alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Wednesday, June 29, 2022

Layanan Operasi Katarak dengan Teknik Operasi Phacoemulsifikasi

Oleh: dr Budi Samsul Fuad, Sp.M
dokter spesialis Mata RSUD RA Basoeni Kabupaten Mojokerto

SEIRING bertambahnya usia, kondisi kesehatan seseorang bisa semakin menurun, sehingga menjadi rentan mengalami berbagai macam penyakit. Hal ini juga membuat para lansia beresiko mengalami penyakit degeneratif, yaitu kondisi kesehatan yang terjadi akibat memburuknya suatu jaringan atau organ seiring waktu.

Penyakit degeneratif umumnya baru diketahui saat kondisi sudah parah. Penyebab penyakit degeneratif adalah karena bertambahnya usia dan gaya hidup yang tidak sehat. Menurut WHO, diperkirakan banyak negara mengalami kerugian hingga miliar dollar akibat penyakit degeneratif ini, oleh karena itu dibutuhkan langkah konkret untuk menanggulanginya.

Hingga saat ini penyakit degeneratif telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Hampir 17 juta orang meninggal lebih awal setiap tahun akibat epidemi global penyakit degeneratif (WHO).

Di Indonesia penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Proses degenerasi berhubungan dengan penuaan, ataupun komplikasi dari kondisi sistemik seperti diabetes mellitus atau penyakit mata seperti katarak.

Katarak merupakan proses degeneratif berupa kekeruhan di lensa bola mata akibatnya mengalami gangguan penglihatan karena obyek menjadi kabur. Katarak adalah penyebab utama kebutaan reversibel dan gangguan penglihatan secara global. Ganguan penglihatan yang terjadi tidak secara spontan. Melainkan secara perlahan dan dapat menimbulkan kebutaan.

Katarak kerap disebut-sebut sebagai penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia . Bahkan, mengacu pada data World Health Organization (WHO) katarak menyumbang sekitar 48 persen kasus kebutaan di dunia. Selain itu, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah subtropis. Sekitar 16 persen sampai 22 persen penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun.

Selama ini, katarak dijumpai pada orang yang berusia di atas 55 tahun sehingga sering diremehkan kaum muda. Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaannya yaitu dengan tindakan operasi. Seluruh pasien yang terdiagnosa katarak dianjurkan untuk melakukan operasi katarak.

Berdasarkan hasil penelitian ’’Aplikasi Theory of Planned Behavior dalam Membangkitkan Niat Pasien Untuk Melakukan Operasi Katarak’’ mengatakan, tingginya jumlah pasien katarak yang tidak menjalani operasi katarak dengan rata-rata 50,7 persen per bulan. Kebutaan dari katarak lebih sering terjadi pada populasi dengan status sosial ekonomi rendah dan di negara berkembang dari pada di negara maju.

Setiap tahun dilaporkan adanya peningkatan jumlah kasus katarak yang tidak sesuai dengan jumlah operasi katarak yang dilakukan, yang menyebabkan terjadinya penumpukan dalam program eliminasi katarak nasional di Indonesia. Satu-satunya pengobatan untuk katarak adalah operasi.

Baca Juga :  RSUD Prof dr Soekandar Mojokerto Penyakit Kanker Serviks Bisa Dicegah

Pachoemulsification adalah standar operasi yang terbaik dengan bantuan laser Femtosecond yang merupakan sebuah teknologi canggih untuk katarak di negara maju, sedangkan operasi katarak manual dengan sayatan kecil sering digunakan di negara berkembang.

Pada perkembangan pasar global, tingkat pertumbuhan mesin Phacoemulsification diperkirakan akan mendekati 4 persen selama periode 2019-2023, menurut laporan riset pasar terbaru oleh Technavio. Faktor yang mendorong pertumbuhan pasar global adalah meningkatnya prevalensi katarak. Prevalensi katarak telah meningkat di seluruh dunia.

Empat dari 10 orang cenderung menumbuhkan katarak pada tahap tertentu dalam hidup mereka. Jumlah operasi katarak yang dilakukan di seluruh dunia diperkirakan meningkat dari lebih dari 20 juta operasi pada tahun 2017 menjadi lebih dari 35 juta operasi pada tahun 2025.
Dengan meningkatnya insiden kasus katarak, kemajuan dalam teknik operasi katarak, perkembangan demografi, dan pertumbuhan populasi geriatri, permintaan untuk prosedur operasi katarak diperkirakan akan melonjak dalam waktu dekat.

’’Selain dari peningkatan prevalensi katarak, pasar perangkat fakoemulsifikasi global akan dipengaruhi secara positif oleh kemajuan teknologi dalam Phacoemulsification dan inisiatif untuk meningkatkan kesadaran dan akses ke Phacoemulsification di negara berkembang selama periode perkiraan,’’ kata analis senior di Technavio.

