alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Serangan Virus PMK Meluas

Terdeteksi di 17 Kecamatan, Bupati Minta Warga Tak Panik

SEMENTARA itu, penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sapi di Kabupaten Mojokerto terus meluas. Hingga kemarin, virus tersebut sudah menyerang 17 kecamatan dari sebelumnya 16 kecamatan. Kendati demikian, Bupati Ikfina Fahmawati meminta warga tidak panik.

Sesuai data Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten, kini total 616 dari sebelumnya 523 ekor sapi yang terjangkit virus RNA sejenis Covid-19 itu. Tiga di antaranya sudah sembuh dan enam lainnya mati. Sedangkan satu dijual dan empat dipotong paksa. Angka itu menunjukkan ada kenaikan 93 kasus baru.

Bupati Ikfina Fahmawati meminta masyarakat tak panik. Sebab, meski virus ini sejenis dengan Covid-19, tetapi tak bisa menyerang manusia. Malainkan hanya menyerang pada hewan ruminansia. ’’Kita tidak bisa menolak ini menjadi wabah. Tapi terkait wabah ini masyarakat tak perlu panik. Bahwa ini penyakit yang disebabkan virus picorna yang menyerang ruminansia, tidak menyerang manusia. Justru manusia akan jadi penular, memindahkan virus dari hewan yang sakit ke hewan yang sehat,’’ ungkapnya, kemarin.

Sehingga, hemat Ikfina, peternak harus memperhatikan kehigenisannya saat menyentuh hewan ternaknya. Termasuk tidak boleh mencampur pakan dan minum sapi. Ikfina menegaskan, penularan PMK pada sapi di Mojokerto memang cukup masif. Sesuai data disperta, per hari kasus baru masih tinggi. Bisa tambus 100 ekor lebih. Namun, sesuai kondisi di lapangan, gejala yang ditimbulkan tak begitu parah.

Baca Juga :  Ajak Siswa TK dan KB Masuk Ruang Kerja Bupati

Terbukti, tiga sapi yang terjangkit diinjek dengan vitamin B kompleks, diberi penguat otot, kemudian antipiretik karena demam, dalam waktu dua hari setelah penyuntikan kondisinya membaik. Sapi tersebut mau makan, bisa berdiri, dan salivasinya (pengeluaran liur) juga berkurang. ’’Seperti yang disampaikan Pak Menteri pada rakor tadi malam besama Ibu Gubernur, ini jenis serotipe yang ringan. Sejenis Omicron kalau disejajarkan dengan Covid-19,’’ jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menunggu hasil identifikasi dari serotipe yang menyerang pada ratusan sapi ini. Ini untuk dibuatkan vaksinnya. ’’Supaya sapi yang lain, yang sehat itu nanti divaksin semua biar tidak tertular oleh yang sakit. Ini endingnya, cara kita menghentikan penularan. Kemarin sudah dilakukan tes-PCR juga,’’ paparnya.

Disebutnya, masa inkubasi virus ini sama sepert Covid-19 yakni selama dua minggu. Sehingga jika memang sapi itu tertular, maka butuh waktu sampai muncul gejala. Karena kenapa? Kata Ikfina, jika sapi itu belum muncul gejala tapi tertular, itu berpotensi menularkan ke yang lainnya. Hal itu selaras dengan tujuan pemda menutup pasar hewan dalam rangka sterilisasi untuk menghindari STG (Sapi tanpa gejala).

Baca Juga :  Bupati Ikfina Terima Penghargaan Anugerah Meritokrasi 2021

’’Makanya, sesuai data, angka kematian rendah dan persebarannya tinggi. Karena yang menyebarkan itu sapi-sapi yang dijual itu tadi. Sebenarnya di dalam kandang sudah kontak dan positif, tapi masih kondisi sehat, diperjualbelikan. Makanya langkah pertama kita menutup dulu pasar hewan,’’ bebernya.

Kini, semua ternak yang terjangkit PMK itu tersebar di 62 desa dengan jumlah masing-masing per desa bervariatif. Mulai satu ekor, 10 ekor, hingga 30-an ekor. Kasus paling tinggi tercatat di Kecamatan Pacet dan Dawarblandong. Di dua wilayah tersebut, ratusan sapi telah terjangkit.

Pantauan di Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong misalnya, hingga kemarin (9/5) terdapat sekitar 100 ekor sapi yang mengidap PMK. Gejala penyakit menular itu muncul sejak dua pekan terakhir. Hewan ternak mendadak tak doyan makan. Mulut sapi berlendir dan liur terus-terusan keluar dari hidung.

