alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Pacet dan Dawarblandong Paling Masif

KABUPATEN Mojokerto darurat penyakit mulut dan kuku (PMK). Kasus paling tinggi tercatat di Kecamatan Pacet dan Dawarblandong. Di dua wilayah tersebut, ratusan sapi telah terjangkit.

Pantauan di Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong misalnya, hingga kemarin (9/5) terdapat sekitar 100 ekor sapi yang mengidap PMK. Gejala penyakit menular itu muncul sejak dua pekan terakhir. Hewan ternak mendadak tak doyan makan. Mulut sapi berlendir dan liur terus-terusan keluar dari hidung. ”Harus didulang (disuapi) karena lidahnya ledeh,” kata Legimin, 70, peternak sapi di Desa Suru. Legimin merawat seekor sapi jenis semintal. Semenjak terjangkit PMK, bobot sapi berumur 17 bulan itu merosot.

Sapi milik Legimin masih mampu berdiri. Pada tingkat kasus yang lebih parah, serangan PMK membuat sapi ambruk. Tubuhnya lemas dan bagian kuku terlepas. Kemarin, setidaknya empat sapi di Desa Suru sudah ambruk. Puncak penyakit yang menular dengan cepat ini telah mengakibatkan seekor sapi mati. ”Sakit sehari langsung mati,” imbuh dia.

Baca Juga :  KUA Dituntut Lebih Serius Lakukan Pencegahan Perceraian

Rumadi, Ketua Kelompok Tani Tenanan Dusun/Desa Suru menyebut, terdapat sekitar 100 ekor sapi milik anggotanya yang terjangkit PMK. Ratusan sapi itu berada di kandang-kandang milik peternak yang jaraknya saling berdekatan. ”90 persennya kena penyakit ini,” ucapnya.
Sejak penyakit itu merebak, banyak warga yang panik hingga menjual sapi dengan harga murah. Sapi dengan kondisi sakit tersebut hanya laku Rp 6 juta-9 juta. Jauh dari harga normal. ”Takutnya daripada mati mending cepat-cepat dijual,” imbuh pria 63 tahun ini.

Di luar kelompok yang diketuai Rumadi, total kasus PMK di Kecamatan Dawarblandong diperkirakan tiga kali lipat lebih banyak. Kemarin, Disperta Kabupaten Mojokerto juga turun ke Desa Suru untuk melakukan penanganan cepat. Sapi-sapi yang mengalami gelaja klinis PMK langsung disuntik dengan empat jenis obat. Selain pengobatan, kandang-kandang sapi juga disemprot disinfektan. ”Persebarannya memang masif dari hari ke hari,” ungkap Kabid Kesehatan Hewan Disperta Kabupaten Mojokerto Drh Agoes Hardjito di lokasi.

Baca Juga :  Pemkab Bidik Keluarga Resiko Stunting

Menurutnya, persebaran PMK di Kecamatan Dawarblandong dan Pacet paling masif. Kasus terkonfirmasi PMK di dua wilayah dengan populasi sapi terbanyak ini mencapai 100 ekor lebih banyak dari kecamatan lain. Sedangkan, wilayah yang sejauh ini masih bebas PMK yakni Kecamatan Jatirejo dan Puri.

Mengingat tingginya penambahan kasus dan luas wilayah penyebaran, menurut Agoes, kondisi PMK di Mojokerto sudah darurat. Hal ini seiring dengan status kejadian luar biasa (KLB) yang ditetapkan Pemprov Jatim. ”Semacam Covid-19, hanya saja ini terjadi antara hewan ternak,” tuturnya. Dia merinci, penyebaran PMK sangat cepat. Penyakit itu bisa menular lewat air minum, rumput, udara, hingga liur. Selain itu, penggunaan alat-alat yang sama dan bergantian juga bisa menjadi media penyebaran.