Phacoemulsification adalah operasi katarak modern yang pertama kali dikembangkan oleh Charles Kelman pada tahun 1967. Penemuan Phacoemulsification datang sebagai keuntungan bagi tenaga medis, dimana lensa katarak dapat diemulsi melalui sayatan kecil 2-3 mm, dan memberikan hasil visual yang sempurna. Ada banyak modifikasi teknik saat ini, tetapi teknik dasar Phacoemulsification tetap menjadi standar terbaik untuk penyembuhan katarak.

Hal ini melibatkan pembuatan sayatan kornea superior atau temporal yang jelas selebar 2-3 mm, sayatan dua sisi port pada 2-3 jam di kedua sisi luka utama. Pembuatan luka kecil merevolusi operasi katarak modern karena dapat menutup sendiri, netral secara astigmatis, kekuatan luka yang lebih baik secara anatomis, dan dengan insiden komplikasi yang lebih sedikit.

Pertumbuhan operasi Phacoemulsification untuk pengobatan katarak dikaitkan dengan prevalensi kasus katarak, peningkatan jumlah penderita diabetes, peningkatan populasi geriatri dan sifat prosedur yang minimal invasif. Namun, pasar menghadapi beberapa tantangan karena kepatuhan terhadap peraturan yang ketat, yang memungkinan komplikasi dan efek samping pascaoperasi, kurangnya kesadaran akan prosedur dan kurangnya tenaga profesional yang terampil.

Selain itu, tantangan terbesar saat ini terletak pada ’’penumpukan’’ pasien dengan kebutaan katarak di negara berkembang karena kurangnya akses ke operasi yang terjangkau. Upaya yang ditujukan untuk melatih tambahan ahli bedah katarak di negara-negara ini tidak sebanding dengan peningkatan terkait dengan penuaan demografi penduduk. Dengan tidak adanya strategi yang dapat mencegah atau menunda pembentukan katarak, maka penting untuk memfokuskan upaya dan sumber daya pada pengembangan model untuk memberikan pelayanan operasi katarak yang efisien di daerah tertinggal.

Baca Juga :  Siswa Kota Masuk, Kabupaten Diliburkan

Rumah Umum Daerah Raden Achmad Basoeni (RSUD RA Basoeni) memberikan pelayanan operasi katarak dengan menggunakan metode Phacoemulsification one day one care. Umumnya pasien tinggal dalam beberapa waktu di rumah sakit saat setelah melakukan operasi. Namun dengan metode Phacoemulsification one day one care pasien tidak memerlukan perawatan semalaman di rumah sakit.

Pasien diperbolehkan pulang setelah prosedur. Operasi Phacoemulsification tersedia di sangat sedikit rumah sakit pemerintah di indonesia dan akan dilakukan tanpa biaya di RSUD RA Basoeni. Operasi Phacoemulsification Tidak seperti operasi katarak umum, di mana seluruh mata dibuka untuk menghilangkan katarak, didalam proses Phacoemulsification hanya ada probe phaco, yang merupakan potongan bagian dari ultrasonik dengan jarum baja, yang ditusuk ke mata dan mengemulsi lensa katarak lalu menyedotnya keluar. Setelah melepas lensa katarak, lensa intra-okular yang dapat dilipat ditanamkan oleh injektor.

Menurut dokter, operasi katarak yang dilakukan dengan proses Phacoemulsification ini selesai dalam waktu 5 hingga 7 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit. Setelah melakukan operasi ini, luka dapat sembuh dengan cepat dengan masa rehabilitasi sangat singkat. Seorang pasien dapat bekerja secara normal dalam sehari setelah operasi dan pasca operasi.

Selain itu, operasi dapat dilakukan tanpa memberikan anestesi kepada pasien dan lebih bermanfaat bagi pasien yang memiliki penyakit jantung, paru-paru, ginjal, dan penyakit rumit lainnya. (*)

Sumber :
– Phacoemulsification by National Library of Medicine. Available online: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK576419/
– Phacoemulsificatio Divices Market Share to Grow by USD 559.66 million | 38% of Market Growth to Originate from North America | Technavio. Available online : https://www.prnewswire.com/news-releases/phacoemulsification-devices-market-share-to-grow-by-usd-559-66-million–38-of-market-growth-to-originate-from-north-america–technavio-301536579.html
– Handajani, A., Roosihemiatie, B., Maryani, H. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pola Kematian pada Penyakit Degeneratifdi Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan-Vol. 13 No. 1: 42-53
– Masnec, S., and Kalauz, M. 2022. Catacat Surgery. Intech open science, World’s largest Sience, Technology & Medicine Open Access book publisher.