Pada tingkat kasus yang lebih parah, serangan PMK membuat sapi ambruk. Tubuhnya lemas dan bagian kuku terlepas. Senin (9/5), setidaknya empat sapi di Desa Suru sudah ambruk. Puncak penyakit yang menular dengan cepat ini telah mengakibatkan seekor sapi mati. Warga menyebut, sakit sehari langsung mati. (ori/ron)

Terdeteksi di 17 Kecamatan, Bupati Minta Warga Tak Panik

SEMENTARA itu, penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sapi di Kabupaten Mojokerto terus meluas. Hingga kemarin, virus tersebut sudah menyerang 17 kecamatan dari sebelumnya 16 kecamatan. Kendati demikian, Bupati Ikfina Fahmawati meminta warga tidak panik.

Sesuai data Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten, kini total 616 dari sebelumnya 523 ekor sapi yang terjangkit virus RNA sejenis Covid-19 itu. Tiga di antaranya sudah sembuh dan enam lainnya mati. Sedangkan satu dijual dan empat dipotong paksa. Angka itu menunjukkan ada kenaikan 93 kasus baru.

Bupati Ikfina Fahmawati meminta masyarakat tak panik. Sebab, meski virus ini sejenis dengan Covid-19, tetapi tak bisa menyerang manusia. Malainkan hanya menyerang pada hewan ruminansia. ’’Kita tidak bisa menolak ini menjadi wabah. Tapi terkait wabah ini masyarakat tak perlu panik. Bahwa ini penyakit yang disebabkan virus picorna yang menyerang ruminansia, tidak menyerang manusia. Justru manusia akan jadi penular, memindahkan virus dari hewan yang sakit ke hewan yang sehat,’’ ungkapnya, kemarin.

Sehingga, hemat Ikfina, peternak harus memperhatikan kehigenisannya saat menyentuh hewan ternaknya. Termasuk tidak boleh mencampur pakan dan minum sapi. Ikfina menegaskan, penularan PMK pada sapi di Mojokerto memang cukup masif. Sesuai data disperta, per hari kasus baru masih tinggi. Bisa tambus 100 ekor lebih. Namun, sesuai kondisi di lapangan, gejala yang ditimbulkan tak begitu parah.

Baca Juga :  Fokus Pemberian Vitamin

Terbukti, tiga sapi yang terjangkit diinjek dengan vitamin B kompleks, diberi penguat otot, kemudian antipiretik karena demam, dalam waktu dua hari setelah penyuntikan kondisinya membaik. Sapi tersebut mau makan, bisa berdiri, dan salivasinya (pengeluaran liur) juga berkurang. ’’Seperti yang disampaikan Pak Menteri pada rakor tadi malam besama Ibu Gubernur, ini jenis serotipe yang ringan. Sejenis Omicron kalau disejajarkan dengan Covid-19,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Sebagai tindak lanjut, saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menunggu hasil identifikasi dari serotipe yang menyerang pada ratusan sapi ini. Ini untuk dibuatkan vaksinnya. ’’Supaya sapi yang lain, yang sehat itu nanti divaksin semua biar tidak tertular oleh yang sakit. Ini endingnya, cara kita menghentikan penularan. Kemarin sudah dilakukan tes-PCR juga,’’ paparnya.

Disebutnya, masa inkubasi virus ini sama sepert Covid-19 yakni selama dua minggu. Sehingga jika memang sapi itu tertular, maka butuh waktu sampai muncul gejala. Karena kenapa? Kata Ikfina, jika sapi itu belum muncul gejala tapi tertular, itu berpotensi menularkan ke yang lainnya. Hal itu selaras dengan tujuan pemda menutup pasar hewan dalam rangka sterilisasi untuk menghindari STG (Sapi tanpa gejala).

Baca Juga :  Bupati Serahkan Paket Sembako untuk 186 Eks Penderita Kusta

’’Makanya, sesuai data, angka kematian rendah dan persebarannya tinggi. Karena yang menyebarkan itu sapi-sapi yang dijual itu tadi. Sebenarnya di dalam kandang sudah kontak dan positif, tapi masih kondisi sehat, diperjualbelikan. Makanya langkah pertama kita menutup dulu pasar hewan,’’ bebernya.

Kini, semua ternak yang terjangkit PMK itu tersebar di 62 desa dengan jumlah masing-masing per desa bervariatif. Mulai satu ekor, 10 ekor, hingga 30-an ekor. Kasus paling tinggi tercatat di Kecamatan Pacet dan Dawarblandong. Di dua wilayah tersebut, ratusan sapi telah terjangkit.

Pantauan di Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong misalnya, hingga kemarin (9/5) terdapat sekitar 100 ekor sapi yang mengidap PMK. Gejala penyakit menular itu muncul sejak dua pekan terakhir. Hewan ternak mendadak tak doyan makan. Mulut sapi berlendir dan liur terus-terusan keluar dari hidung.

Pada tingkat kasus yang lebih parah, serangan PMK membuat sapi ambruk. Tubuhnya lemas dan bagian kuku terlepas. Senin (9/5), setidaknya empat sapi di Desa Suru sudah ambruk. Puncak penyakit yang menular dengan cepat ini telah mengakibatkan seekor sapi mati. Warga menyebut, sakit sehari langsung mati. (ori/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/