Pihaknya melarang peternak menggunakan alat yang sama dan melakukan sterilisasi kandang secara rutin. ”Kita juga ada tim sosialisasi dan pengobatan itu kita beri secara gratis,” tandasnya. (adi/ron)

KABUPATEN Mojokerto darurat penyakit mulut dan kuku (PMK). Kasus paling tinggi tercatat di Kecamatan Pacet dan Dawarblandong. Di dua wilayah tersebut, ratusan sapi telah terjangkit.

Pantauan di Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong misalnya, hingga kemarin (9/5) terdapat sekitar 100 ekor sapi yang mengidap PMK. Gejala penyakit menular itu muncul sejak dua pekan terakhir. Hewan ternak mendadak tak doyan makan. Mulut sapi berlendir dan liur terus-terusan keluar dari hidung. ”Harus didulang (disuapi) karena lidahnya ledeh,” kata Legimin, 70, peternak sapi di Desa Suru. Legimin merawat seekor sapi jenis semintal. Semenjak terjangkit PMK, bobot sapi berumur 17 bulan itu merosot.

Sapi milik Legimin masih mampu berdiri. Pada tingkat kasus yang lebih parah, serangan PMK membuat sapi ambruk. Tubuhnya lemas dan bagian kuku terlepas. Kemarin, setidaknya empat sapi di Desa Suru sudah ambruk. Puncak penyakit yang menular dengan cepat ini telah mengakibatkan seekor sapi mati. ”Sakit sehari langsung mati,” imbuh dia.

Baca Juga :  Warga Tiga Gang Jalani Rapid Test

Rumadi, Ketua Kelompok Tani Tenanan Dusun/Desa Suru menyebut, terdapat sekitar 100 ekor sapi milik anggotanya yang terjangkit PMK. Ratusan sapi itu berada di kandang-kandang milik peternak yang jaraknya saling berdekatan. ”90 persennya kena penyakit ini,” ucapnya.
Sejak penyakit itu merebak, banyak warga yang panik hingga menjual sapi dengan harga murah. Sapi dengan kondisi sakit tersebut hanya laku Rp 6 juta-9 juta. Jauh dari harga normal. ”Takutnya daripada mati mending cepat-cepat dijual,” imbuh pria 63 tahun ini.

Di luar kelompok yang diketuai Rumadi, total kasus PMK di Kecamatan Dawarblandong diperkirakan tiga kali lipat lebih banyak. Kemarin, Disperta Kabupaten Mojokerto juga turun ke Desa Suru untuk melakukan penanganan cepat. Sapi-sapi yang mengalami gelaja klinis PMK langsung disuntik dengan empat jenis obat. Selain pengobatan, kandang-kandang sapi juga disemprot disinfektan. ”Persebarannya memang masif dari hari ke hari,” ungkap Kabid Kesehatan Hewan Disperta Kabupaten Mojokerto Drh Agoes Hardjito di lokasi.

Baca Juga :  Inspektur Kabupaten Mojokerto Mundur

Menurutnya, persebaran PMK di Kecamatan Dawarblandong dan Pacet paling masif. Kasus terkonfirmasi PMK di dua wilayah dengan populasi sapi terbanyak ini mencapai 100 ekor lebih banyak dari kecamatan lain. Sedangkan, wilayah yang sejauh ini masih bebas PMK yakni Kecamatan Jatirejo dan Puri.

- Advertisement -

Mengingat tingginya penambahan kasus dan luas wilayah penyebaran, menurut Agoes, kondisi PMK di Mojokerto sudah darurat. Hal ini seiring dengan status kejadian luar biasa (KLB) yang ditetapkan Pemprov Jatim. ”Semacam Covid-19, hanya saja ini terjadi antara hewan ternak,” tuturnya. Dia merinci, penyebaran PMK sangat cepat. Penyakit itu bisa menular lewat air minum, rumput, udara, hingga liur. Selain itu, penggunaan alat-alat yang sama dan bergantian juga bisa menjadi media penyebaran.

Pihaknya melarang peternak menggunakan alat yang sama dan melakukan sterilisasi kandang secara rutin. ”Kita juga ada tim sosialisasi dan pengobatan itu kita beri secara gratis,” tandasnya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/