alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Sunday, May 22, 2022

Alami Kelangkaan, Helm Proyek pun Disulap Jadi APD Tenaga Medis

MOJOKERTO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Di tengah pandemi Covid-19, Alat Pelindung Diri (APD) menjadi barang yang langka. Bahkan, paramedis yang notabene menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien virus korona juga sulit untuk mendapatkannya. 

Untuk menunjang kebutuhan itu, DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) berinisiatif memproduksi beberapa jenis APD. Di antaranya adalah face shield atau pelindung wajah yang diprioritaskan bagi perawat yang terjun langsung untuk menangani pasien Covid-19.

Ketua DPD PPNI Kabupaten Mojokerto H.M. Hartadi, menjelaskan, produksi face shield itu berawal karena sulitnya mendapatkan APD bagi paramedis. Kalau pun ada, harganya juga telah jauh melampaui harga normal. ’’Awalnya itu yang membuat kita prihatin,’’ paparnya.

Padahal, kata dia, tersedianya APD bagi tenaga kesehatan dalam penanganan Covid-19 menjadi hal yang wajib terpenuhi. Pasalnya, perlengkapan itulah yang bisa terlindungi perawat maupun dokter dari penularan virus korona.

Baca Juga :  Ning Ita Pastikan Pembangunan Bantuan Rumah Swadaya Lancar

Di Kabupaten Mojokerto, tercatat ada 1.900 lebih perawat yang tergabung dalam PPNI. ’’Sedangkan yang melayani di garda terdepan di UGD, puskesmas, dan rumah sakit ada sekitar 700-an,’’ paparnya.

Termasuk perawat yang bertugas di posko skrining pemudik yang berada di Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST) dan Gerbang Tol Penompo Jetis (Surabaya-Mojokerto). Namun, karena minimnya APD, maka timbul ide untuk memproduksi face shield.

Uniknya, produksi pelindung wajah tersebut dirakit dengan bahan seadanya. Yaitu, menggunakan bahan baku dari helm proyek. Selain itu, kaca pelindung juga dibuat dari mika plastik secara full face.

Proses pembuatannya juga terbilang cukup sederhana. Kaca pelindung dan helm direkatkan secara manual menggunakan bando dari potongan tong cat bekas. Keduanya dipasang dengan cara disekrup menggunakan bor.

Baca Juga :  Lahan Pertanian Menyusut, Properti dan Industri Tumbuh Subur

’’Harapannya minimal bisa mengamankan teman-teman perawat. Yang dimulai dari diri sendiri sehingga tidak berdampak pada keluarganya,’’ ujarnya. Hasil dari produksi APD itu tidak diperjualbelikan.

Melainkan akan dibagikan kepada 68 fasilitas kesehatan (faskes) se-Kabupaten Mojokerto. Masing-masing akan dijatah 3 item face shield yang diprioritaskan bagi petugas yang menangani langsung Covid-19.

Hartadi mengatakan, penyaluran APD tersebut tentu masih jauh dari angka kebutuhan. Untuk itu, sebagai organisasi yang menaungi perawat, pihaknya meminta kepada faskes pemerintah maupun swasta untuk menjamin kebutuhan APD bagi paramedis selama bertugas selama pandemi virus korona ini.

’’Kita sifatnya hanya support saja, karena untuk mengurangi risiko penularan langsung,’’ pungkasnya. Di samping membuat helm pelindung wajah, organisasi yang menaungi perawat ini juga memproduksi hand sanitizer dan masker kain yang diperuntukkan bagi tenaga medis. (abi)

 

MOJOKERTO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Di tengah pandemi Covid-19, Alat Pelindung Diri (APD) menjadi barang yang langka. Bahkan, paramedis yang notabene menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien virus korona juga sulit untuk mendapatkannya. 

Untuk menunjang kebutuhan itu, DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) berinisiatif memproduksi beberapa jenis APD. Di antaranya adalah face shield atau pelindung wajah yang diprioritaskan bagi perawat yang terjun langsung untuk menangani pasien Covid-19.

Ketua DPD PPNI Kabupaten Mojokerto H.M. Hartadi, menjelaskan, produksi face shield itu berawal karena sulitnya mendapatkan APD bagi paramedis. Kalau pun ada, harganya juga telah jauh melampaui harga normal. ’’Awalnya itu yang membuat kita prihatin,’’ paparnya.

Padahal, kata dia, tersedianya APD bagi tenaga kesehatan dalam penanganan Covid-19 menjadi hal yang wajib terpenuhi. Pasalnya, perlengkapan itulah yang bisa terlindungi perawat maupun dokter dari penularan virus korona.

Baca Juga :  APD Jadi Baju Lebaran, Belum Sempat Peluk Anak-Istri

Di Kabupaten Mojokerto, tercatat ada 1.900 lebih perawat yang tergabung dalam PPNI. ’’Sedangkan yang melayani di garda terdepan di UGD, puskesmas, dan rumah sakit ada sekitar 700-an,’’ paparnya.

Termasuk perawat yang bertugas di posko skrining pemudik yang berada di Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST) dan Gerbang Tol Penompo Jetis (Surabaya-Mojokerto). Namun, karena minimnya APD, maka timbul ide untuk memproduksi face shield.

- Advertisement -

Uniknya, produksi pelindung wajah tersebut dirakit dengan bahan seadanya. Yaitu, menggunakan bahan baku dari helm proyek. Selain itu, kaca pelindung juga dibuat dari mika plastik secara full face.

Proses pembuatannya juga terbilang cukup sederhana. Kaca pelindung dan helm direkatkan secara manual menggunakan bando dari potongan tong cat bekas. Keduanya dipasang dengan cara disekrup menggunakan bor.

Baca Juga :  Lahan Pertanian Menyusut, Properti dan Industri Tumbuh Subur

’’Harapannya minimal bisa mengamankan teman-teman perawat. Yang dimulai dari diri sendiri sehingga tidak berdampak pada keluarganya,’’ ujarnya. Hasil dari produksi APD itu tidak diperjualbelikan.

Melainkan akan dibagikan kepada 68 fasilitas kesehatan (faskes) se-Kabupaten Mojokerto. Masing-masing akan dijatah 3 item face shield yang diprioritaskan bagi petugas yang menangani langsung Covid-19.

Hartadi mengatakan, penyaluran APD tersebut tentu masih jauh dari angka kebutuhan. Untuk itu, sebagai organisasi yang menaungi perawat, pihaknya meminta kepada faskes pemerintah maupun swasta untuk menjamin kebutuhan APD bagi paramedis selama bertugas selama pandemi virus korona ini.

’’Kita sifatnya hanya support saja, karena untuk mengurangi risiko penularan langsung,’’ pungkasnya. Di samping membuat helm pelindung wajah, organisasi yang menaungi perawat ini juga memproduksi hand sanitizer dan masker kain yang diperuntukkan bagi tenaga medis. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Jadwal Dalang Mulai Padat

Ludruk Kembali Manggung


/