zat besi, kencing manis, dan gangguan pembulu darah,’’ ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Agus Dwi Cahyono, kemarin.

Sejumlah faktor jadi pemicu, yang utama tak lain karena pola hidup yang berubah. Jika dulu banyak remaja yang aktif bergerak, berolah raga, kini cenderung diam saja. Banyak dimanjakan dengan teknologi, seperti handphone dan komputer, termasuk kendaraan bermotor.

Sehingga, lambat laun, kondisi itu membuat peredaran darah kurang lancar. ’’Imbasnya, timbul penyakit pembulu darah, dari syaraf tepi yang mulai banyak. Akhirnya bahayanya saat tua bisa menimbulkan stroke dan kanker,’’ tegasnya.

Sejumlah tanda-tanda kerap ditemui. Mulai kerap kesemutan, mudah capek, hingga kaku pada jari jemari. ’’Kekurangan minum juga berdampak pada peredaran darah yang kurang maksimal, utamanya ke ginjal, selain lemas, juga pengaruh ke anemia,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Digelar secara Online dan Gratis

Sesuai data dinkes, tahun lalu, tercatat ada 6.397 anak yang terjangkit anemia. Terutama untuk wanita lantaran darahnya banyak terbuang melalui menstruasi. ’’Jadi itu kalau tidak diimbangi dengan zat besi yang cukup, atau makanan bergizi, anemia ini akan berpengaruh. Jika hamil, anaknya jadi kurang gizi. Pengaruhnya pada kesehatan imun tubuh,’’ paparnya.

- Advertisement -

Pun demikian dengan hipertensi, tercatat tembus 53.441 orang. Angka itu terhitung dalam kurun waktu Januari sampai Mei 2022. Trennya pun mengalami naik turun. Jika Januari tercatat ada 10.023 orang, di Februari ada 9.884 orang. Sedangkan Maret-April, masing-masing 11.198 orang dan 12.764 orang.

Sebaliknya, Mei, ada 9.572 orang. Sementara itu, untuk penyakit masalah telinga dan mata selama lima bulan terakhir untuk usia 29 hari sampai 44 tahun, tercatat ada total 1.238 kasus. ’’Untuk diabetes melitus sesuai data di Januari sampai Mei ada 8.041 kasus untuk usia 17-35 tahun,’’ terangnya.

Baca Juga :  Ratusan CJH Belum Vaksin

Kondisi ini berbanding terbalik saat teknologi tak banyak mewabah. Lanjut Agus, ke mana-mana masih menggunakan sepeda angin, bahkan jalan kaki. Secara otomatis akan berpengaruh terhadap kesehatan. ’’Kalau sekarang, semua juga sudah pada instan. Semuanya ada di handphone, makan apa tinggal tekan di handphone, tidak pakai gerak,’’ bebernya.

Seharusnya, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, masyarakat harus tetap memperhatikan pola hidup sehat melalui gerakan cerdik. Cek kesehatan secara berkala, hindari merokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup dan kelola stres.

Idealnya, lanjut Agus, aktivitas tubuh ringan tiap harinya selama 30 menit atau 150 menit seminggu. ’’Aktivitas ringan itu tidak melulu olah raga, tapi menggerakkan tubuh sampai berkeringat. Contohnya jalan kaki, bersih-bersih rumah, taman, kebun, itu termasuk aktivitas fisik. Tapi lebih baik lagi olahraga, lari-lari, atau gowes, 30 menit selesai,’’ jelas mantan Kepala Puskesmas Pungging ini. (ori/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/