alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Pesona Pahat Patung Trowulan

Jejak peradaban era Kerajaan Majapahit yang pernah bermukim di Bumi Mojokerto terserak di Trowulan. Salah satunya kerajinan patung dari teknik pahat yang berkembang sejak tahun 60-an hingga kini. Kerajinan patung itu gampang ditemukan karena banyak dihasilkan masyarakat Trowulan khususnya Desa Watesumpak di pinggiran Jalan Raya Trowulan. Di kanan-kiri jalan Nasional, perajin biasa menaruh karya patungnya di halaman rumah. Sehingga, pengguna lalu lintas dapat melihat jelas karya mereka.

 

 

Aneka patung klasik era Majapahit seperti ganesha, Parwati, Buddha, hingga bermodel kontemporer seperti garuda hingga binatang diproduksi. Salah satu tempat kerajinan patung yang kondang adalah Padepokan Selo Aji yang dikelola Ribut Sumiyono.

Pria asli Trowulan itu sejak kelas VI SD belajar memahat batu andesit menjadi patung secara otodidak. Kini, lebih dari separo hidupnya dihabiskan sebagai pematung. Boleh dibilang, Cak Ribut -begitu dia akrab disapa- adalah maestro pemahat patung Trowulan. ’’Sekarang masih produksi meski tidak seramai sebelum pandemi,’’ ujar Ribut ditemui di Padepokan Selo Aji.

Baca Juga :  Kalah Pamor karena Bencana Alam dan Pembangunan Jalan

Cak Ribut menjelaskan, patung Trowulan sudah berkembang sejak lama. Dulu, dia belajar memahat dari pematung bernama Harun. Ketika itu, pematung masih segelintir saja. ’’Sekarang sudah ratusan orang sudah jadi pematung. Sudah berkembang pesat,’’ jelasnya.

Pemasaran patung pun sudah luas hingga luar Negeri. Patung karya Cak Ribut lebih banyak beredar di Eropa ketimbang Indonesia. Sayangnya, ekspor patung menurun akibat pandemi. ’’Lebih dari 50 persen karya saya itu untuk pasar luar negeri seperti Eropa dan Amerika,’’ sebut pria 63 tahun ini.

Orang luar Negeri, sambung dia, lebih suka patung gaya klasik. Yakni, patung era Kerajaan Majapahit seperti ganesha, nandi, lingga yoni, Siwa, Buddha, dan lainnya. Karya patung klasik itu berani dibeli orang luar negeri dengan harga tinggi. Mengingat, bahan, proses pembuatan, hingga kreativitas pembuatannya yang membutuhkan konsentrasi dan sentuhan tersendiri.

Baca Juga :  Rumah Dirobohkan lalu Tinggal di Gubuk Sebelah Kandang Kambing

Penggemar patung Trowulan dari pasar lokal, regional, maupun Nasional, relatif minim. Maklum, kebutuhan akan patung dikhususkan kalangan tertentu saja. Seperti untuk tempat peribadatan, hiasan dekoratif, hingga tempat kesenian. ’’Kalau pasar lokal kebanyak untuk fungsi dekoratif atau peribadatan,’’ kata Cak Ribut.

Pandemi, pasar masih sepi. Cak Ribut menuturkan, kendala pandemi membuat order patung menurun. Di luar itu, kendala bisnis patung relatif tidak ada. Untuk kebutuhan bahan baku, dirinya mengaku tidak pernah kesulitan dapat batu untuk patung. ’’Kalau untuk patung di Trowulan kebanyakan kiriman dari Blitar Gunung Kelud. Kalau pematung Muntilan Magelang tentu dari Merapi,’’ tutur dia.

Patung berbahan batu andesit memiliki keunggulan tersendiri. Bahan baku berupa batu bertekstur keras dan kuat membuat daya tahannya lama meski ditaruh luar ruangan. Patung bergaya klasik mengadopsi patung candi serupa tinggalan era kerajaan. ’’Itu adalah warisan budaya yang harus kita jaga,’’ pungkas Cak Ribut. 

