alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Pengobatan Bayi Hidrosefalus, Dinkes Cuci Tangan

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Biaya pengobatan Muhammad Keefandra Alfarizky yang hampir tiga tahun menderita penyakit hidrosefalus atau pembengkakan kepala belum ada titik terang. Karena belum tercover JKN-KIS, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto lempar handuk. Mereka yang menyatakan tidak mampu membiayai pelayanan kesehatan balita anak pertama dari pasangan Achmat Mufli dan Indah Sari itu justru mengarahkan ke Dinkes Provinsi Jatim.

Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, ketidakmampuan pemerintah setempat ini dituangkan dalam surat pernyataan tertanggal 9 April yang ditandatangani Kepala Dinkes Kabupaten dr Sujatmiko dan Pj Sekdakab Himawan Estu Bagijo. Surat ini ditujukan kepada Dinkes Provinsi Jatim untuk menanggung pembiayaan tersebut. ’’(Karena pasien) tidak masuk di jaring KIS itu, kita masukkan ke sana (pemprov). Cari mudahnya saja, kenapa ribet-ribet,’’ ungkap Sujatmiko.

Karena belum tercover jaminan kesehatan, dinkes tak punya kemampuan anggaran membiayai pengobatan Keefandra. Namun, pemerintah akan selalu mencari solusi. Kendati begitu, ditegaskan Sujatmiko, solusi itu tak selalu dilimpahkan ke Pemprov Jatim untuk beban pembiayaan pengobatan. Sehingga, sebagai jaminan, pemerintah setempat bakal mengintegrasikan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan kurun waktu maksimal tiga bulan sejak surat pernyataan bernomor 445/2699/416-102.B/2021 diterbitkan. Dalam upaya ini, pihaknya juga meminta peran aktif pemerintah desa dalam pengurusannya. ’’Ploting KIS sebenarnya sudah cukup untuk pembiayaan selanjutnya. Namun, data kan bukan  tergantung pemerintah kabupaten, tapi pemerintah desa, desa masuk ke dinsos, lalu masuk ke dinkes,’’ paparnya.

Baca Juga :  Hubungan Lintas Agama di Mojokerto Berlangsung Harmonis

Jika integrasi program KIS-JKN tak berjalan mulus, pihaknya memastikan banyak jalan diupayakan dalam pengobatan Keefandra ini. Seperti halnya yang sudah dilakukan, yakni, dengan diikutkan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Provinsi Jatim, Data Terpadu Kesejahteran Sosial (DTKS) atau pun diikutkan Jaminan Masyarakat Miskin (Jamkesmaskin). ’’Kan memang ada jalur provinsi, pembiayaan tetap dilakukan bersama-sama. Nanti mana yang paling gampang dan memenuhi syarat. Seperti yang kemarin (KIS) hambatan di desa, bukan di kita,’’ tandasnya.

Namun, langkah medis untuk merujuk pasien ke RSUD dr Soetomo sejauh ini belum bisa dilakukan. Sebab, pasien masih melangsungkan isolasi di RS Sumbergelagah Pacet. Secara otomatis pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit pelat merah milik pemprov terhadap penyakit yang diderita pasien juga belum bisa dilakukan. ’’Karena pasien kemarin panas, dirawat di RS Sumbergelagah dengan hasil rapid test reaktif,’’ ujarnya.

Baca Juga :  PG Gempolkrep dan PT Enero Bagikan 1.468 Paket Sembako

Pasien diisolasi bersama satu orang penjaga. Sebagai tindak lanjut, uji swab juga dilakukan tadi malam. ’’Semoga hasilnya cepat keluar, supaya bisa kita ambil langkah penanganan. Kalau membaik, baru kita rujuk ke Surabaya,’’ tambahnya. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Biaya pengobatan Muhammad Keefandra Alfarizky yang hampir tiga tahun menderita penyakit hidrosefalus atau pembengkakan kepala belum ada titik terang. Karena belum tercover JKN-KIS, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto lempar handuk. Mereka yang menyatakan tidak mampu membiayai pelayanan kesehatan balita anak pertama dari pasangan Achmat Mufli dan Indah Sari itu justru mengarahkan ke Dinkes Provinsi Jatim.

Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, ketidakmampuan pemerintah setempat ini dituangkan dalam surat pernyataan tertanggal 9 April yang ditandatangani Kepala Dinkes Kabupaten dr Sujatmiko dan Pj Sekdakab Himawan Estu Bagijo. Surat ini ditujukan kepada Dinkes Provinsi Jatim untuk menanggung pembiayaan tersebut. ’’(Karena pasien) tidak masuk di jaring KIS itu, kita masukkan ke sana (pemprov). Cari mudahnya saja, kenapa ribet-ribet,’’ ungkap Sujatmiko.

Karena belum tercover jaminan kesehatan, dinkes tak punya kemampuan anggaran membiayai pengobatan Keefandra. Namun, pemerintah akan selalu mencari solusi. Kendati begitu, ditegaskan Sujatmiko, solusi itu tak selalu dilimpahkan ke Pemprov Jatim untuk beban pembiayaan pengobatan. Sehingga, sebagai jaminan, pemerintah setempat bakal mengintegrasikan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan kurun waktu maksimal tiga bulan sejak surat pernyataan bernomor 445/2699/416-102.B/2021 diterbitkan. Dalam upaya ini, pihaknya juga meminta peran aktif pemerintah desa dalam pengurusannya. ’’Ploting KIS sebenarnya sudah cukup untuk pembiayaan selanjutnya. Namun, data kan bukan  tergantung pemerintah kabupaten, tapi pemerintah desa, desa masuk ke dinsos, lalu masuk ke dinkes,’’ paparnya.

Baca Juga :  Cegah Hepatitis Akut, Dinkes Gencar Sosialisasi PHBS

Jika integrasi program KIS-JKN tak berjalan mulus, pihaknya memastikan banyak jalan diupayakan dalam pengobatan Keefandra ini. Seperti halnya yang sudah dilakukan, yakni, dengan diikutkan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Provinsi Jatim, Data Terpadu Kesejahteran Sosial (DTKS) atau pun diikutkan Jaminan Masyarakat Miskin (Jamkesmaskin). ’’Kan memang ada jalur provinsi, pembiayaan tetap dilakukan bersama-sama. Nanti mana yang paling gampang dan memenuhi syarat. Seperti yang kemarin (KIS) hambatan di desa, bukan di kita,’’ tandasnya.

Namun, langkah medis untuk merujuk pasien ke RSUD dr Soetomo sejauh ini belum bisa dilakukan. Sebab, pasien masih melangsungkan isolasi di RS Sumbergelagah Pacet. Secara otomatis pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit pelat merah milik pemprov terhadap penyakit yang diderita pasien juga belum bisa dilakukan. ’’Karena pasien kemarin panas, dirawat di RS Sumbergelagah dengan hasil rapid test reaktif,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Satu Tablet Sejuta Manfaat

Pasien diisolasi bersama satu orang penjaga. Sebagai tindak lanjut, uji swab juga dilakukan tadi malam. ’’Semoga hasilnya cepat keluar, supaya bisa kita ambil langkah penanganan. Kalau membaik, baru kita rujuk ke Surabaya,’’ tambahnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/