alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Saat Positif Covid-19, Hindari Perut Kosong

Seolah tak pernah bisa dilupakan Kriswadi. Tepat di usianya yang ke-40 tahun, Covid-19 menderanya. Tak tanggung-tanggung. Keluarganya pun ikut terpapar virus asal Tiongkok itu. Termasuk sang istri yang tengah hamil 8 bulan.

Analis kesehatan di RSUD Prof dr Soekandar itu menceritakan, dirinya terpapar Covid-19 sebanyak dua kali. Mulai dari tanpa gejala hingga bergejala. Semua sudah dilewatinya. ’’Bahkan rentangnya berdekatan. Antara terpapar yang pertama kali sama terpapar yang kedua kurang lebih dua minggu,’’ ucapnya.

Ketika terpapar pertama, tepatnya awal Juli, Kris menuturkan, dia merasa lelah lebih dari biasanya. Ketika diukur suhu tubuhnya, sama sekali tidak berubah dan di atas suhu tubuh normal. ’’Makan pun rasanya tidak enak, tapi saya tetap isolasi dan dipaksa makan sambil minum obat arahan dokter,’’ ungkapnya.

Hanya butuh sepekan, Kris sudah dinyatakan sembuh. Namun, korona masih belum puas mengincar tubuh Kris. Pertengahan Juli, dua pekan kemudian, Kris kembali dinyatakan positif dari hasil uji Swab PCR. Tak pelak, satu keluarganya pun di-tracing. Bahkan, satu laboratorium tempatnya bertugas juga dilakukan testing.

Hasilnya, sepuluh orang positif Covid-19. ’’Ternyata benar. Semua positif. Mulai dari ibu mertua saya, istri dan anak pertama saya. Hanya anak kedua yang negatif,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Tanda Kulit saat Terpapar Covid-19

Dia membeberkan, pasca dinyatakan positif, dia dirawat terpisah. Baik istri, ibu mertua dan anaknya berada di ruang yang berbeda. Bahkan, sang istri juga akhirnya dilakukan tindakan lahiran sebelum waktunya akibat kondisi yang tak memungkinkan. ’’Bayi saya yang ketiga ini lahir prematur. Beratnya cuma 1.200 kilo. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah normal,’’ sebutnya.

Terkait perjuangannya melawan Covid-19, Kris membeberkan, yang ia pikirkan saat itu yakni harus tetap makan. Meski sudah mengalami anosmia dan semua makanan terasa hambar, ia tetap melahapnya. Bahkan, dia sampai berpesan kepada teman-temannya yang merawat untuk membelikannya bubur. ’’Kalau nggak pakai bubur, percuma disuapkan pakai nasi pasti muntah. Jadi saya cari cara lain gimana perut saya harus selalu terisi meskipun mulut rasanya pahit,’’ kenangnya.

Selain asupan makanan, Kris selalu rajin minum obat dari resep dokter yang merawatnya. Dalam 10 hari perawatan, total ada empat dokter yang visitasi melihat kondisinya. ’’Sehari bisa sampai enam kali minum obat, memang waktu itu ujian sekali buat saya dan keluarga,’’ ulasnya.

Baca Juga :  Terapkan Protokol Kesehatan Standar WHO

Kendati saat ini sudah dinyatakan sembuh, Kris mengakui, kondisi pernafasannya tak sebebas dulu. Dia kerap merasa mudah lelah. Bahkan, hingga saat ini, ketika naik tangga, dia cepat merasa lelah dan apek di bagian dada. ’’Memang kata dokter seperti itu, butuh waktu latihan agak lama agar bisa kembali seperti semula,”, terangnya.

Tak hanya itu, akibat terpapar Covid-19 tersebut, warga asli Kecamatan Pungging itu juga sempat tidak diperkenankan dokternya untuk melakukan uji swab dan rapid antigen kepada pasien. Pasalnya, jika mengambil sampel tersebut, otomatis harus mengenakan APD level 3. ’’Itu kan masih pengap. Napas saya belum kuat. Akhirnya, selama dua minggu saya hanya boleh ngecek sampel darah saja,’’ cetusnya.

Selain sebagai nakes, Ketua DPC Patelki Kabupaten Mojokerto itu juga berharap, masyarakat agar tak bersenang hati terlebih dahulu karena penurunan kasus ini. Sebab, status pandemi saat ini belum dinyatakan hilang oleh pemerintah. Apalagi ada isu virus varian baru. ’’Makanya saya harap warga tidak los prokes. Jangan sampai mereka merasakan terkena Covid-19, sangat menyiksa bahkan sudah sembuh pun masih terasa,” pungkasnya. 

