alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Akibat Jarang Dikenalkan Dunia Pertanian

PERAN petani sangat penting bagi ketersediaan pangan di masyarakat. Kendati demikian, tak dapat dipungkiri profesi petani saat ini cenderung kurang diminati kalangan muda. Terbukti, usia para petani aktif sekarang ini dari golongan tua.

Fakta tersebut yang akhirnya ditangkap oleh Yunita Dwi Ratnasari, petani muda asal Desa Bicak, Kecamatan Trowulan. Perempuan 29 tahun ini mengaku awalnya dia tak pernah kepikiran bakal terjun menjadi petani. Pasalnya, dia bukan berasal dari keluarga petani. Bahkan, sang ayah dulunya merupakan tentara. ’’Baru pas ayah pensiun terus beli lahan dibuat sawah untuk bertani. Bahkan, latar belakang saya jurusan ilmu komunikasi. Jadi nggak pernah kepikiran kalau bakal jadi petani,’’ ucap Yunita, sapaan akrabnya.

Namun, setelah dilantik menjadi Lurah Desa Bicak, Kecamatan Trowulan tahun 2019 lalu, Yunita akhirnya tertarik menyelami dunia pertanian. Alasannya, karena sebagian besar penduduk di Desa Bicak merupakan petani. Tak hanya itu, wilayah desa yang terdiri dari tiga dusun ini separonya adalah sawah. ’’Luas keseluruhan Desa Bicak itu 288 hektar. Dari jumlah total itu, 188 hektarnya masih sawah, penduduknya juga sebagian besar petani,’’ papar dia.

Baca Juga :  Usaha Mikro Kecil, Warung, Warteg dan PKL Bisa Daftar Bansos

Dikatakannya, meski sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Bukan berarti, usianya beragam. Justru sebaliknya, petani di Desa Bicak rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Sama sekali tidak ada petani yang berusia 30-an. Inilah yang menggugah hati Yunita untuk kembali menghidupkan sektor pertanian di kalangan anak muda. Atau regenerasi petani.

’’Karena dihadapkan dengan fakta ini, saya akhirnya mulai belajar tanam menanam di sawah milik ayah saya itu. Selain memang asyik, ini juga agar saya bisa memahami masyarakat,’’ ungkap perempuan yang tengah meneruskan S2 jurusan Agribisnis di Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Dengan memanfaatkan lahan sawah milik orang tuanya di belakang rumah, dia pun mulai belajar bercocok tanam. Mulai dari teknik menanam hingga cara panennya. Semua proses tersebut, dikombinasikannya dengan teknologi masa kini. Semisal untuk proses memanen padi, kini tak lagi dilakukan secara manual. Namun, bisa digiling dengan mesin. ’’Proses penyiraman pestisida saja juga sudah canggih sekarang. Bahkan, sudah ada juga khan penyiram pestisida tapi dengan drone. Harusnya, dengan kecanggihan teknologi sekarang ini bisa ditangkap oleh anak muda,’’ ulasnya.

Baca Juga :  Halau Pemudik, Ratusan Petugas Diterjunkan di Titik Penyekatan

Masih kata Yunita, beberapa kali dia mengajak remaja karang taruna Desa Bicak untuk meneruskan profesi orang tua mereka sebagai petani. Namun, lanjutnya, mereka memilih kerja di kantor. Alasannya, selain tak tahan dengan cuaca panas, anggapan mereka bertani identik mencangkul. ’’Lebih suka jadi influencer dan kerja di ruangan katanya. Berbekal upload di sosmed sudah dapat uang, tidak perlu susah-susah terjun ke sawah,’’ papar perempuan kelahiran Jember ini.

Kesulitan lain yang dialaminya untuk menggaet anak muda ke dunia pertanian, karena minimnya penyuluhan dari tenaga profesional. Menurut Yunita, selama ini pemerintah terlalu berfokus pada peningkatan komoditas. Namun, tak diimbangi dengan mengajak keterlibatan anak muda untuk memberikan pengetahuan terkait dunia pertanian.

