alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Takut Mati, Diobral dengan Harga Murah

Peternak Ramai-Ramai Jual Sapi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Merelakan sapi terjual murah, menjadi hal lumrah bagi sebagian warga Desa Suru. Mereka memilih rugi daripada ternaknya mati sia-sia. Sebab, tak jarang sapi dalam kondisi sakit itu hanya mampu laku dengan harga sangat rendah.

Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat kalangan peternak di desa di Kecamatan Dawarblandong tersebut panik. Selama dua minggu terakhir, sekitar 100 sapi tercatat telah terjangkit PMK. Setelah sempat tak doyan makan karena mulutnya ’’rusak”, kini rata-rata tinggal kuku yang bernanah.

Sampai tiba saatnya, ketika dua ekor sapi mati dalam dua hari berturut-turut. Yakni Senin (9/5) dan Selasa (10/5). Kejadian itu membuat peternak khawatir dan berbondong-bondong menjual ternaknya. Mereka takut penyakit sapi yang sudah dirawat dan sedang sakit itu bakal ikut mati sia-sia. ”Punya saya yang satu sudah mati. Ini tinggal satu saya jual,” kata Sundari, salah satu peternak.

Setelah seminggu sakit, Rabu (11/5) lalu sapi simental berumur dua tahun miliknya diangkut blantik. Sapi yang kakinya bernanah dan jika berdiri gemetaran itu terjual Rp 20 juta. ”Kalau normalnya bisa Rp 30 juta,” imbuhnya.

Dia mengaku rela menjual murah sapi satu-satunya yang tersisa lantaran panik. Sebab, kondisi sapi tampak semakin parah. Napasnya berat. ”Sebenarnya eman, tapi berhubung khawatir itu. Daripada mati kan lumayan (dijual murah, Red” jelasnya perempuan 40 tahun tersebut. Sundari mengaku bakal menggunakan uangnya untuk membeli sapi lagi. Tapi tidak dalam waktu dekat. Selama teror PMK masih merebak, dia lebih memilih menabung uangnya.

Demikian juga diungkapkan Usiah. Pemilik kandang yang terpisah sekitar 100 meter dari lokasi Sundari itu juga tak mau buru-buru beli sapi lagi. Dua ekor sapi miliknya yang terinfeksi PMK telah dijual tak lama setelah mendapat suntikan obat untuk kali pertama dari Disperta Kabupaten Mojokerto Senin (9/5) lalu. Keduanya laku Rp 9 juta. Lebih murah dari harga pasar yang seharusnya. Dia takut jika sapinya mati bakal lebih merugi lagi. ”Katanya dokter tidak boleh dijual. Pokoknya telaten dua minggu sembuh, tapi saya panik,” ungkapnya.

Baca Juga :  PDAM Dropping Air Bersih di Tiga Kecamatan

Tak hanya dijual murah, peternak bahkan rela jual rugi. Bagaimana tidak, sapi yang empat bulan lalu baru dibeli dengan harga Rp 18 juta, kini hanya dihargai Rp 12,5 juta. Pilihan itu diambil Jijir, peternak lain lantaran alasan yang sama. ”Sore ini diambil sama pembelinya,” kata dia.

Rumadi, Ketua Kelompok Tani Tenanan Dusun/Desa Suru menyebut, beberapa hari terakhir memang tampak lalu lalang truk dan pikap mengangkut sapi milik anggotanya. Dia mengaku tak tahu berapa jumlah pasti sapi terinfeksi PMK yang dijual. Kendati demikian, hal itu menurutnya juga ditemukan di desa lain seperti Desa Bangeran. ”Selama ini saya juga sudah koar-koar kalau tidak bahaya. Padahal juga cuma mati dua,” ucapnya.

Kelompoknya memiliki anggota sekitar 127 orang dengan jumlah sapi ternak mencapai 300-an ekor. Kepada peternak, dia berusaha meneruskan sosialisasi dan pemahaman dari dinas terkait, jika penyakit tersebut dapat disembuhkan. Kuncinya yakni telaten merawat hewan dan memberikan obat-obatan. Sejauh ini, pemerintah juga berupaya untuk melakukan pengendalian dan pendampingan dengan penyuntikan obat hingga penyemprotan.

DICEK: Petugas kepolisian tengah memeriksa sejumlah muatan truk yang melintas di wilayah Trowulan dan Ngoro, Selasa (10/5) malam.

