alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Jalan Masih Sirtu, PJU Bayar Urunan, Penghuni Perumahan Protes

PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Puluhan warga perumahan Griya Puri Asri di Dusun Tegalsari Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, menggeruduk kantor pemasaran perumahan, kemarin pagi. Warga mengeluhkan sejumlah fasilitas yang tak kunjung dipenuhi pihak pengembang.

Ketua RT 6 RW 1 Dusun Tegalsari Sutantyo Nur Porbo Waseso menjelaskan, setidaknya ada empat tuntutan yang disampaikan sekitar 20 warga komplek ke pihak developer. Yakni, jalan rusak, penerangan jalan, musala, dan tempat sampah yang dinilai tak memadai kebutuhan warga.

Sejak berdiri tahun 2018 lalu, akses jalan di perumahan ini masih berbahan pasir dan batu. ”Pihak pengembang ini tidak mau membangun jalan dengan alasan menunggu bantuan dari pemerintah buat memasang paving,” sebut Sutantyo.

Tak kali ini saja. Komplain warga sudah dilakukan berkali-kali. Bahkan, hal tersebut sempat dibahas warga bersama pihak desa dan developer Oktober tahun lalu. Meski begitu, pertemuan tersebut tak membuahkan hasil. ” Pertemuan itu ya nggak membuahkan hasil. Katanya (jalan) dijanjikan akan dibangun tahun 2022 akhir, warga ya ndak mau kan terlalu lama,” ungkapnya.

Baca Juga :  Modernisasi Koperasi agar Adaptif dan Berdaya Saing

Disebutkannya, warga perumahan layak mendapat sejumlah fasum dan fasos tersebut sebagaimana mestinya. Pasalnya, sebelum membeli hunian tersebut, warga sudah dijelaskan terkait site plan perumahan. Namun, yang diperoleh warga saat ini, tak sesuai dengan rencana. ”Mestinya juga ada taman dan musala di dalam perumahan. Malahan, musala di sini dialihkan jadi balai pertemuan. Tanpa ada kesepakatan dengan warga,” bebernya.

Selain itu, fasum layaknya penerangan jalan dan tempat sampah komplek menimbulkan permasalahan. Kendati sejumlah tiang dan lampu penerangan sudah disediakan pihak developer, tagihan listriknya dibebankan ke warga.

Biaya listrik yang dibebankan pada warga dinilai cukup memberatkan. ”Satu bulan sekitar Rp 400 ribu dari 14 tiang lampu, itu dibayar dengan iuran warga,” tandasnya.

Baca Juga :  Khawatir Napiter, Makanan di Lapas Terbatas

Sedangkan, sampah yang tak memadahi, memaksa warga komplek membakar sampah di depan rumah.”Sebelumnya warga bakar sampah sendiri di depan rumah, baru dua bulan lalu dibuatkan tempat sampah (oleh developer). Sekarang sudah over kapasitas, soalnya dibuatkan cuma satu (titik), itu pun ukurannya kecil,” paparnya.

Sementara itu, Pengawas Developer Griya Puri Asri Teguh mengatakan, pihaknya sudah menampung sejumlah keluhan warga RT 6 RW 1 Dusun Tegalsar, Desa Puri tersebut. Ia masih belum bisa bicara banyak lantaran komplain tersebut harus diteruskan ke pimpinan developer. ”Sudah kami tampung dan masih kami sampaikan ke atasan. Setahu saya untuk jalan (komplek) akan dibangun tahun depan dan 14 tiang penerangan beserta lampunya sudah kami sediakan,” sebutnya. (vad)

PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Puluhan warga perumahan Griya Puri Asri di Dusun Tegalsari Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, menggeruduk kantor pemasaran perumahan, kemarin pagi. Warga mengeluhkan sejumlah fasilitas yang tak kunjung dipenuhi pihak pengembang.

Ketua RT 6 RW 1 Dusun Tegalsari Sutantyo Nur Porbo Waseso menjelaskan, setidaknya ada empat tuntutan yang disampaikan sekitar 20 warga komplek ke pihak developer. Yakni, jalan rusak, penerangan jalan, musala, dan tempat sampah yang dinilai tak memadai kebutuhan warga.

Sejak berdiri tahun 2018 lalu, akses jalan di perumahan ini masih berbahan pasir dan batu. ”Pihak pengembang ini tidak mau membangun jalan dengan alasan menunggu bantuan dari pemerintah buat memasang paving,” sebut Sutantyo.

Tak kali ini saja. Komplain warga sudah dilakukan berkali-kali. Bahkan, hal tersebut sempat dibahas warga bersama pihak desa dan developer Oktober tahun lalu. Meski begitu, pertemuan tersebut tak membuahkan hasil. ” Pertemuan itu ya nggak membuahkan hasil. Katanya (jalan) dijanjikan akan dibangun tahun 2022 akhir, warga ya ndak mau kan terlalu lama,” ungkapnya.

Baca Juga :  Modernisasi Koperasi agar Adaptif dan Berdaya Saing

Disebutkannya, warga perumahan layak mendapat sejumlah fasum dan fasos tersebut sebagaimana mestinya. Pasalnya, sebelum membeli hunian tersebut, warga sudah dijelaskan terkait site plan perumahan. Namun, yang diperoleh warga saat ini, tak sesuai dengan rencana. ”Mestinya juga ada taman dan musala di dalam perumahan. Malahan, musala di sini dialihkan jadi balai pertemuan. Tanpa ada kesepakatan dengan warga,” bebernya.

Selain itu, fasum layaknya penerangan jalan dan tempat sampah komplek menimbulkan permasalahan. Kendati sejumlah tiang dan lampu penerangan sudah disediakan pihak developer, tagihan listriknya dibebankan ke warga.

- Advertisement -

Biaya listrik yang dibebankan pada warga dinilai cukup memberatkan. ”Satu bulan sekitar Rp 400 ribu dari 14 tiang lampu, itu dibayar dengan iuran warga,” tandasnya.

Baca Juga :  Mutasi Jilid III Digelar Pekan Ini

Sedangkan, sampah yang tak memadahi, memaksa warga komplek membakar sampah di depan rumah.”Sebelumnya warga bakar sampah sendiri di depan rumah, baru dua bulan lalu dibuatkan tempat sampah (oleh developer). Sekarang sudah over kapasitas, soalnya dibuatkan cuma satu (titik), itu pun ukurannya kecil,” paparnya.

Sementara itu, Pengawas Developer Griya Puri Asri Teguh mengatakan, pihaknya sudah menampung sejumlah keluhan warga RT 6 RW 1 Dusun Tegalsar, Desa Puri tersebut. Ia masih belum bisa bicara banyak lantaran komplain tersebut harus diteruskan ke pimpinan developer. ”Sudah kami tampung dan masih kami sampaikan ke atasan. Setahu saya untuk jalan (komplek) akan dibangun tahun depan dan 14 tiang penerangan beserta lampunya sudah kami sediakan,” sebutnya. (vad)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/