alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Guru Takut Divaksin

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Salah satu guru SMP Negeri 1 Jetis Yeni Kurniawati mengaku sempat takut akan divaksin.  Sebab, vaksinasi Covid-19 ini masih terlalu awam dan berbeda dengan vaksin biasanya. Namun, demi bisa mengajar secara langsung, dia akhirnya memberi respons positif untuk vaksinasi ini. ”Ya sempat takut lah, namanya orang kan. Apalagi, ini bukan vaksin seperti biasanya. Masih banyak polemik tentang vaksin ini,” bebernya.

Pengajar ilmu Bahasa Indonesia itu menuturkan, sudah setahun lebih dirinya menghabiskan waktu mengajar secara daring. Menurut dia, pembelajaran daring sangat tidak maksimal. Dia berharap dengan datangnya vaksin ini, kebijakan tatap muka benar-benar bisa terealisasi. ”Harapannya, kebijakan tatap muka segera bisa dilaksanakan bulan Juli nanti,” tandasnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto mematangkan rencana pembukaan pembelajaran tatap muka (PTM) pasca guru mendapat vaksin. Terkait rencana itu, dispendik berkoodinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Sebab, vaksin guru mulai gelombang pertama hingga keempat hanya dilaksanakan bagi guru SD dan SMP.

Baca Juga :  Wanita Harus Berani Speak Up

”Masih ada guru PAUD dan TK yang mencapai 3.505 orang. Mereka ini rencananya akan divaksin jika SD-SMP sudah kelar semua,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto Zainul Arifin, kemarin  (10/3). Diketahui, total guru SD-SMP mencapai 7.837 orang. Sehingga, keseluruhan tenaga pendidik dari PAUD hingga SMP berjumlah sebanyak 11.342. Dia menegaskan, teknis pelaksanaan vaksin ini sudah dirapatkan bersama dengan dinkes. Guru hanya mendapat undangan saja berdasarkan lokasi vaksin. Kendati demikian, usai mendapatkan vaksinasi pembelajaran tatap muka tetap berjalan sesuai rencana. Bakal dimulai pada tahun ajaran baru nanti di bulan Juli. ”Karena instruksi dari pusat juga dinyatakan Juli baru bisa tatap muka kan, jadi kami ikut aturan saja,” ungkapnya.

Zainul menambahkan, pelaksanaan PTM di bulan April atau Mei tidak memungkinkan. Sebab, akan ada banyak agenda. Semisal, ulangan tengah semester (UTS), libur Hari Raya Idul Fitri, ujian kenaikan, dan penerimaan peserta didik baru (PPDB). Namun, jika memang proses vaksinasi guru bisa selesai lebih cepat dari perkiraan, pihaknya bakal langsung melakukan pelaporan dengan tim Satgas Covid-19.

Baca Juga :  Parkir di Trotoar, Dishub Turun Tangan

Zainul memprediksi bahwa, paling cepat di bulan April, pihaknya sudah bisa memberitahu tim satgas. Bahwa, vaksin di lingkup tenaga pendidik sudah selesai. Setelahnya, tim satgas bisa terjun ke lapangan untuk kembali meninjau persiapan tatap muka di tahun ajaran baru. ”Sebelum Juli lah mereka bisa turun ke lapangan, kami selesaikan persiapannya sebelum tahun ajaran baru,” tuturnya.

Dengan adanya vaksin ini, dia memprediksi bulan Juli nanti pelaksanaan tatap muka bisa langsung dilaksanakan. Sehingga, tak perlu ada kapasitas jumlah separo murid. Menurutnya, sistem kombinasi sendiri sejatinya memberatkan guru. Sebab, guru dituntut kerja dua kali lebih banyak. ”Harapannya begitu. Jadi Juli pun dari PAUD sampai SMP bisa masuk semua. Ya semoga bisa masuk semua tanpa sif-sifan lagi,” tandasnya.  (oce)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Salah satu guru SMP Negeri 1 Jetis Yeni Kurniawati mengaku sempat takut akan divaksin.  Sebab, vaksinasi Covid-19 ini masih terlalu awam dan berbeda dengan vaksin biasanya. Namun, demi bisa mengajar secara langsung, dia akhirnya memberi respons positif untuk vaksinasi ini. ”Ya sempat takut lah, namanya orang kan. Apalagi, ini bukan vaksin seperti biasanya. Masih banyak polemik tentang vaksin ini,” bebernya.

