alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tradisi Ruwat Desa di Mojokerto Dibubarkan

Puluhan warga Dusun Tanjung, Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong menggelar acara sedekah bumi, Jumat (9/7). Ironisnya, kerumunan ini berlangsung di tengah persebaran virus korona dan penerapan PPKM darurat.

Lebih dari itu, angka meninggal akibat Covid-19 sempat meledak di desa tersebut. Dalam sebuah video dari salah satu warga yang beredar, tampak puluhan warga mengikuti kegiatan yang berlangsung di Punden Tanjung belakang balai dusun tersebut.

Dari yang muda sampai tua, semuanya berkumpul lesehan tanpa menjaga jarak. Bahkan, di antaranya tak bermasker. Mereka menjamu sajian makanan dan minuman sambil menikmati hiburan gamelan tari remo.

Kegiatan tersebut diduga digelar tanpa sepengetahuan pemdes maupun Satgas Covid-19 Kecamatan Dawarblandong. ”Memang tidak izin,” ungkap Sutarji, Kepala Dusun Tanjung kemarin. Dia menyebutkan, acara tersebut hanya berjalan tidak lebih dari setengah jam. Tarji mengaku kegiatan ini sudah tidak dilakukan selama dua tahun.

Baca Juga :  Ibu Ajak Balitanya Mengemis, Eksploitasi Anak Marak

Tradisi kenduren dengan menghadirkan tari remo ini digelar sebagai bentuk tolak bala. ”Hanya sekitar 15 menit. Mulai jam 2 siang dan tidak sampai setengah 3 sudah buyar,” imbuhnya.

Ketua BPD Temuireng Mohammad Mukhlis menegaskan, pihaknya tak mengetahui adanya kegiatan yang mengundang kerumunan itu. Tidak ada pemberitahuan maupun undangan dari penyelenggara.

Dia menyayangkan adanya ruwat desa yang diikuti kurang lebih 50 orang tersebut. Mengingat, beberapa waktu lalu kasus Covid-19 di Desa Temuireng sempat meledak. Lima warga meninggal dalam waktu dua minggu.

“Saya kaget ada info acara itu. Karena tidak ada pemberitahuan ke desa, dan saya tidak diundang, dan tidak tahu sama sekali,” katanya.

Baca Juga :  Dulu, Terpaksa Menikah dengan Cara Agama Berbeda

Mengetahui kabar acara kerumunan tersebut, pihak Satgas Covid-19 langsung mendatangi lokasi. Petugas meminta warga supaya kegiatan diakhiri dan segera meninggalkan lokasi.

Petugas Polsek Dawarblandong bersama Koramil Dawarblandong meminta warga untuk membubarkan diri. ”Tidak ada izin, sehingga ditegur,” kata

Kanitsabhara Polsek Dawarblandong Aiptu Khoiri.
Mengenai tindak lanjut dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) melakukan kegiatan berkerumun, pihaknya mengaku sejumlah pihak sudah dimintai klarifikasi. ”Tadi (kemarin, Red) sudah ke pak camat dan minta maaf. Kalau soal pelanggaran itu domain reserse,” tukasnya.

Kapolsek Dawarblandong AKP Made Arta Jaya mengaku belum mengetahui adanya informasi kegiatan ruwat desa maupun pembubaran tersebut. ”Saya sedang di rumah, (karena) sakit sedang isolasi mandiri. Saya ndak tahu (sedekah bumi dan pembubaran),” jelasnya. (adi)

Puluhan warga Dusun Tanjung, Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong menggelar acara sedekah bumi, Jumat (9/7). Ironisnya, kerumunan ini berlangsung di tengah persebaran virus korona dan penerapan PPKM darurat.

Lebih dari itu, angka meninggal akibat Covid-19 sempat meledak di desa tersebut. Dalam sebuah video dari salah satu warga yang beredar, tampak puluhan warga mengikuti kegiatan yang berlangsung di Punden Tanjung belakang balai dusun tersebut.

Dari yang muda sampai tua, semuanya berkumpul lesehan tanpa menjaga jarak. Bahkan, di antaranya tak bermasker. Mereka menjamu sajian makanan dan minuman sambil menikmati hiburan gamelan tari remo.

Kegiatan tersebut diduga digelar tanpa sepengetahuan pemdes maupun Satgas Covid-19 Kecamatan Dawarblandong. ”Memang tidak izin,” ungkap Sutarji, Kepala Dusun Tanjung kemarin. Dia menyebutkan, acara tersebut hanya berjalan tidak lebih dari setengah jam. Tarji mengaku kegiatan ini sudah tidak dilakukan selama dua tahun.

Baca Juga :  Urus Aset, KPK Apresiasi Pemkab Mojokerto

Tradisi kenduren dengan menghadirkan tari remo ini digelar sebagai bentuk tolak bala. ”Hanya sekitar 15 menit. Mulai jam 2 siang dan tidak sampai setengah 3 sudah buyar,” imbuhnya.

Ketua BPD Temuireng Mohammad Mukhlis menegaskan, pihaknya tak mengetahui adanya kegiatan yang mengundang kerumunan itu. Tidak ada pemberitahuan maupun undangan dari penyelenggara.

- Advertisement -

Dia menyayangkan adanya ruwat desa yang diikuti kurang lebih 50 orang tersebut. Mengingat, beberapa waktu lalu kasus Covid-19 di Desa Temuireng sempat meledak. Lima warga meninggal dalam waktu dua minggu.

“Saya kaget ada info acara itu. Karena tidak ada pemberitahuan ke desa, dan saya tidak diundang, dan tidak tahu sama sekali,” katanya.

Baca Juga :  24 Ribu Warga Belum Divaksin

Mengetahui kabar acara kerumunan tersebut, pihak Satgas Covid-19 langsung mendatangi lokasi. Petugas meminta warga supaya kegiatan diakhiri dan segera meninggalkan lokasi.

Petugas Polsek Dawarblandong bersama Koramil Dawarblandong meminta warga untuk membubarkan diri. ”Tidak ada izin, sehingga ditegur,” kata

Kanitsabhara Polsek Dawarblandong Aiptu Khoiri.
Mengenai tindak lanjut dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) melakukan kegiatan berkerumun, pihaknya mengaku sejumlah pihak sudah dimintai klarifikasi. ”Tadi (kemarin, Red) sudah ke pak camat dan minta maaf. Kalau soal pelanggaran itu domain reserse,” tukasnya.

Kapolsek Dawarblandong AKP Made Arta Jaya mengaku belum mengetahui adanya informasi kegiatan ruwat desa maupun pembubaran tersebut. ”Saya sedang di rumah, (karena) sakit sedang isolasi mandiri. Saya ndak tahu (sedekah bumi dan pembubaran),” jelasnya. (adi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/