Oleh: dr Budi Samsul Fuad, Sp.M
dokter spesialis Mata RSUD RA Basoeni Kabupaten Mojokerto

SEIRING bertambahnya usia, kondisi kesehatan seseorang bisa semakin menurun, sehingga menjadi rentan mengalami berbagai macam penyakit. Hal ini juga membuat para lansia beresiko mengalami penyakit degeneratif, yaitu kondisi kesehatan yang terjadi akibat memburuknya suatu jaringan atau organ seiring waktu.

Penyakit degeneratif umumnya baru diketahui saat kondisi sudah parah. Penyebab penyakit degeneratif adalah karena bertambahnya usia dan gaya hidup yang tidak sehat. Menurut WHO, diperkirakan banyak negara mengalami kerugian hingga miliar dollar akibat penyakit degeneratif ini, oleh karena itu dibutuhkan langkah konkret untuk menanggulanginya.

Hingga saat ini penyakit degeneratif telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Hampir 17 juta orang meninggal lebih awal setiap tahun akibat epidemi global penyakit degeneratif (WHO).

Di Indonesia penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Proses degenerasi berhubungan dengan penuaan, ataupun komplikasi dari kondisi sistemik seperti diabetes mellitus atau penyakit mata seperti katarak.

Katarak merupakan proses degeneratif berupa kekeruhan di lensa bola mata akibatnya mengalami gangguan penglihatan karena obyek menjadi kabur. Katarak adalah penyebab utama kebutaan reversibel dan gangguan penglihatan secara global. Ganguan penglihatan yang terjadi tidak secara spontan. Melainkan secara perlahan dan dapat menimbulkan kebutaan.

- Advertisement -

Katarak kerap disebut-sebut sebagai penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia . Bahkan, mengacu pada data World Health Organization (WHO) katarak menyumbang sekitar 48 persen kasus kebutaan di dunia. Selain itu, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah subtropis. Sekitar 16 persen sampai 22 persen penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun.

Selama ini, katarak dijumpai pada orang yang berusia di atas 55 tahun sehingga sering diremehkan kaum muda. Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaannya yaitu dengan tindakan operasi. Seluruh pasien yang terdiagnosa katarak dianjurkan untuk melakukan operasi katarak.

Berdasarkan hasil penelitian ’’Aplikasi Theory of Planned Behavior dalam Membangkitkan Niat Pasien Untuk Melakukan Operasi Katarak’’ mengatakan, tingginya jumlah pasien katarak yang tidak menjalani operasi katarak dengan rata-rata 50,7 persen per bulan. Kebutaan dari katarak lebih sering terjadi pada populasi dengan status sosial ekonomi rendah dan di negara berkembang dari pada di negara maju.

Setiap tahun dilaporkan adanya peningkatan jumlah kasus katarak yang tidak sesuai dengan jumlah operasi katarak yang dilakukan, yang menyebabkan terjadinya penumpukan dalam program eliminasi katarak nasional di Indonesia. Satu-satunya pengobatan untuk katarak adalah operasi.

Baca Juga :  Sumber Api Masih Menyala di Kawasan Hutan

Pachoemulsification adalah standar operasi yang terbaik dengan bantuan laser Femtosecond yang merupakan sebuah teknologi canggih untuk katarak di negara maju, sedangkan operasi katarak manual dengan sayatan kecil sering digunakan di negara berkembang.

Pada perkembangan pasar global, tingkat pertumbuhan mesin Phacoemulsification diperkirakan akan mendekati 4 persen selama periode 2019-2023, menurut laporan riset pasar terbaru oleh Technavio. Faktor yang mendorong pertumbuhan pasar global adalah meningkatnya prevalensi katarak. Prevalensi katarak telah meningkat di seluruh dunia.

Empat dari 10 orang cenderung menumbuhkan katarak pada tahap tertentu dalam hidup mereka. Jumlah operasi katarak yang dilakukan di seluruh dunia diperkirakan meningkat dari lebih dari 20 juta operasi pada tahun 2017 menjadi lebih dari 35 juta operasi pada tahun 2025.
Dengan meningkatnya insiden kasus katarak, kemajuan dalam teknik operasi katarak, perkembangan demografi, dan pertumbuhan populasi geriatri, permintaan untuk prosedur operasi katarak diperkirakan akan melonjak dalam waktu dekat.

’’Selain dari peningkatan prevalensi katarak, pasar perangkat fakoemulsifikasi global akan dipengaruhi secara positif oleh kemajuan teknologi dalam Phacoemulsification dan inisiatif untuk meningkatkan kesadaran dan akses ke Phacoemulsification di negara berkembang selama periode perkiraan,’’ kata analis senior di Technavio.

