alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Tanggul Sungai Terlalu Rendah

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir tahunan akibat luapan Kali Lamong yang melanda tiga desa di Kecamatan Dawarblandong, surut total, Jumat (11/2). Aktivitas warga kembali normal meski dihantui banjir susulan. Namun, mereka tetap waspada lantaran tanggul sungai terlalu rendah.

Sejak pagi, warga Dusun Balong, Desa Banyulegi sibuk membersihkan sisa lumpur yang terbawa banjir. Ternak dan perabotan rumah yang diamankan di area masjid setempat, mulai dikembalikan. Di sana pula, sebagian besar warga bermalam.

Kades Banyulegi Toni mengatakan, banjir yang merendam Dusun Balong dan Dusun Mengarus mulai surut sekitar pukul 02.00. ”Sejak malam sebagian sudah ada yang tidur di rumahnya sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Dia bersama warga juga meninjau tanggul sungai yang sebelumnya diterabas banjir. Menurutnya, ketinggian tanggul sepanjang 350 meter yang berada tepat di belakang rumah warga, perlu ditingkatkan. Sebab, di kasus banjir tahunan kali ini, tanggul tersebut tak mampu menahan tingginya debit sungai. ”Kemarin pas ada bupati saya minta uruk. Karena (tanggul) itu kurang tinggi sedikit,” imbuhnya. Toni menyebut, setidaknya perlu ditingkatkan hingga setengah meter.

Peningkatan itu dinilai mendesak supaya banjir tak kembali masuk ke permukiman. Meskipun sudah langganan selama 20 tahun lebih dilanda banjir, kondisi ini membuat warga tak bisa tenang. Terlebih selama musim hujan masih berlangsung seperti saat ini. ”Kalau hujannya di daerah Nganjuk, Kertosono sana sudah bisa dipastikan (Desa Banyulegi) banjir. Tapi kalau yang hujan hanya Tuban, Lamongan isnyaallah aman,” katanya.

Baca Juga :  Anggota Meninggal, Dewan Daring

Peningakatan tanggul Kali Lamong yang melintas di Dusun Talunbrak, Desa Talunblandong tak kalah mendesaknya. Di lokasi ini, banjir merendam 55 rumah dan masjid, sejak Rabu malam (9/2). Banjir setinggi lutut orang dewasa ini merupakan yang terparah sejak lima tahun terakhir. Pasca surut kemarin, warga mengaku masih was-was banjir susulan.

”Masalah waspada terus berkaitan. Kami tetap dihantui hujan deras dan banjir meluap. Karena solusinya berupa pengerukan sungai dan tanggul belum ada,” tegas Kepala Dusun Talunbrak Wadi. Selama tidak ada normalisasi dan penanggulan sungai, lanjutnya, rutinitas banjir tetap membayangi warga.

Menurut Wadi, sungai terlalu dangkal sehingga perlu dikeruk. Selain itu, aliran sungai mudah meluap ke permukiman karena tidak ada tanggul. Setidaknya, kata Wadi, dibutuhkan tanggul setinggi tiga meter untuk membendung tingginya debit air sungai. ”Kalau di Balong kan ada. Kalau di sini tidak ada tanggul sama sekali. Saya kira, tiga meter ketingiannya sudah aman,” ucapnya.

Baca Juga :  Inspektorat Usut Oknum APIP Nakal

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat menyampaikan, peningkatan tanggul secara darurat sedang dalam tahap perencanaan pemkab. Tanah tanggul bakal dikuatkan dengan peninggian. ”Tanggulnya itu sudah peres dengan sungai. Mulai Talunblandong, Pulorejo, sampai Banyulegi,” jelasnya.

Peningkatan tanggul bakal dilakukan di sepanjang aliran yang melintasi tiga desa langganan banjir tersebut. Menurutnya, perkiraan pengerjaan dimulai dua bulan lagi. ”Dinas PUPR masih menunggu kalau sudah tidak hujan. Sekitar bulan April/Mei,” kata Djoko.

Namun, terkait normalisasi aliran Kali Lamong, tampaknya warga masih perlu bersabar lagi. Sebab, kata Djoko, hal ini masih dalam perencanaan BBWS Bengawan Solo. Tahun ini, tahapan sampai pada pengerjaan ’’larap” baru disusul pembebasan lahan pada tahun berikutnya. ”Kita tidak bisa normalisasi karena asetnya BBWS (Bengawan Solo), kalau penguatan tanggul kan hanya pinggirnya dan itu sudah ada koordinasi dengan pusat,” jelasnya. (adi/ron)

 

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir tahunan akibat luapan Kali Lamong yang melanda tiga desa di Kecamatan Dawarblandong, surut total, Jumat (11/2). Aktivitas warga kembali normal meski dihantui banjir susulan. Namun, mereka tetap waspada lantaran tanggul sungai terlalu rendah.