Seolah tak pernah bisa dilupakan Kriswadi. Tepat di usianya yang ke-40 tahun, Covid-19 menderanya. Tak tanggung-tanggung. Keluarganya pun ikut terpapar virus asal Tiongkok itu. Termasuk sang istri yang tengah hamil 8 bulan.

Analis kesehatan di RSUD Prof dr Soekandar itu menceritakan, dirinya terpapar Covid-19 sebanyak dua kali. Mulai dari tanpa gejala hingga bergejala. Semua sudah dilewatinya. ’’Bahkan rentangnya berdekatan. Antara terpapar yang pertama kali sama terpapar yang kedua kurang lebih dua minggu,’’ ucapnya.

Ketika terpapar pertama, tepatnya awal Juli, Kris menuturkan, dia merasa lelah lebih dari biasanya. Ketika diukur suhu tubuhnya, sama sekali tidak berubah dan di atas suhu tubuh normal. ’’Makan pun rasanya tidak enak, tapi saya tetap isolasi dan dipaksa makan sambil minum obat arahan dokter,’’ ungkapnya.

Hanya butuh sepekan, Kris sudah dinyatakan sembuh. Namun, korona masih belum puas mengincar tubuh Kris. Pertengahan Juli, dua pekan kemudian, Kris kembali dinyatakan positif dari hasil uji Swab PCR. Tak pelak, satu keluarganya pun di-tracing. Bahkan, satu laboratorium tempatnya bertugas juga dilakukan testing.

Hasilnya, sepuluh orang positif Covid-19. ’’Ternyata benar. Semua positif. Mulai dari ibu mertua saya, istri dan anak pertama saya. Hanya anak kedua yang negatif,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Manfaatkan Libur Nataru, Tiket Objek Wisata Ditambah

Dia membeberkan, pasca dinyatakan positif, dia dirawat terpisah. Baik istri, ibu mertua dan anaknya berada di ruang yang berbeda. Bahkan, sang istri juga akhirnya dilakukan tindakan lahiran sebelum waktunya akibat kondisi yang tak memungkinkan. ’’Bayi saya yang ketiga ini lahir prematur. Beratnya cuma 1.200 kilo. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah normal,’’ sebutnya.

- Advertisement -

Terkait perjuangannya melawan Covid-19, Kris membeberkan, yang ia pikirkan saat itu yakni harus tetap makan. Meski sudah mengalami anosmia dan semua makanan terasa hambar, ia tetap melahapnya. Bahkan, dia sampai berpesan kepada teman-temannya yang merawat untuk membelikannya bubur. ’’Kalau nggak pakai bubur, percuma disuapkan pakai nasi pasti muntah. Jadi saya cari cara lain gimana perut saya harus selalu terisi meskipun mulut rasanya pahit,’’ kenangnya.

Selain asupan makanan, Kris selalu rajin minum obat dari resep dokter yang merawatnya. Dalam 10 hari perawatan, total ada empat dokter yang visitasi melihat kondisinya. ’’Sehari bisa sampai enam kali minum obat, memang waktu itu ujian sekali buat saya dan keluarga,’’ ulasnya.

Baca Juga :  Resmikan Poli Ekselutif dan Beri Santunan Yatim Piatu dan Masyarakat

Kendati saat ini sudah dinyatakan sembuh, Kris mengakui, kondisi pernafasannya tak sebebas dulu. Dia kerap merasa mudah lelah. Bahkan, hingga saat ini, ketika naik tangga, dia cepat merasa lelah dan apek di bagian dada. ’’Memang kata dokter seperti itu, butuh waktu latihan agak lama agar bisa kembali seperti semula,”, terangnya.

Tak hanya itu, akibat terpapar Covid-19 tersebut, warga asli Kecamatan Pungging itu juga sempat tidak diperkenankan dokternya untuk melakukan uji swab dan rapid antigen kepada pasien. Pasalnya, jika mengambil sampel tersebut, otomatis harus mengenakan APD level 3. ’’Itu kan masih pengap. Napas saya belum kuat. Akhirnya, selama dua minggu saya hanya boleh ngecek sampel darah saja,’’ cetusnya.

Selain sebagai nakes, Ketua DPC Patelki Kabupaten Mojokerto itu juga berharap, masyarakat agar tak bersenang hati terlebih dahulu karena penurunan kasus ini. Sebab, status pandemi saat ini belum dinyatakan hilang oleh pemerintah. Apalagi ada isu virus varian baru. ’’Makanya saya harap warga tidak los prokes. Jangan sampai mereka merasakan terkena Covid-19, sangat menyiksa bahkan sudah sembuh pun masih terasa,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Menebus Dosa Lama

Sehari, 625 Karton Migor Habis

Tren Oversize; Timeless & Fashionable

Artikel Terbaru


/