alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Limbah Medis Naik Drastis

JETIS, Jawa Pos  Radar Mojokerto – Munculnya virus korona dan banyaknya pasien menjalani perawatan di rumah sakit, berimbas besar terhadap menggunungnya limbah medis. Padahal, limbah ini harus mendapat perlakuan khusus agar tidak menimbulkan masalah lain.

PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, pun cukup merasakannya. ’’Khusus limbah medis itu, naik pesat,’’ jelas Direktur PT PRIA, Luluk Wara Hidayati, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Ia mencontohkan, limbah penanganan Covid-19 yang berasal dari RS Siti Hajar, Sidoarjo, RSUD Jombang, RS Husada Utama, Surabaya. ’’Sekali ambil limbah saja, bisa 27 boks,’’ beber Luluk.

Meski tak bisa menyebut secara detail angka peningkatan itu, tetapi ia menyebut jika banyak rumah sakit yang menghasilkan limbah medis dalam jumlah yang tak wajar. Karena, kelengkapan yang digunakan rumah sakit untuk penanganan Covid-19 harus sekali pakai.

Baca Juga :  Sebulan, Sampah Medis RSUD Kota Tembus 5 Ton

Padahal, penanganan limbah medis korona, diakuinya, tak mudah. Perusahaan pengelolah limbah ini harus menjalankan protokol khusus agar para karyawannya tak ikut tertular.

Menurutnya, limbah medis yang dihasilkan dari penanganan Covid-19 harus dilakukan sterilisasi sejak limbah masih berada di rumah sakit. ’’Langsung di-packing dengan plastik. Dan sangat rapat,’’ jelasnya.

Setelah semua limbah masuk ke dalam plastik, langsung dilakukan penyemprotan dengan disinfektan. Setelah steril, kemudian dimasukkan ke dalam styrofoam lalu dilakban dan di-wrapping. ’’Setelah itu, dilakukan penyemprotan disinfektan lagi. Biar virus yang menempel, bisa hilang,’’ tambah Luluk.

Pun demikian dengan petugas transporter. Perempuan berjilbab ini, menerangkan, petugas yang mendatangi rumah sakit juga harus menggunakan alat pelindung diri (APD) dengan lengkap. Mulai sarung tangan, masker, hingga baju khusus.

Baca Juga :  Warga Rela Antre demi Mendapat Vaksin

Sesampai di perusahaan, limbah ini pun langsung dimasukkan ke insenerator dan dimusnahkan. ’’Biasanya, penanganan tetap harus menunggu antrean. Tetapi, untuk limbah Covid ini, tidak perlu. Harus diprioritaskan,’’ imbuhnya.

Diakui Luluk, menangani limbah medis Covid-19, cukup mengkhawatirkan. Hal itu terbukti dari banyaknya perusahaan pemusnah limbah yang menolak mengangkut limbah tersebut.

Namun, ia mengakui, perusahaannya tetap mengedepankan unsur sosial. ’’Demi kemanusiaan. Kalau tidak dimusnahkan dengan alat khusus, tentu limbah ini akan memunculkan persoalan lain. Kami tidak ingin seperti itu. Kami ingin kembali seperti semula. Semua menjadi sehat,’’ pungkas Luluk. 

JETIS, Jawa Pos  Radar Mojokerto – Munculnya virus korona dan banyaknya pasien menjalani perawatan di rumah sakit, berimbas besar terhadap menggunungnya limbah medis. Padahal, limbah ini harus mendapat perlakuan khusus agar tidak menimbulkan masalah lain.

PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, pun cukup merasakannya. ’’Khusus limbah medis itu, naik pesat,’’ jelas Direktur PT PRIA, Luluk Wara Hidayati, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Ia mencontohkan, limbah penanganan Covid-19 yang berasal dari RS Siti Hajar, Sidoarjo, RSUD Jombang, RS Husada Utama, Surabaya. ’’Sekali ambil limbah saja, bisa 27 boks,’’ beber Luluk.

Meski tak bisa menyebut secara detail angka peningkatan itu, tetapi ia menyebut jika banyak rumah sakit yang menghasilkan limbah medis dalam jumlah yang tak wajar. Karena, kelengkapan yang digunakan rumah sakit untuk penanganan Covid-19 harus sekali pakai.

Baca Juga :  BPS Bipih Dilarang Berikan Dana Talangan Haji

Padahal, penanganan limbah medis korona, diakuinya, tak mudah. Perusahaan pengelolah limbah ini harus menjalankan protokol khusus agar para karyawannya tak ikut tertular.

Menurutnya, limbah medis yang dihasilkan dari penanganan Covid-19 harus dilakukan sterilisasi sejak limbah masih berada di rumah sakit. ’’Langsung di-packing dengan plastik. Dan sangat rapat,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Setelah semua limbah masuk ke dalam plastik, langsung dilakukan penyemprotan dengan disinfektan. Setelah steril, kemudian dimasukkan ke dalam styrofoam lalu dilakban dan di-wrapping. ’’Setelah itu, dilakukan penyemprotan disinfektan lagi. Biar virus yang menempel, bisa hilang,’’ tambah Luluk.

Pun demikian dengan petugas transporter. Perempuan berjilbab ini, menerangkan, petugas yang mendatangi rumah sakit juga harus menggunakan alat pelindung diri (APD) dengan lengkap. Mulai sarung tangan, masker, hingga baju khusus.

Baca Juga :  Akibat Nilai Upah Tinggi, 47 Perusahaan di Mojokerto Kabur

Sesampai di perusahaan, limbah ini pun langsung dimasukkan ke insenerator dan dimusnahkan. ’’Biasanya, penanganan tetap harus menunggu antrean. Tetapi, untuk limbah Covid ini, tidak perlu. Harus diprioritaskan,’’ imbuhnya.

Diakui Luluk, menangani limbah medis Covid-19, cukup mengkhawatirkan. Hal itu terbukti dari banyaknya perusahaan pemusnah limbah yang menolak mengangkut limbah tersebut.

Namun, ia mengakui, perusahaannya tetap mengedepankan unsur sosial. ’’Demi kemanusiaan. Kalau tidak dimusnahkan dengan alat khusus, tentu limbah ini akan memunculkan persoalan lain. Kami tidak ingin seperti itu. Kami ingin kembali seperti semula. Semua menjadi sehat,’’ pungkas Luluk. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/