Pantau Jalur Tikus, Muatan Daging Boleh Lewat

Penyekatan terhadap angkutan pembawa ternak tidak hanya fokus dilakukan di jalan poros perbatasan antardaerah. Kepolisian turut memelototi jalur tikus yang berpotensi dilewati sejumlah pengemudi truk bermuatan hewan sejenis sapi tersebut.

Kasatlantas Polres Mojokerto AKP Arpan menerangkan, dalam mengoptimalkan upaya preventif persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi itu, petugas gabungan dari polsek dan polres disiagakan di empat titik checkpoint. Yakni, di wilayah Trowulan, Ngoro, Trawas, dan Mojosari. Belasan personel yang disiagakan diharapkan mampu mengantisipasi masuknya hewan ruminansia dari daerah lain.

’’Untuk jalur tikus ini kami sesuaikan dengan masing-masing polsek. Misalnya perbatasan Mojokerto-Jombang, Polsek Trowulan yang melakukan pemetaan. Yang jelas, jalur yang masih bisa dilalui kendaraan pikap dan truk saja yang kami awasi,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut, penyekatan hanya berlaku bagi angkutan pembawa ternak hidup. Artinya, itu tidak berlaku bagi kendaraan bermuatan daging beku. Sebab, petugas fokus menghalau terjadinya lalu lintas perdagangan ternak berkuku belah sejak PMK mewabah di Kabupaten Mojokerto. ’’Kalau truk pendingin muatan daging beku masih boleh lewat. Karena memang virus itu menyerang hewan ternak yang masih hidup,’’ sebutnya.

Baca Juga :  DPRD Bersemangat saat Bahas Gaji Sendiri

Sejak kali pertama digelar Selasa (10/5) malam, petugas belum mendapati adanya angkutan pembawa ternak yang melintasi jalur perbatasan. Baik masuk maupun keluar Mojokerto. Arpan mengatakan, penyekatan bakal terus digelar hingga waktu yang masih belum ditentukan. ’’Belum ditentukan sampai kapan. Kemungkinan besar sampai kondisi (wabah PMK) membaik,’’ tandasnya.

Sementara itu, Pemkab Mojokerto memutuskan menutup sementara alias me-lockdown enam pasar hewan guna mengantisipasi meluasnya penularan PMK. Pasar hewan Ngrame, Pandanarum, Pohjejer, Dinoyo, Sawahan, dan Mojodadi ditutup sejak 8 Mei hingga 6 Juni mendatang. Namun Rabu (11/5) pagi, sejumlah pedagang ternak kambing ngeyel berjualan di Pasar Hewan Ngrame. ’’Sekarang pasarannya Pahing, jadi di sini buat jualan kambing,’’ ujar Satubi, salah seorang pedagang dan peternak kambing.

Dikatakannya, dia dan sejumlah rekannya nekat berjualan lantaran ternak kambing dinilai tidak terjangkit PMK. Sebab, sejauh ini masih belum ada kasus ternak kambing terserang virus tersebut. Dari 100 ekor kambing miliknya, hingga saat ini kondisinya sehat dan terbilang aman dari PMK. ’’Masih aman dan sehat semua, kambingnya teman-teman juga begitu. Gak ada yang sakit,’’ katanya.

Tak pelak, pihaknya bersuara agar para pedagang dan peternak kambing bisa tetap berjualan. Apalagi saat itu, 15 ekor kambing yang dibawanya masih utuh alias belum laku sama sekali. ’’Kalau begini ya rugi ongkos, rugi semuanya. Soalnya kan ini kambing, dampaknya PMK ini kan di ternak sapi. Kalau bisa kambing diusahakan tetap buka, karena masyarakat kecil ini kan kasihan kalau tidak bisa jualan,’’ tandasnya.

Sejumlah pedagang akhirnya dibubarkan usai petugas Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto kembali menyosialisasikan soal PMK dan penutupan pasar hewan sementara ini. ’’Sebenarnya sudah kami sosialisasikan bahwa tanggal 8 Mei sampai 6 Juni pasar hewan kita tutup sementara. Sudah kami sosialisasikan ke kandang-kandang juga. Sekaligus kalau kambing ini berpotensi tertular PMK sama seperti sapi karena sama-sama jenis ruminansia berkuku belah,’’ ujar Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah. (adi/vad/ron)

Peternak Ramai-Ramai Jual Sapi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Merelakan sapi terjual murah, menjadi hal lumrah bagi sebagian warga Desa Suru. Mereka memilih rugi daripada ternaknya mati sia-sia. Sebab, tak jarang sapi dalam kondisi sakit itu hanya mampu laku dengan harga sangat rendah.

Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat kalangan peternak di desa di Kecamatan Dawarblandong tersebut panik. Selama dua minggu terakhir, sekitar 100 sapi tercatat telah terjangkit PMK. Setelah sempat tak doyan makan karena mulutnya ’’rusak”, kini rata-rata tinggal kuku yang bernanah.

Sampai tiba saatnya, ketika dua ekor sapi mati dalam dua hari berturut-turut. Yakni Senin (9/5) dan Selasa (10/5). Kejadian itu membuat peternak khawatir dan berbondong-bondong menjual ternaknya. Mereka takut penyakit sapi yang sudah dirawat dan sedang sakit itu bakal ikut mati sia-sia. ”Punya saya yang satu sudah mati. Ini tinggal satu saya jual,” kata Sundari, salah satu peternak.

Setelah seminggu sakit, Rabu (11/5) lalu sapi simental berumur dua tahun miliknya diangkut blantik. Sapi yang kakinya bernanah dan jika berdiri gemetaran itu terjual Rp 20 juta. ”Kalau normalnya bisa Rp 30 juta,” imbuhnya.

Dia mengaku rela menjual murah sapi satu-satunya yang tersisa lantaran panik. Sebab, kondisi sapi tampak semakin parah. Napasnya berat. ”Sebenarnya eman, tapi berhubung khawatir itu. Daripada mati kan lumayan (dijual murah, Red” jelasnya perempuan 40 tahun tersebut. Sundari mengaku bakal menggunakan uangnya untuk membeli sapi lagi. Tapi tidak dalam waktu dekat. Selama teror PMK masih merebak, dia lebih memilih menabung uangnya.

- Advertisement -

Demikian juga diungkapkan Usiah. Pemilik kandang yang terpisah sekitar 100 meter dari lokasi Sundari itu juga tak mau buru-buru beli sapi lagi. Dua ekor sapi miliknya yang terinfeksi PMK telah dijual tak lama setelah mendapat suntikan obat untuk kali pertama dari Disperta Kabupaten Mojokerto Senin (9/5) lalu. Keduanya laku Rp 9 juta. Lebih murah dari harga pasar yang seharusnya. Dia takut jika sapinya mati bakal lebih merugi lagi. ”Katanya dokter tidak boleh dijual. Pokoknya telaten dua minggu sembuh, tapi saya panik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Banjir Protes, Wifi Gratis Akan Diaktifkan Lagi

Tak hanya dijual murah, peternak bahkan rela jual rugi. Bagaimana tidak, sapi yang empat bulan lalu baru dibeli dengan harga Rp 18 juta, kini hanya dihargai Rp 12,5 juta. Pilihan itu diambil Jijir, peternak lain lantaran alasan yang sama. ”Sore ini diambil sama pembelinya,” kata dia.

Rumadi, Ketua Kelompok Tani Tenanan Dusun/Desa Suru menyebut, beberapa hari terakhir memang tampak lalu lalang truk dan pikap mengangkut sapi milik anggotanya. Dia mengaku tak tahu berapa jumlah pasti sapi terinfeksi PMK yang dijual. Kendati demikian, hal itu menurutnya juga ditemukan di desa lain seperti Desa Bangeran. ”Selama ini saya juga sudah koar-koar kalau tidak bahaya. Padahal juga cuma mati dua,” ucapnya.

Kelompoknya memiliki anggota sekitar 127 orang dengan jumlah sapi ternak mencapai 300-an ekor. Kepada peternak, dia berusaha meneruskan sosialisasi dan pemahaman dari dinas terkait, jika penyakit tersebut dapat disembuhkan. Kuncinya yakni telaten merawat hewan dan memberikan obat-obatan. Sejauh ini, pemerintah juga berupaya untuk melakukan pengendalian dan pendampingan dengan penyuntikan obat hingga penyemprotan.

DICEK: Petugas kepolisian tengah memeriksa sejumlah muatan truk yang melintas di wilayah Trowulan dan Ngoro, Selasa (10/5) malam.