Pengajar ilmu Bahasa Indonesia itu menuturkan, sudah setahun lebih dirinya menghabiskan waktu mengajar secara daring. Menurut dia, pembelajaran daring sangat tidak maksimal. Dia berharap dengan datangnya vaksin ini, kebijakan tatap muka benar-benar bisa terealisasi. ”Harapannya, kebijakan tatap muka segera bisa dilaksanakan bulan Juli nanti,” tandasnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto mematangkan rencana pembukaan pembelajaran tatap muka (PTM) pasca guru mendapat vaksin. Terkait rencana itu, dispendik berkoodinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Sebab, vaksin guru mulai gelombang pertama hingga keempat hanya dilaksanakan bagi guru SD dan SMP.

Baca Juga :  Parkir di Trotoar, Dishub Turun Tangan

”Masih ada guru PAUD dan TK yang mencapai 3.505 orang. Mereka ini rencananya akan divaksin jika SD-SMP sudah kelar semua,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto Zainul Arifin, kemarin  (10/3). Diketahui, total guru SD-SMP mencapai 7.837 orang. Sehingga, keseluruhan tenaga pendidik dari PAUD hingga SMP berjumlah sebanyak 11.342. Dia menegaskan, teknis pelaksanaan vaksin ini sudah dirapatkan bersama dengan dinkes. Guru hanya mendapat undangan saja berdasarkan lokasi vaksin. Kendati demikian, usai mendapatkan vaksinasi pembelajaran tatap muka tetap berjalan sesuai rencana. Bakal dimulai pada tahun ajaran baru nanti di bulan Juli. ”Karena instruksi dari pusat juga dinyatakan Juli baru bisa tatap muka kan, jadi kami ikut aturan saja,” ungkapnya.

Zainul menambahkan, pelaksanaan PTM di bulan April atau Mei tidak memungkinkan. Sebab, akan ada banyak agenda. Semisal, ulangan tengah semester (UTS), libur Hari Raya Idul Fitri, ujian kenaikan, dan penerimaan peserta didik baru (PPDB). Namun, jika memang proses vaksinasi guru bisa selesai lebih cepat dari perkiraan, pihaknya bakal langsung melakukan pelaporan dengan tim Satgas Covid-19.

Baca Juga :  Dorong Produktivitas dan Hasil Pertanian

Zainul memprediksi bahwa, paling cepat di bulan April, pihaknya sudah bisa memberitahu tim satgas. Bahwa, vaksin di lingkup tenaga pendidik sudah selesai. Setelahnya, tim satgas bisa terjun ke lapangan untuk kembali meninjau persiapan tatap muka di tahun ajaran baru. ”Sebelum Juli lah mereka bisa turun ke lapangan, kami selesaikan persiapannya sebelum tahun ajaran baru,” tuturnya.

- Advertisement -

Dengan adanya vaksin ini, dia memprediksi bulan Juli nanti pelaksanaan tatap muka bisa langsung dilaksanakan. Sehingga, tak perlu ada kapasitas jumlah separo murid. Menurutnya, sistem kombinasi sendiri sejatinya memberatkan guru. Sebab, guru dituntut kerja dua kali lebih banyak. ”Harapannya begitu. Jadi Juli pun dari PAUD sampai SMP bisa masuk semua. Ya semoga bisa masuk semua tanpa sif-sifan lagi,” tandasnya.  (oce)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/