Jejak peradaban era Kerajaan Majapahit yang pernah bermukim di Bumi Mojokerto terserak di Trowulan. Salah satunya kerajinan patung dari teknik pahat yang berkembang sejak tahun 60-an hingga kini. Kerajinan patung itu gampang ditemukan karena banyak dihasilkan masyarakat Trowulan khususnya Desa Watesumpak di pinggiran Jalan Raya Trowulan. Di kanan-kiri jalan Nasional, perajin biasa menaruh karya patungnya di halaman rumah. Sehingga, pengguna lalu lintas dapat melihat jelas karya mereka.

 

 

Aneka patung klasik era Majapahit seperti ganesha, Parwati, Buddha, hingga bermodel kontemporer seperti garuda hingga binatang diproduksi. Salah satu tempat kerajinan patung yang kondang adalah Padepokan Selo Aji yang dikelola Ribut Sumiyono.

Pria asli Trowulan itu sejak kelas VI SD belajar memahat batu andesit menjadi patung secara otodidak. Kini, lebih dari separo hidupnya dihabiskan sebagai pematung. Boleh dibilang, Cak Ribut -begitu dia akrab disapa- adalah maestro pemahat patung Trowulan. ’’Sekarang masih produksi meski tidak seramai sebelum pandemi,’’ ujar Ribut ditemui di Padepokan Selo Aji.

Baca Juga :  Kiai Reza: Peran Kiai dan Dokter Itu Sebelas-Dua Belas

Cak Ribut menjelaskan, patung Trowulan sudah berkembang sejak lama. Dulu, dia belajar memahat dari pematung bernama Harun. Ketika itu, pematung masih segelintir saja. ’’Sekarang sudah ratusan orang sudah jadi pematung. Sudah berkembang pesat,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Pemasaran patung pun sudah luas hingga luar Negeri. Patung karya Cak Ribut lebih banyak beredar di Eropa ketimbang Indonesia. Sayangnya, ekspor patung menurun akibat pandemi. ’’Lebih dari 50 persen karya saya itu untuk pasar luar negeri seperti Eropa dan Amerika,’’ sebut pria 63 tahun ini.

Orang luar Negeri, sambung dia, lebih suka patung gaya klasik. Yakni, patung era Kerajaan Majapahit seperti ganesha, nandi, lingga yoni, Siwa, Buddha, dan lainnya. Karya patung klasik itu berani dibeli orang luar negeri dengan harga tinggi. Mengingat, bahan, proses pembuatan, hingga kreativitas pembuatannya yang membutuhkan konsentrasi dan sentuhan tersendiri.

Baca Juga :  Formasi Guru-Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas

Penggemar patung Trowulan dari pasar lokal, regional, maupun Nasional, relatif minim. Maklum, kebutuhan akan patung dikhususkan kalangan tertentu saja. Seperti untuk tempat peribadatan, hiasan dekoratif, hingga tempat kesenian. ’’Kalau pasar lokal kebanyak untuk fungsi dekoratif atau peribadatan,’’ kata Cak Ribut.

Pandemi, pasar masih sepi. Cak Ribut menuturkan, kendala pandemi membuat order patung menurun. Di luar itu, kendala bisnis patung relatif tidak ada. Untuk kebutuhan bahan baku, dirinya mengaku tidak pernah kesulitan dapat batu untuk patung. ’’Kalau untuk patung di Trowulan kebanyakan kiriman dari Blitar Gunung Kelud. Kalau pematung Muntilan Magelang tentu dari Merapi,’’ tutur dia.

Patung berbahan batu andesit memiliki keunggulan tersendiri. Bahan baku berupa batu bertekstur keras dan kuat membuat daya tahannya lama meski ditaruh luar ruangan. Patung bergaya klasik mengadopsi patung candi serupa tinggalan era kerajaan. ’’Itu adalah warisan budaya yang harus kita jaga,’’ pungkas Cak Ribut. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/