alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Suwuk Kiai Gelorakan Semangat Berani Mati

November merupakan momentum yang tidak akan dilupakan bangsa Indonesia. Selain terdapat peringatan Hari Pahlawan, bulan tersebut juga menandai kisah perjuangan rakyat dalam mengusir penjajah dan tidak bisa lepas dari peran sentral para kiai.

MEMANG para ulama memiliki kontribusi besar dalam menggerakkan pasukan dan menggelorakan semangat dalam perang kemerdekaan. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, gelombang pengiriman pemuda pejuang ke Surabaya terjadi setelah keluarnya Resolusi Jihad.

Meletupnya pertempuran 10 November 1945 mendorong para pemuda Mojokerto turut terlibat dalam pertarungan fisik di medan perang Surabaya. Konon, para pejuang itu telah diberi suwuk para kiai yang menggelorakan semangat berani mati.

Dia menceritakan, pengiriman pemuda Hizbullah ke Surabaya dikoordinir Moenasir asal Mojosari. Kebanyakan dari mereka berangkat dengan membawa senjata tajam saja. Hanya sedikit yang membekali diri dengan senjata api.

Akan tetapi, sebelum berangkat, para pemuda terlebih dulu dibaiat untuk siap gugur sebagai syuhada. ”Secara berkelompok para pejuang mendatangi rumah para kiai. Selanjutnya kiai men-yuwuk dan membaiat para pejuang,” terangnya.

Dalam kisah perjuangan Mojokerto, ada beberapa kiai yang dimintai suwuk oleh para pemuda Hizbullah maupun pejuang lainnya. Masing-masing memiliki metode tersendiri dalam memberikan piandel. Terlepas dari keampuhannya, yang jelas, bekal tersebut semakin membangkitkan keberanian para pejuang.

Baca Juga :  Bantu Pengobatan Bocah dengan Masalah BAB

Maka sebagian menyebut sebagai suwuk kendel atau berani. Salah satu kiai yang banyak didatangi pejuang adalah Kiai Nawawi. Ulama Nahdlatul Ulama (NU) ini dikenal sebagai sosok linuwih. Bahkan dikabarkan kebal peluru.

Semasa hidupnya, Kiai Nawawi banyak membekali pejuang dengan berbagai macam piandel yang bisa membangkitkan keberanian. ”Kiai Nawawi memberikan piandel berupa kain bertuliskan rajah,” ujarnya.

Yuhan menjelaskan, selain Kiai Nawawi, pemberian suwuk kendel juga dilakukan Kiai Ilyas, asal Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabuapten Mojokerto. Di samping itu ada Kiai Zahid, asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan (dulu Prajurit Kulon), Kota Mojokerto.

”Ketiga ulama itu banyak dimintai suwuk selain beberapa kiai lainnya,” paparnya. Menurut Yuhan, metode suwuk dilakukan Kiai Zahid adalah dengan memberi minuman pada pemuda yang datang. Sementara Kiai Ilyas memberi ilmu kebal dengan cara menuliskan rajah pada punggung.

Baca Juga :  Kodim 0815 Mojokerto Gelar Baksos Donor Darah

”Satu per satu pejuang diminta tidur tengkurap tanpa baju. Dengan tangannya sendiri, Mbah Ilyas menuliskan rajah bertinta minyak di kulit punggung,” bebernya. Yuhan menambahkan, karena dilakukan Mbah Ilyas sendiri, metode suwuk tersebut cukup memakan waktu dibandingkan metode Kiai Nawawi maupun Kiai Zahid.

Para pemuda pejuang yang datang ke kiai bukan hanya mereka yang berasal dari Hizbullah. Melainkan juga dari anggota kelompok lainnya. Seperti Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) Cabang Mojokerto juga ikut meminta suwuk kiai.

”Dengan suwuk itulah timbul keyakinan akan mendapatkan keselamatan dalam medan pertempuran,” tandasnya. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, tak hanya sekadar berperan di balik layar.

Banyak kiai yang turut maju di garis depan pertempuran. Kehadiran langsung tokoh kharismatis tersebut kian meningkatkan semangat juang para pemuda. Maka tidak heranjika garis pertahanan republik di sekitar Surabaya dikenal sebagai kubu pertahanan yang sulit ditaklukkan tentara Inggris dan serdadu Belanda.

”Kontribusi para kiai seperti itu memang luput dari catatan. Namun, diakui atau tidak, ilmu suwuk ikut berperan dalam perang kemerdekaan,” pungkasnya. 

