alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Petani Cabai Merugi

Harga Mahal, Gagal Panen

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Petani cabai di Kecamatan Dawarblandong terpuruk. Di tengah mahalnya harga cabai, banyak tanaman yang rusak. Kerugian akibat gagal panen ini ditaksir mencapai puluhan juta.

Kondisi tersebut hampir terjadi di sejumlah desa. Seperti yang dialami Eko Nur Avieanto. Petani asal Desa Banyulegi tersebut mengaku gagal panen tahun ini. Pasalnya, mayoritas cabai yang ditanam di lahan seluas 250 meter persegi gagal berbuah. ”Banyak yang tidak berbuah, kalau pun ada tidak bagus jadinya tidak maksimal,” keluhnya, kemarin (9/3).

Menurutnya, tanaman rusak dipengaruhi curah hujan yang tinggi. Batang pohon tak sehat dan daunnya kusut. Akibatnya, tanaman tak bisa berbuah normal. Selain itu, buahnya pun tak bisa tumbuh dengan bagus. ”Ibaratnya satu pohon dulu bisa dapat setengah kilo, sekarang satu ons,” ungkap petani yang juga menjabat Kepala Dusun Banyulegi tersebut.

Baca Juga :  Alfamart Raih Penghargaan Best CEO of the Year 2020

Kondisi demikian membuatnya merugi. Lebih-lebih dapat untung. Hasil panen sama sekali tak menutup biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan. Dia membandingkan, jika biasanya lahan tersebut bisa menghasilkan tiga kuintal cabai, kini hanya 15 kilogram cabai. ”Kalau kerugian ya sekitar Rp 10 juta. Buat bibit, pupuk, sampai pekerjannya juga,” ujarnya.

Keterpurukan juga dialami petani cabai di Desa Suru. Persoalan mereka adalah serangan hama yang membuat cabai kering dan daun keriting. Serangan hama yang biasa disebut petek itu melanda tanaman siap panen. ”Kalau dihitung yang memang tidak dapat untung,” ungkap Evi, salah satu petani.

Kondisi petani cabai kian miris lantaran saat ini harga cabai di tingkat petani tengah mahal. Kemarin, satu kilogramnya laku sekitar Rp 50 ribu. Petugas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) wilayah Kecamatan Dawarblandong dan Jetis, Fatkurhorman mengatakan, kerusakan tanaman cabai dipicu cuaca dan serangan hama.

Baca Juga :  Bupati Sidak Prokes PT Yakult dan PT Aice Ngoro Industrial Park (NIP)

Dampak cuaca terjadi lantaran model tanam petani yang masih tradisional tanpa mulsa. Selain itu, penggunaan jenis pupuk tertentu juga meningkatkan potensi serangan hama. ”Semakin banyak pemakaian urea cabai itu kurang tahan dengan bakteri di buahnya. Kalau misal pakai ZA atau NPK mungkin bisa menahan bakteri atau busuk buahnya,” jelas dia.

Pihaknya mengaku tengah melakukan monitoring terhadap petani cabai. Termasuk mereka yang mengalami gagal panen. Data hasil monitoring tersebut dibuat laporkan untuk kemudian menjadi bahan penyuluhan dan penanganan ke depan. (adi/ron)

Harga Mahal, Gagal Panen

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Petani cabai di Kecamatan Dawarblandong terpuruk. Di tengah mahalnya harga cabai, banyak tanaman yang rusak. Kerugian akibat gagal panen ini ditaksir mencapai puluhan juta.

Kondisi tersebut hampir terjadi di sejumlah desa. Seperti yang dialami Eko Nur Avieanto. Petani asal Desa Banyulegi tersebut mengaku gagal panen tahun ini. Pasalnya, mayoritas cabai yang ditanam di lahan seluas 250 meter persegi gagal berbuah. ”Banyak yang tidak berbuah, kalau pun ada tidak bagus jadinya tidak maksimal,” keluhnya, kemarin (9/3).

Menurutnya, tanaman rusak dipengaruhi curah hujan yang tinggi. Batang pohon tak sehat dan daunnya kusut. Akibatnya, tanaman tak bisa berbuah normal. Selain itu, buahnya pun tak bisa tumbuh dengan bagus. ”Ibaratnya satu pohon dulu bisa dapat setengah kilo, sekarang satu ons,” ungkap petani yang juga menjabat Kepala Dusun Banyulegi tersebut.

Baca Juga :  Mayoritas Alami Cidera Otak Berat

Kondisi demikian membuatnya merugi. Lebih-lebih dapat untung. Hasil panen sama sekali tak menutup biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan. Dia membandingkan, jika biasanya lahan tersebut bisa menghasilkan tiga kuintal cabai, kini hanya 15 kilogram cabai. ”Kalau kerugian ya sekitar Rp 10 juta. Buat bibit, pupuk, sampai pekerjannya juga,” ujarnya.

Keterpurukan juga dialami petani cabai di Desa Suru. Persoalan mereka adalah serangan hama yang membuat cabai kering dan daun keriting. Serangan hama yang biasa disebut petek itu melanda tanaman siap panen. ”Kalau dihitung yang memang tidak dapat untung,” ungkap Evi, salah satu petani.

- Advertisement -

Kondisi petani cabai kian miris lantaran saat ini harga cabai di tingkat petani tengah mahal. Kemarin, satu kilogramnya laku sekitar Rp 50 ribu. Petugas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) wilayah Kecamatan Dawarblandong dan Jetis, Fatkurhorman mengatakan, kerusakan tanaman cabai dipicu cuaca dan serangan hama.

Baca Juga :  Wabup Pungkasiadi Segera Naik Tahta

Dampak cuaca terjadi lantaran model tanam petani yang masih tradisional tanpa mulsa. Selain itu, penggunaan jenis pupuk tertentu juga meningkatkan potensi serangan hama. ”Semakin banyak pemakaian urea cabai itu kurang tahan dengan bakteri di buahnya. Kalau misal pakai ZA atau NPK mungkin bisa menahan bakteri atau busuk buahnya,” jelas dia.

Pihaknya mengaku tengah melakukan monitoring terhadap petani cabai. Termasuk mereka yang mengalami gagal panen. Data hasil monitoring tersebut dibuat laporkan untuk kemudian menjadi bahan penyuluhan dan penanganan ke depan. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/