alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Si Anak Jadi Asosial dan Cuek dengan Lingkungan

ERA teknologi informasi (TI) memang menjadikan peran dan tugas orang tua semakin berat. Berbeda dengan zaman dulu yang hanya hiburan dan akses informasinya sekadar mengandalkan media televisi dan radio. ’’Artinya, peran orang tua memperkuat anak bisa melakukan pemanfaatan gadget ke arah yang lebih positif,’’ kata Ketua Lembaga Pendampingan Perempuan dan Anak (LPPA) Bina Anisa Mojokerto, Hamidah.

Sebab, dewasa ini, tidak bisa dipungkiri menjamurnya gadget sangat memengaruhi perkembangan kejiwaan anak. Apalagi, dengan tawaran konten dan aplikasi beragam dan mudah diakses. ’’Hal utama yang harus diperhatikan adalah dampak radiasi ke otak anak,’’ imbuhnya.

Menurut Hamidah, seorang anak cenderung memanfaatkan gadget secara literatur dan pengalaman lapangan. Anak akan mudah mengalami gangguan konsentrasi lebih pendek. Sehingga, dampaknya, anak memilih asosial. Asosial berarti tidak adanya motivasi untuk melakukan interaksi sosial, atau lebih suka melakukan aktivitas sendiri. ’’Paling banyak anak akan bisa konsentrasi 4-5 menit saja,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Ning Ita Tanamkan Nilai Antikorupsi sejak Dini

Selain itu, anak berpotensi lupa berada dalam lingkungan dan memiliki teman. Mudah lupa potensi lain dan tidak bisa mengeksplor. ’’Misalnya, anak-anak punya potensi bernyanyi, menggambar dan bermain. Dengan gadget mereka akan sibuk dengan dunianya,’’ imbuhnya. Pun demikian dengan meningkatnya kasus kekerasan pada anak. Baik kasus pencabulan maupun persetubuhan mengakibatkan kehamilan di luar nikah.

Hamidah  mencotohkan, hasil survei terhadap korban dan pelaku sama-sama anak berusia 13 tahun. Selama setahun, mereka melakukan hubungan layaknya orang dewasa sampai lima kali, dan berakibat pada kehamilan. Keduanya pun mengaku belajar dari smartphone. ’’Gaya-gayanya juga meniru di handphone,’’ tegasnya.

Anehnya lagi, si korban tidak jika dirinya hamil. Hal itu terungkap, setelah ibu korban mengetahui perilaku dan perut korban yang perlahan membuncit. ’’Itu tidak satu kasus saja. Hampir semua kasus,’’ tegasnya. Untuk itu, peran orang tua menjadi penting dalam mengarahkan dan membentuk karakter anak.

Baca Juga :  Kabupaten Mojokerto Sandang Status Tanggap Darurat Bencana

Lingkungan positif dapat memberi pengaruh positif akan perkembangbiakan buah hati. Demikian pula sebaliknya. ’’Orang tua harus memberi perhatian lebih intens. Mulai, menemani, mendampingi, dan mengawasi pergaulannya. Sebab, bisa saja, lingkungan di dalam rumah positif, namun di luar rumah tidak,” tandas perempuan juga berprofesi sebagai pengacara ini.

ERA teknologi informasi (TI) memang menjadikan peran dan tugas orang tua semakin berat. Berbeda dengan zaman dulu yang hanya hiburan dan akses informasinya sekadar mengandalkan media televisi dan radio. ’’Artinya, peran orang tua memperkuat anak bisa melakukan pemanfaatan gadget ke arah yang lebih positif,’’ kata Ketua Lembaga Pendampingan Perempuan dan Anak (LPPA) Bina Anisa Mojokerto, Hamidah.

Sebab, dewasa ini, tidak bisa dipungkiri menjamurnya gadget sangat memengaruhi perkembangan kejiwaan anak. Apalagi, dengan tawaran konten dan aplikasi beragam dan mudah diakses. ’’Hal utama yang harus diperhatikan adalah dampak radiasi ke otak anak,’’ imbuhnya.

Menurut Hamidah, seorang anak cenderung memanfaatkan gadget secara literatur dan pengalaman lapangan. Anak akan mudah mengalami gangguan konsentrasi lebih pendek. Sehingga, dampaknya, anak memilih asosial. Asosial berarti tidak adanya motivasi untuk melakukan interaksi sosial, atau lebih suka melakukan aktivitas sendiri. ’’Paling banyak anak akan bisa konsentrasi 4-5 menit saja,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Mitigasi Hadapi Curah Hujan Tinggi

Selain itu, anak berpotensi lupa berada dalam lingkungan dan memiliki teman. Mudah lupa potensi lain dan tidak bisa mengeksplor. ’’Misalnya, anak-anak punya potensi bernyanyi, menggambar dan bermain. Dengan gadget mereka akan sibuk dengan dunianya,’’ imbuhnya. Pun demikian dengan meningkatnya kasus kekerasan pada anak. Baik kasus pencabulan maupun persetubuhan mengakibatkan kehamilan di luar nikah.

- Advertisement -

Hamidah  mencotohkan, hasil survei terhadap korban dan pelaku sama-sama anak berusia 13 tahun. Selama setahun, mereka melakukan hubungan layaknya orang dewasa sampai lima kali, dan berakibat pada kehamilan. Keduanya pun mengaku belajar dari smartphone. ’’Gaya-gayanya juga meniru di handphone,’’ tegasnya.

Anehnya lagi, si korban tidak jika dirinya hamil. Hal itu terungkap, setelah ibu korban mengetahui perilaku dan perut korban yang perlahan membuncit. ’’Itu tidak satu kasus saja. Hampir semua kasus,’’ tegasnya. Untuk itu, peran orang tua menjadi penting dalam mengarahkan dan membentuk karakter anak.

Baca Juga :  27 Akses Masuk Kota Ditutup

Lingkungan positif dapat memberi pengaruh positif akan perkembangbiakan buah hati. Demikian pula sebaliknya. ’’Orang tua harus memberi perhatian lebih intens. Mulai, menemani, mendampingi, dan mengawasi pergaulannya. Sebab, bisa saja, lingkungan di dalam rumah positif, namun di luar rumah tidak,” tandas perempuan juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/