alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Bulog Mulai Serap Gabah Petani

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Rendahnya harga gabah di Kabupaten Mojokerto perlahan mendapat respons Bulog. Perum Bulog Cabang Surabaya Selatan segera membuka keran penyerapan padi mulai pekan ini. Turunnya lembaga pangan ini diharapkan menjadi angin segar bagi petani lokal jelang panen raya.

Demikian disampaikan Kepala Perum Bulog cabang Subaraya Selatan Renato Horison. Selama ini, menurutnya, penyerapan gabah dari petani dilakukan setelah ada kontrak pengajuan dari petani maupun mitra penggilingan. Pihaknya mengaku, kesempatan penyerapan itu sudah terbuka sejak awal tahun. Namun, belum ada hasil panen petani padi lokal yang masuk gudang Bulog. ’’Kami dapat kontraknya dari petani ataupun mitra. Mitra sendiri baru mengajukannya minggu-minggu ini. Terkait proses pengadaan dari awal Januari sudah kita buka,’’ katanya.

Baca Juga :  UGD Disiagakan 24 Jam, Puskesmas dan RS Buka Pelayanan saat Lebaran

Menurutnya, dengan adanya pengajuan ini, pihaknya memprediksi gabah dari petani akan mulai masuk gudang Bulog dalam waktu dekat. ’’Kemungkinan untuk realisasi minggu ini harusnya sudah ada yang masuk ke Bulog,’’ tambahnya.

Lambatnya penyerapan ini, dikatakannya, karena pihaknya baru menerima kontrak dari mitra. Selain itu, hal ini juga terjadi karena harga gabah kering giling (GKG) masih bertahan di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Yakni Rp 5,3 ribu per kilogram yang menjadi patokan Bulog dalam melakukan pembelian dari petani. ’’Kalau sekarang harga GKG sudah turun mendekati HPP. Sehigga seharusnya sudah bisa masuk,’’ tutur Renato.

Pihaknya mengaku tertundanya penyerapan gabah dari petani tidak ada hubungannya dengan rencana pemerintah pusat mengimpor beras. Menurutnya, hal ini terjadi semata karena kendala cuaca buruk dan kualitas rendah yang membuat hasil panen tidak maksimal. Sehingga belum memenuhi kriteria GKG dengan kadar air maksimal 14 persen dan kotoran maksimal 3 persen. ’’Kalau itu (impor beras, Red) kami kurang tahu. Kami sendiri fokus penyerapan hasil panen di tahun ini. Bagaimana caranya kita bisa menyerap hasil petani itu sebanyak-banyaknya. Kalau bisa soal impor itu hanya wacana saja. Karena kami lebih memprioritaskan penyerapan dalam negeri,’’ terangnya. (adi)

Baca Juga :  Gus Barra Berpeci, Gus Fahmi Pakai Topi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Rendahnya harga gabah di Kabupaten Mojokerto perlahan mendapat respons Bulog. Perum Bulog Cabang Surabaya Selatan segera membuka keran penyerapan padi mulai pekan ini. Turunnya lembaga pangan ini diharapkan menjadi angin segar bagi petani lokal jelang panen raya.

Demikian disampaikan Kepala Perum Bulog cabang Subaraya Selatan Renato Horison. Selama ini, menurutnya, penyerapan gabah dari petani dilakukan setelah ada kontrak pengajuan dari petani maupun mitra penggilingan. Pihaknya mengaku, kesempatan penyerapan itu sudah terbuka sejak awal tahun. Namun, belum ada hasil panen petani padi lokal yang masuk gudang Bulog. ’’Kami dapat kontraknya dari petani ataupun mitra. Mitra sendiri baru mengajukannya minggu-minggu ini. Terkait proses pengadaan dari awal Januari sudah kita buka,’’ katanya.

Baca Juga :  Murah Banget, Sekali Short Time Cuma Rp 70 Ribu

Menurutnya, dengan adanya pengajuan ini, pihaknya memprediksi gabah dari petani akan mulai masuk gudang Bulog dalam waktu dekat. ’’Kemungkinan untuk realisasi minggu ini harusnya sudah ada yang masuk ke Bulog,’’ tambahnya.

Lambatnya penyerapan ini, dikatakannya, karena pihaknya baru menerima kontrak dari mitra. Selain itu, hal ini juga terjadi karena harga gabah kering giling (GKG) masih bertahan di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Yakni Rp 5,3 ribu per kilogram yang menjadi patokan Bulog dalam melakukan pembelian dari petani. ’’Kalau sekarang harga GKG sudah turun mendekati HPP. Sehigga seharusnya sudah bisa masuk,’’ tutur Renato.

Pihaknya mengaku tertundanya penyerapan gabah dari petani tidak ada hubungannya dengan rencana pemerintah pusat mengimpor beras. Menurutnya, hal ini terjadi semata karena kendala cuaca buruk dan kualitas rendah yang membuat hasil panen tidak maksimal. Sehingga belum memenuhi kriteria GKG dengan kadar air maksimal 14 persen dan kotoran maksimal 3 persen. ’’Kalau itu (impor beras, Red) kami kurang tahu. Kami sendiri fokus penyerapan hasil panen di tahun ini. Bagaimana caranya kita bisa menyerap hasil petani itu sebanyak-banyaknya. Kalau bisa soal impor itu hanya wacana saja. Karena kami lebih memprioritaskan penyerapan dalam negeri,’’ terangnya. (adi)

Baca Juga :  Gus Barra Berpeci, Gus Fahmi Pakai Topi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/