alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Tujuh Mata Air Diharapkan Jadi Pertolongan

SEMENTARA itu, pengambilan tanah dan air pada sejumlah titik yang didominasi wilayah Mojokerto itu bukan tanpa sebab. Tak lain karena Pemerintah Provinsi memilih konsep The Spirit of Majapahit yang identik dengan Mojokerto Raya yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit.

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menerangkan, tema ataupun konsep tersebut berlandaskan pada babakan sejarah kerajaan Majapahit sekaligus sumber mata air yang menopang kehidupan pada era itu. Yang saat ini, wilayah Kerajaan Majapahit menjadi Provinsi Jawa Timur.

’’Jadi pengambilan tanah dan air ini tidak dari 38 kabupaten se-Jatim, tapi di daerah yang sesuai dengan konsep yang ada. Yaitu, spirit dari Majapahit dan kebetulan pusat Majapahit di Jatim ada di Mojokerto dan sekitarnya. Dan itu termanifestasikan dengan pengambilan tanag dan air tersebut,’’ terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto.

Wicak-sapaan akrabnya-menerangkan, konsep tujuh titik air yang diambil untuk disatukan ke IKN punya makna filosifi tersendiri. Utamanya, filosofi jawa yang hingga saat ini masih kental dan diyakini sejumlah kalangan masyarakat. ’’Untuk tujuh mata air itu filosofinya dari arti angka tujuh. Bahasa jawanya angka tujuh adalah pitu. Yang harapannya menjadi pitulungan saking pengeran (pertolongan dari tuhan). Itu konsep pribadi dari ibu gubernur,’’ urainya.

Baca Juga :  Bangun Dermaga, Wisata Apung, dan Monumen Amukti Palapa

Dipilihnya Sumber Brantas sebagai salah satu titik pengambilan air lantaran sebagai hulu dari Sungai Brantas yang merupakan sumber kehidupan bagi kehidupan di era Majapahit. Sekaligus masyarakat Jawa Timur saat ini. ’’Karena Sungai Brantas ini sebagai sungai tersebar dan sumbernya di Jatim. Dimana, sumber air itu menjadi sumber kehidupan,’’ imbuhnya.

Lebih lanjut, masih kata Wicak, dua titik pengambilan tanah di Situs Sumur Upas-Kedaton dan Kumitir juga punya arti. Tak lain terkait sejarah kerajaan Majapahit yang berpusat di wilayah Mojokerto. ’’Itu karena Situs Sumur Upas-Kedaton sebagai istana barat dan Situs Kumitir sebagai istana timur dari kerajaan Majapahit,’’ bebernya.

Sementara itu, Juru Kunci Situs Sumur Upas-Kedaton M Minin menerangkan, ada dua titik sumur di situs yang dibawahinya yakni, Sumur Windu dan Sumur Upas. Namun, air yang diambil gubernur bukanlah berasal dari liang Sumur Upas melainkan Sumur Windu. ’’Soalnya kalau Sumur Upas itu dikhawatirkan beracun karena gas CO2. Soalnya, oleh masyarakat sekitar Sumur Upas itu dikeramatkan dan belum pernah dibuka sejak dulu. Yang bisa dimanfaatkan airnya ya di Sumur Windu ini,’’ terangnya.

Baca Juga :  Pemkot Kembali Suntik Rp 9 Miliar

Diterangkannya, kedua sumur tua tersebut dibangun dari era yang sama yakni sekitar abad ke-13 Masehi. Namun, oleh masyarakat luas, air dari Sumur Windu itu kerap digunakan dalam ritual jawa. ’’Sering airnya diambil buat membasuh barang-barang yang disakralkan bahkan dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Apalagi sejak dulu, meskipun kemarau panjang, sumur ini belum pernah kering,’’ tandas pria parobaya itu. (vad/fen)

SEMENTARA itu, pengambilan tanah dan air pada sejumlah titik yang didominasi wilayah Mojokerto itu bukan tanpa sebab. Tak lain karena Pemerintah Provinsi memilih konsep The Spirit of Majapahit yang identik dengan Mojokerto Raya yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit.