Phacoemulsification adalah operasi katarak modern yang pertama kali dikembangkan oleh Charles Kelman pada tahun 1967. Penemuan Phacoemulsification datang sebagai keuntungan bagi tenaga medis, dimana lensa katarak dapat diemulsi melalui sayatan kecil 2-3 mm, dan memberikan hasil visual yang sempurna. Ada banyak modifikasi teknik saat ini, tetapi teknik dasar Phacoemulsification tetap menjadi standar terbaik untuk penyembuhan katarak.

Hal ini melibatkan pembuatan sayatan kornea superior atau temporal yang jelas selebar 2-3 mm, sayatan dua sisi port pada 2-3 jam di kedua sisi luka utama. Pembuatan luka kecil merevolusi operasi katarak modern karena dapat menutup sendiri, netral secara astigmatis, kekuatan luka yang lebih baik secara anatomis, dan dengan insiden komplikasi yang lebih sedikit.

Pertumbuhan operasi Phacoemulsification untuk pengobatan katarak dikaitkan dengan prevalensi kasus katarak, peningkatan jumlah penderita diabetes, peningkatan populasi geriatri dan sifat prosedur yang minimal invasif. Namun, pasar menghadapi beberapa tantangan karena kepatuhan terhadap peraturan yang ketat, yang memungkinan komplikasi dan efek samping pascaoperasi, kurangnya kesadaran akan prosedur dan kurangnya tenaga profesional yang terampil.

Selain itu, tantangan terbesar saat ini terletak pada ’’penumpukan’’ pasien dengan kebutaan katarak di negara berkembang karena kurangnya akses ke operasi yang terjangkau. Upaya yang ditujukan untuk melatih tambahan ahli bedah katarak di negara-negara ini tidak sebanding dengan peningkatan terkait dengan penuaan demografi penduduk. Dengan tidak adanya strategi yang dapat mencegah atau menunda pembentukan katarak, maka penting untuk memfokuskan upaya dan sumber daya pada pengembangan model untuk memberikan pelayanan operasi katarak yang efisien di daerah tertinggal.

Baca Juga :  Tren Kasus Covid-19 Melandai

Rumah Umum Daerah Raden Achmad Basoeni (RSUD RA Basoeni) memberikan pelayanan operasi katarak dengan menggunakan metode Phacoemulsification one day one care. Umumnya pasien tinggal dalam beberapa waktu di rumah sakit saat setelah melakukan operasi. Namun dengan metode Phacoemulsification one day one care pasien tidak memerlukan perawatan semalaman di rumah sakit.

Pasien diperbolehkan pulang setelah prosedur. Operasi Phacoemulsification tersedia di sangat sedikit rumah sakit pemerintah di indonesia dan akan dilakukan tanpa biaya di RSUD RA Basoeni. Operasi Phacoemulsification Tidak seperti operasi katarak umum, di mana seluruh mata dibuka untuk menghilangkan katarak, didalam proses Phacoemulsification hanya ada probe phaco, yang merupakan potongan bagian dari ultrasonik dengan jarum baja, yang ditusuk ke mata dan mengemulsi lensa katarak lalu menyedotnya keluar. Setelah melepas lensa katarak, lensa intra-okular yang dapat dilipat ditanamkan oleh injektor.

Menurut dokter, operasi katarak yang dilakukan dengan proses Phacoemulsification ini selesai dalam waktu 5 hingga 7 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit. Setelah melakukan operasi ini, luka dapat sembuh dengan cepat dengan masa rehabilitasi sangat singkat. Seorang pasien dapat bekerja secara normal dalam sehari setelah operasi dan pasca operasi.

Selain itu, operasi dapat dilakukan tanpa memberikan anestesi kepada pasien dan lebih bermanfaat bagi pasien yang memiliki penyakit jantung, paru-paru, ginjal, dan penyakit rumit lainnya. (*)

Sumber :
– Phacoemulsification by National Library of Medicine. Available online: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK576419/
– Phacoemulsificatio Divices Market Share to Grow by USD 559.66 million | 38% of Market Growth to Originate from North America | Technavio. Available online : https://www.prnewswire.com/news-releases/phacoemulsification-devices-market-share-to-grow-by-usd-559-66-million–38-of-market-growth-to-originate-from-north-america–technavio-301536579.html
– Handajani, A., Roosihemiatie, B., Maryani, H. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pola Kematian pada Penyakit Degeneratifdi Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan-Vol. 13 No. 1: 42-53
– Masnec, S., and Kalauz, M. 2022. Catacat Surgery. Intech open science, World’s largest Sience, Technology & Medicine Open Access book publisher.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/