Pantau Jalur Tikus, Muatan Daging Boleh Lewat

Penyekatan terhadap angkutan pembawa ternak tidak hanya fokus dilakukan di jalan poros perbatasan antardaerah. Kepolisian turut memelototi jalur tikus yang berpotensi dilewati sejumlah pengemudi truk bermuatan hewan sejenis sapi tersebut.

Kasatlantas Polres Mojokerto AKP Arpan menerangkan, dalam mengoptimalkan upaya preventif persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi itu, petugas gabungan dari polsek dan polres disiagakan di empat titik checkpoint. Yakni, di wilayah Trowulan, Ngoro, Trawas, dan Mojosari. Belasan personel yang disiagakan diharapkan mampu mengantisipasi masuknya hewan ruminansia dari daerah lain.

’’Untuk jalur tikus ini kami sesuaikan dengan masing-masing polsek. Misalnya perbatasan Mojokerto-Jombang, Polsek Trowulan yang melakukan pemetaan. Yang jelas, jalur yang masih bisa dilalui kendaraan pikap dan truk saja yang kami awasi,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut, penyekatan hanya berlaku bagi angkutan pembawa ternak hidup. Artinya, itu tidak berlaku bagi kendaraan bermuatan daging beku. Sebab, petugas fokus menghalau terjadinya lalu lintas perdagangan ternak berkuku belah sejak PMK mewabah di Kabupaten Mojokerto. ’’Kalau truk pendingin muatan daging beku masih boleh lewat. Karena memang virus itu menyerang hewan ternak yang masih hidup,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Ning Ita Ajak Warga Semakin Waspada

Sejak kali pertama digelar Selasa (10/5) malam, petugas belum mendapati adanya angkutan pembawa ternak yang melintasi jalur perbatasan. Baik masuk maupun keluar Mojokerto. Arpan mengatakan, penyekatan bakal terus digelar hingga waktu yang masih belum ditentukan. ’’Belum ditentukan sampai kapan. Kemungkinan besar sampai kondisi (wabah PMK) membaik,’’ tandasnya.

Sementara itu, Pemkab Mojokerto memutuskan menutup sementara alias me-lockdown enam pasar hewan guna mengantisipasi meluasnya penularan PMK. Pasar hewan Ngrame, Pandanarum, Pohjejer, Dinoyo, Sawahan, dan Mojodadi ditutup sejak 8 Mei hingga 6 Juni mendatang. Namun Rabu (11/5) pagi, sejumlah pedagang ternak kambing ngeyel berjualan di Pasar Hewan Ngrame. ’’Sekarang pasarannya Pahing, jadi di sini buat jualan kambing,’’ ujar Satubi, salah seorang pedagang dan peternak kambing.

Dikatakannya, dia dan sejumlah rekannya nekat berjualan lantaran ternak kambing dinilai tidak terjangkit PMK. Sebab, sejauh ini masih belum ada kasus ternak kambing terserang virus tersebut. Dari 100 ekor kambing miliknya, hingga saat ini kondisinya sehat dan terbilang aman dari PMK. ’’Masih aman dan sehat semua, kambingnya teman-teman juga begitu. Gak ada yang sakit,’’ katanya.

Tak pelak, pihaknya bersuara agar para pedagang dan peternak kambing bisa tetap berjualan. Apalagi saat itu, 15 ekor kambing yang dibawanya masih utuh alias belum laku sama sekali. ’’Kalau begini ya rugi ongkos, rugi semuanya. Soalnya kan ini kambing, dampaknya PMK ini kan di ternak sapi. Kalau bisa kambing diusahakan tetap buka, karena masyarakat kecil ini kan kasihan kalau tidak bisa jualan,’’ tandasnya.

Sejumlah pedagang akhirnya dibubarkan usai petugas Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto kembali menyosialisasikan soal PMK dan penutupan pasar hewan sementara ini. ’’Sebenarnya sudah kami sosialisasikan bahwa tanggal 8 Mei sampai 6 Juni pasar hewan kita tutup sementara. Sudah kami sosialisasikan ke kandang-kandang juga. Sekaligus kalau kambing ini berpotensi tertular PMK sama seperti sapi karena sama-sama jenis ruminansia berkuku belah,’’ ujar Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah. (adi/vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/