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menerangkan, tema ataupun konsep tersebut berlandaskan pada babakan sejarah kerajaan Majapahit sekaligus sumber mata air yang menopang kehidupan pada era itu. Yang saat ini, wilayah Kerajaan Majapahit menjadi Provinsi Jawa Timur.

’’Jadi pengambilan tanah dan air ini tidak dari 38 kabupaten se-Jatim, tapi di daerah yang sesuai dengan konsep yang ada. Yaitu, spirit dari Majapahit dan kebetulan pusat Majapahit di Jatim ada di Mojokerto dan sekitarnya. Dan itu termanifestasikan dengan pengambilan tanag dan air tersebut,’’ terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto.

Wicak-sapaan akrabnya-menerangkan, konsep tujuh titik air yang diambil untuk disatukan ke IKN punya makna filosifi tersendiri. Utamanya, filosofi jawa yang hingga saat ini masih kental dan diyakini sejumlah kalangan masyarakat. ’’Untuk tujuh mata air itu filosofinya dari arti angka tujuh. Bahasa jawanya angka tujuh adalah pitu. Yang harapannya menjadi pitulungan saking pengeran (pertolongan dari tuhan). Itu konsep pribadi dari ibu gubernur,’’ urainya.

Baca Juga :  Bangkitkan Kembali Spirit Majapahit, Wali Kota Ngremo Bareng Suami

Dipilihnya Sumber Brantas sebagai salah satu titik pengambilan air lantaran sebagai hulu dari Sungai Brantas yang merupakan sumber kehidupan bagi kehidupan di era Majapahit. Sekaligus masyarakat Jawa Timur saat ini. ’’Karena Sungai Brantas ini sebagai sungai tersebar dan sumbernya di Jatim. Dimana, sumber air itu menjadi sumber kehidupan,’’ imbuhnya.

Lebih lanjut, masih kata Wicak, dua titik pengambilan tanah di Situs Sumur Upas-Kedaton dan Kumitir juga punya arti. Tak lain terkait sejarah kerajaan Majapahit yang berpusat di wilayah Mojokerto. ’’Itu karena Situs Sumur Upas-Kedaton sebagai istana barat dan Situs Kumitir sebagai istana timur dari kerajaan Majapahit,’’ bebernya.

- Advertisement -

Sementara itu, Juru Kunci Situs Sumur Upas-Kedaton M Minin menerangkan, ada dua titik sumur di situs yang dibawahinya yakni, Sumur Windu dan Sumur Upas. Namun, air yang diambil gubernur bukanlah berasal dari liang Sumur Upas melainkan Sumur Windu. ’’Soalnya kalau Sumur Upas itu dikhawatirkan beracun karena gas CO2. Soalnya, oleh masyarakat sekitar Sumur Upas itu dikeramatkan dan belum pernah dibuka sejak dulu. Yang bisa dimanfaatkan airnya ya di Sumur Windu ini,’’ terangnya.

Baca Juga :  Undian Hadiah Utama MSF, Revo Fit, Jatuh ke Tangan Warga Dawarblandong

Diterangkannya, kedua sumur tua tersebut dibangun dari era yang sama yakni sekitar abad ke-13 Masehi. Namun, oleh masyarakat luas, air dari Sumur Windu itu kerap digunakan dalam ritual jawa. ’’Sering airnya diambil buat membasuh barang-barang yang disakralkan bahkan dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Apalagi sejak dulu, meskipun kemarau panjang, sumur ini belum pernah kering,’’ tandas pria parobaya itu. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Nikmat Seafood-nya Melekat

Lebaran, Dinkes Kota Siagakan Isoter

35 Ribu KK Dilabeli Keluarga Miskin

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/