 

November merupakan momentum yang tidak akan dilupakan bangsa Indonesia. Selain terdapat peringatan Hari Pahlawan, bulan tersebut juga menandai kisah perjuangan rakyat dalam mengusir penjajah dan tidak bisa lepas dari peran sentral para kiai.

MEMANG para ulama memiliki kontribusi besar dalam menggerakkan pasukan dan menggelorakan semangat dalam perang kemerdekaan. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, gelombang pengiriman pemuda pejuang ke Surabaya terjadi setelah keluarnya Resolusi Jihad.

Meletupnya pertempuran 10 November 1945 mendorong para pemuda Mojokerto turut terlibat dalam pertarungan fisik di medan perang Surabaya. Konon, para pejuang itu telah diberi suwuk para kiai yang menggelorakan semangat berani mati.

Dia menceritakan, pengiriman pemuda Hizbullah ke Surabaya dikoordinir Moenasir asal Mojosari. Kebanyakan dari mereka berangkat dengan membawa senjata tajam saja. Hanya sedikit yang membekali diri dengan senjata api.

- Advertisement -

Akan tetapi, sebelum berangkat, para pemuda terlebih dulu dibaiat untuk siap gugur sebagai syuhada. ”Secara berkelompok para pejuang mendatangi rumah para kiai. Selanjutnya kiai men-yuwuk dan membaiat para pejuang,” terangnya.

Dalam kisah perjuangan Mojokerto, ada beberapa kiai yang dimintai suwuk oleh para pemuda Hizbullah maupun pejuang lainnya. Masing-masing memiliki metode tersendiri dalam memberikan piandel. Terlepas dari keampuhannya, yang jelas, bekal tersebut semakin membangkitkan keberanian para pejuang.

Baca Juga :  Zona Merah Lagi, Siagakan Puluhan Ambulans dan Gencar Tracing

Maka sebagian menyebut sebagai suwuk kendel atau berani. Salah satu kiai yang banyak didatangi pejuang adalah Kiai Nawawi. Ulama Nahdlatul Ulama (NU) ini dikenal sebagai sosok linuwih. Bahkan dikabarkan kebal peluru.

Semasa hidupnya, Kiai Nawawi banyak membekali pejuang dengan berbagai macam piandel yang bisa membangkitkan keberanian. ”Kiai Nawawi memberikan piandel berupa kain bertuliskan rajah,” ujarnya.

Yuhan menjelaskan, selain Kiai Nawawi, pemberian suwuk kendel juga dilakukan Kiai Ilyas, asal Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabuapten Mojokerto. Di samping itu ada Kiai Zahid, asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan (dulu Prajurit Kulon), Kota Mojokerto.

”Ketiga ulama itu banyak dimintai suwuk selain beberapa kiai lainnya,” paparnya. Menurut Yuhan, metode suwuk dilakukan Kiai Zahid adalah dengan memberi minuman pada pemuda yang datang. Sementara Kiai Ilyas memberi ilmu kebal dengan cara menuliskan rajah pada punggung.

Baca Juga :  Pelangi di Kemarau Basah

”Satu per satu pejuang diminta tidur tengkurap tanpa baju. Dengan tangannya sendiri, Mbah Ilyas menuliskan rajah bertinta minyak di kulit punggung,” bebernya. Yuhan menambahkan, karena dilakukan Mbah Ilyas sendiri, metode suwuk tersebut cukup memakan waktu dibandingkan metode Kiai Nawawi maupun Kiai Zahid.

Para pemuda pejuang yang datang ke kiai bukan hanya mereka yang berasal dari Hizbullah. Melainkan juga dari anggota kelompok lainnya. Seperti Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) Cabang Mojokerto juga ikut meminta suwuk kiai.

”Dengan suwuk itulah timbul keyakinan akan mendapatkan keselamatan dalam medan pertempuran,” tandasnya. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, tak hanya sekadar berperan di balik layar.

Banyak kiai yang turut maju di garis depan pertempuran. Kehadiran langsung tokoh kharismatis tersebut kian meningkatkan semangat juang para pemuda. Maka tidak heranjika garis pertahanan republik di sekitar Surabaya dikenal sebagai kubu pertahanan yang sulit ditaklukkan tentara Inggris dan serdadu Belanda.

”Kontribusi para kiai seperti itu memang luput dari catatan. Namun, diakui atau tidak, ilmu suwuk ikut berperan dalam perang kemerdekaan,” pungkasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/