Sejak pagi, warga Dusun Balong, Desa Banyulegi sibuk membersihkan sisa lumpur yang terbawa banjir. Ternak dan perabotan rumah yang diamankan di area masjid setempat, mulai dikembalikan. Di sana pula, sebagian besar warga bermalam.

Kades Banyulegi Toni mengatakan, banjir yang merendam Dusun Balong dan Dusun Mengarus mulai surut sekitar pukul 02.00. ”Sejak malam sebagian sudah ada yang tidur di rumahnya sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Dia bersama warga juga meninjau tanggul sungai yang sebelumnya diterabas banjir. Menurutnya, ketinggian tanggul sepanjang 350 meter yang berada tepat di belakang rumah warga, perlu ditingkatkan. Sebab, di kasus banjir tahunan kali ini, tanggul tersebut tak mampu menahan tingginya debit sungai. ”Kemarin pas ada bupati saya minta uruk. Karena (tanggul) itu kurang tinggi sedikit,” imbuhnya. Toni menyebut, setidaknya perlu ditingkatkan hingga setengah meter.

Peningkatan itu dinilai mendesak supaya banjir tak kembali masuk ke permukiman. Meskipun sudah langganan selama 20 tahun lebih dilanda banjir, kondisi ini membuat warga tak bisa tenang. Terlebih selama musim hujan masih berlangsung seperti saat ini. ”Kalau hujannya di daerah Nganjuk, Kertosono sana sudah bisa dipastikan (Desa Banyulegi) banjir. Tapi kalau yang hujan hanya Tuban, Lamongan isnyaallah aman,” katanya.

Baca Juga :  19 Titik Proyek Saluran Masih Dikerjakan

Peningakatan tanggul Kali Lamong yang melintas di Dusun Talunbrak, Desa Talunblandong tak kalah mendesaknya. Di lokasi ini, banjir merendam 55 rumah dan masjid, sejak Rabu malam (9/2). Banjir setinggi lutut orang dewasa ini merupakan yang terparah sejak lima tahun terakhir. Pasca surut kemarin, warga mengaku masih was-was banjir susulan.

- Advertisement -

”Masalah waspada terus berkaitan. Kami tetap dihantui hujan deras dan banjir meluap. Karena solusinya berupa pengerukan sungai dan tanggul belum ada,” tegas Kepala Dusun Talunbrak Wadi. Selama tidak ada normalisasi dan penanggulan sungai, lanjutnya, rutinitas banjir tetap membayangi warga.

Menurut Wadi, sungai terlalu dangkal sehingga perlu dikeruk. Selain itu, aliran sungai mudah meluap ke permukiman karena tidak ada tanggul. Setidaknya, kata Wadi, dibutuhkan tanggul setinggi tiga meter untuk membendung tingginya debit air sungai. ”Kalau di Balong kan ada. Kalau di sini tidak ada tanggul sama sekali. Saya kira, tiga meter ketingiannya sudah aman,” ucapnya.

Baca Juga :  Azithromycin Diburu, Apotek Enggan Menjual

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat menyampaikan, peningkatan tanggul secara darurat sedang dalam tahap perencanaan pemkab. Tanah tanggul bakal dikuatkan dengan peninggian. ”Tanggulnya itu sudah peres dengan sungai. Mulai Talunblandong, Pulorejo, sampai Banyulegi,” jelasnya.

Peningkatan tanggul bakal dilakukan di sepanjang aliran yang melintasi tiga desa langganan banjir tersebut. Menurutnya, perkiraan pengerjaan dimulai dua bulan lagi. ”Dinas PUPR masih menunggu kalau sudah tidak hujan. Sekitar bulan April/Mei,” kata Djoko.

Namun, terkait normalisasi aliran Kali Lamong, tampaknya warga masih perlu bersabar lagi. Sebab, kata Djoko, hal ini masih dalam perencanaan BBWS Bengawan Solo. Tahun ini, tahapan sampai pada pengerjaan ’’larap” baru disusul pembebasan lahan pada tahun berikutnya. ”Kita tidak bisa normalisasi karena asetnya BBWS (Bengawan Solo), kalau penguatan tanggul kan hanya pinggirnya dan itu sudah ada koordinasi dengan pusat,” jelasnya. (adi/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Madu Makin Diburu

Kader Terbaik, Cerdas, dan Rendah Hati

Artikel Terbaru

/