’’Kesulitannya di situ. Jadi, sama sekali tidak pernah mengajak anak muda untuk ikut penyuluhan pertanian. Padahal, kalau dikolaborasikan dengan generasi saat ini, dunia pertanian pasti bisa jalan terus dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi,’’ tandasnya. (oce/fen)

PERAN petani sangat penting bagi ketersediaan pangan di masyarakat. Kendati demikian, tak dapat dipungkiri profesi petani saat ini cenderung kurang diminati kalangan muda. Terbukti, usia para petani aktif sekarang ini dari golongan tua.

Fakta tersebut yang akhirnya ditangkap oleh Yunita Dwi Ratnasari, petani muda asal Desa Bicak, Kecamatan Trowulan. Perempuan 29 tahun ini mengaku awalnya dia tak pernah kepikiran bakal terjun menjadi petani. Pasalnya, dia bukan berasal dari keluarga petani. Bahkan, sang ayah dulunya merupakan tentara. ’’Baru pas ayah pensiun terus beli lahan dibuat sawah untuk bertani. Bahkan, latar belakang saya jurusan ilmu komunikasi. Jadi nggak pernah kepikiran kalau bakal jadi petani,’’ ucap Yunita, sapaan akrabnya.

Namun, setelah dilantik menjadi Lurah Desa Bicak, Kecamatan Trowulan tahun 2019 lalu, Yunita akhirnya tertarik menyelami dunia pertanian. Alasannya, karena sebagian besar penduduk di Desa Bicak merupakan petani. Tak hanya itu, wilayah desa yang terdiri dari tiga dusun ini separonya adalah sawah. ’’Luas keseluruhan Desa Bicak itu 288 hektar. Dari jumlah total itu, 188 hektarnya masih sawah, penduduknya juga sebagian besar petani,’’ papar dia.

Baca Juga :  Biaya Pemulasaraan Jenasah Masih Utang

Dikatakannya, meski sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Bukan berarti, usianya beragam. Justru sebaliknya, petani di Desa Bicak rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Sama sekali tidak ada petani yang berusia 30-an. Inilah yang menggugah hati Yunita untuk kembali menghidupkan sektor pertanian di kalangan anak muda. Atau regenerasi petani.

’’Karena dihadapkan dengan fakta ini, saya akhirnya mulai belajar tanam menanam di sawah milik ayah saya itu. Selain memang asyik, ini juga agar saya bisa memahami masyarakat,’’ ungkap perempuan yang tengah meneruskan S2 jurusan Agribisnis di Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Dengan memanfaatkan lahan sawah milik orang tuanya di belakang rumah, dia pun mulai belajar bercocok tanam. Mulai dari teknik menanam hingga cara panennya. Semua proses tersebut, dikombinasikannya dengan teknologi masa kini. Semisal untuk proses memanen padi, kini tak lagi dilakukan secara manual. Namun, bisa digiling dengan mesin. ’’Proses penyiraman pestisida saja juga sudah canggih sekarang. Bahkan, sudah ada juga khan penyiram pestisida tapi dengan drone. Harusnya, dengan kecanggihan teknologi sekarang ini bisa ditangkap oleh anak muda,’’ ulasnya.

Baca Juga :  Ekskavasi Situs Gemekan Tahap Kedua, 40 Tahun Lalu Pernah Dijarah
- Advertisement -

Masih kata Yunita, beberapa kali dia mengajak remaja karang taruna Desa Bicak untuk meneruskan profesi orang tua mereka sebagai petani. Namun, lanjutnya, mereka memilih kerja di kantor. Alasannya, selain tak tahan dengan cuaca panas, anggapan mereka bertani identik mencangkul. ’’Lebih suka jadi influencer dan kerja di ruangan katanya. Berbekal upload di sosmed sudah dapat uang, tidak perlu susah-susah terjun ke sawah,’’ papar perempuan kelahiran Jember ini.

Kesulitan lain yang dialaminya untuk menggaet anak muda ke dunia pertanian, karena minimnya penyuluhan dari tenaga profesional. Menurut Yunita, selama ini pemerintah terlalu berfokus pada peningkatan komoditas. Namun, tak diimbangi dengan mengajak keterlibatan anak muda untuk memberikan pengetahuan terkait dunia pertanian.

’’Kesulitannya di situ. Jadi, sama sekali tidak pernah mengajak anak muda untuk ikut penyuluhan pertanian. Padahal, kalau dikolaborasikan dengan generasi saat ini, dunia pertanian pasti bisa jalan terus dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi,’’ tandasnya. (oce/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/