alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Sebulan, Sampah Medis RSUD Kota Tembus 5 Ton

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Seiring dengan meningkatnya pasien yang terdampak Covid-19, limbah medis di rumah sakit pun melonjak. Jumlah limbah medis yang dihasilkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto meningkat dua kali lipat selama pandemi.

”Kalau sebulan minimal sampahnya hanya satu sampai dua ton. Semenjak pandemi sekarang meningkat. Sebulan kurang lebih bisa sampai 5 ton,” ujar Kasi Penunjang Medis RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Anang Wahyudi, kemarin (9/11). Anang menambahkan, penanganan limbah medis, utamanya limbah medis dari penanganan pasien Covid-19 memiliki prosedur tersendiri.

Sebab, tergolong limbah infeksius. ”Prosedur penanganan limbah medis kami lakukan dan tidak bisa sembarangan. Kami kerja sama dengan pihak ketiga yang sudah ada lisensinya dari Kemenkes,” tuturnya. Limbah medis yang dibuang selama pandemi ini mengalami penambahan yang drastis. Lantaran jumlah pasien Covid-19 yang selalu meningkat.

Baca Juga :  Relokasi Pasar Kedungmaling Alot, Jumlah Pedagang Membengkak

Demikian pun dengan kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan (nakes) yang juga ikut meningkat. ”Pengeluaran juga pastinya tambah banyak, karena APD yang dibuang banyak dan sifatnya sekali pakai,” terangnya. Setiap hari limbah medis dikumpulkan di satu tempat khusus. Selanjutnya limbah tersebut diangkut oleh petugas kebersihan untuk dimusnahkan. ”Setiap pagi biasanya kami bakar langsung, setelah itu abunya dikirim ke pihak ketiga,” bebernya.

Selama pandemi sendiri, petugas memilah sampah medis jadi dua jenis di antaranya limbah medis domestik dan infeksius atau bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah medis domestik bisa berupa limbah seperti plastik, botol bekas. Sedangkan limbah medis infeksius tersebut bisa berupa APD sekali pakai, atau semua kebutuhan yang sudah digunakan pasien Covid-19.

Baca Juga :  Pangkas Masa Perawatan di Ruang Isolasi

Pengolahan limbah tersebut dibeda-bedakan berdasarkan jenisnya. Untuk limbah medis domestik di autoklaf selama satu sampai dua jam per cycle. Sedangkan untuk limbah medis infeksius dibakar dengan alat incenerator dengan durasi sama. ”Dalam satu siklus biasanya ada dua orang petugas yang nangani. Sistemnya sif, jadi ada yang sif pagi dan siang,” tandasnya. (oce)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Seiring dengan meningkatnya pasien yang terdampak Covid-19, limbah medis di rumah sakit pun melonjak. Jumlah limbah medis yang dihasilkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto meningkat dua kali lipat selama pandemi.

”Kalau sebulan minimal sampahnya hanya satu sampai dua ton. Semenjak pandemi sekarang meningkat. Sebulan kurang lebih bisa sampai 5 ton,” ujar Kasi Penunjang Medis RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Anang Wahyudi, kemarin (9/11). Anang menambahkan, penanganan limbah medis, utamanya limbah medis dari penanganan pasien Covid-19 memiliki prosedur tersendiri.

Sebab, tergolong limbah infeksius. ”Prosedur penanganan limbah medis kami lakukan dan tidak bisa sembarangan. Kami kerja sama dengan pihak ketiga yang sudah ada lisensinya dari Kemenkes,” tuturnya. Limbah medis yang dibuang selama pandemi ini mengalami penambahan yang drastis. Lantaran jumlah pasien Covid-19 yang selalu meningkat.

Baca Juga :  Relokasi Pasar Kedungmaling Alot, Jumlah Pedagang Membengkak

Demikian pun dengan kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan (nakes) yang juga ikut meningkat. ”Pengeluaran juga pastinya tambah banyak, karena APD yang dibuang banyak dan sifatnya sekali pakai,” terangnya. Setiap hari limbah medis dikumpulkan di satu tempat khusus. Selanjutnya limbah tersebut diangkut oleh petugas kebersihan untuk dimusnahkan. ”Setiap pagi biasanya kami bakar langsung, setelah itu abunya dikirim ke pihak ketiga,” bebernya.

Selama pandemi sendiri, petugas memilah sampah medis jadi dua jenis di antaranya limbah medis domestik dan infeksius atau bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah medis domestik bisa berupa limbah seperti plastik, botol bekas. Sedangkan limbah medis infeksius tersebut bisa berupa APD sekali pakai, atau semua kebutuhan yang sudah digunakan pasien Covid-19.

Baca Juga :  Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Bisa Membengkak hingga Dua Tahun

Pengolahan limbah tersebut dibeda-bedakan berdasarkan jenisnya. Untuk limbah medis domestik di autoklaf selama satu sampai dua jam per cycle. Sedangkan untuk limbah medis infeksius dibakar dengan alat incenerator dengan durasi sama. ”Dalam satu siklus biasanya ada dua orang petugas yang nangani. Sistemnya sif, jadi ada yang sif pagi dan siang,” tandasnya. (oce)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/