alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Kuteks Dikemas Limbah Medis Bisa Sebabkan Anak Inveksi

MOJOKERTO – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto, Ch Indah Wahyu mengungkapkan, pemakaian bekas limbah medis bisa sangat membahayakan bagi kesehatan.

Oleh karena itu, semua bekas peralatan medis harus dikelola secara khusus karena masuk dalam kategori bahan beracun berbahaya (B3). ”Semua barang atau obat yang terkait dengan sisa terapi, otomatis merupakan barang yang berbahaya. Harus dikelola sesuai prosedur limbah bahan berbahaya,” terangnya.

Dikhawatirkan, limbah tersebut bisa menyebabkan sumber infeksi kepada masyarakat umum. Terutama, pada bekas peralatan medis yang cara penggunaannya dilakukan kontak langsung kepada pasien.

Pada alat injeksi misalnya. Karena cara pemberian obatnya dilakukan dengan memasukkan jarum melalui kontak intravena maupun intramuscular. Sehingga limbah alat tersebut harus dikelola dengan dimusnahkan.

Baca Juga :  Nasib Batik Mojokerto, Kaya Motif, Miskin Branding

”Karena bisa saja tanpa sepengatahuan kita ternyata itu menyebabkan inveksi. Meski pun itu hanya vialnya saja,” cetusnya. Mengingat, sisa obat pada vial atau botol juga bisa berbahaya bagi kesehatan. Meski botol bekas tersebut telah dicuci bersih, namun hal itu belum bisa menjadi jaminan keamanan.

Karena, sebut Indah, proses pencuciannya harus melalui tahapan sesuai standar pengelolahan limbah B3. ”Kalau botolnya, sebetulnya kan tidak kontak langsung dengan infeksiusnya, tapi jika ada sisa-sisa obatnya itu yang berbahaya,” tandasnya.

Dia mengaku, pihaknya akan segera menelusuri peredaran produk kuteks maupun mainan lain yang menggunkan bahan limbah medis. Dia memperkirakan, barang tersebut didapatkan dari luar wilayah Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Sudah Musim Hujan, Proyek Normalisasi Belum Juga Tuntas

Sebab, Indah mengaku seluruh sarana pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas di Kota Onde-Onde telah bekerja sama dengan pengelola limbah B3. ”Nanti kita akan telusuri. Karena kaitannya barang yang inveksius, sehingga dilarang untuk digunakan,” cetusnya.

Untuk itu, dia meminta masyarakat agar lebih waspada terhadap penggunaan barang bekas yang memiliki risiko menyebabkan infeksi. Terlebih, jika penggunaannya di kalangan oleh anak-anak.

MOJOKERTO – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto, Ch Indah Wahyu mengungkapkan, pemakaian bekas limbah medis bisa sangat membahayakan bagi kesehatan.

Oleh karena itu, semua bekas peralatan medis harus dikelola secara khusus karena masuk dalam kategori bahan beracun berbahaya (B3). ”Semua barang atau obat yang terkait dengan sisa terapi, otomatis merupakan barang yang berbahaya. Harus dikelola sesuai prosedur limbah bahan berbahaya,” terangnya.

Dikhawatirkan, limbah tersebut bisa menyebabkan sumber infeksi kepada masyarakat umum. Terutama, pada bekas peralatan medis yang cara penggunaannya dilakukan kontak langsung kepada pasien.

Pada alat injeksi misalnya. Karena cara pemberian obatnya dilakukan dengan memasukkan jarum melalui kontak intravena maupun intramuscular. Sehingga limbah alat tersebut harus dikelola dengan dimusnahkan.

Baca Juga :  Lebih Khidmat, Wisuda Digelar Luring
- Advertisement -

”Karena bisa saja tanpa sepengatahuan kita ternyata itu menyebabkan inveksi. Meski pun itu hanya vialnya saja,” cetusnya. Mengingat, sisa obat pada vial atau botol juga bisa berbahaya bagi kesehatan. Meski botol bekas tersebut telah dicuci bersih, namun hal itu belum bisa menjadi jaminan keamanan.

Karena, sebut Indah, proses pencuciannya harus melalui tahapan sesuai standar pengelolahan limbah B3. ”Kalau botolnya, sebetulnya kan tidak kontak langsung dengan infeksiusnya, tapi jika ada sisa-sisa obatnya itu yang berbahaya,” tandasnya.

Dia mengaku, pihaknya akan segera menelusuri peredaran produk kuteks maupun mainan lain yang menggunkan bahan limbah medis. Dia memperkirakan, barang tersebut didapatkan dari luar wilayah Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Grand Final Kolase, Diisi Peragaan Busana Mom and Kids

Sebab, Indah mengaku seluruh sarana pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas di Kota Onde-Onde telah bekerja sama dengan pengelola limbah B3. ”Nanti kita akan telusuri. Karena kaitannya barang yang inveksius, sehingga dilarang untuk digunakan,” cetusnya.

Untuk itu, dia meminta masyarakat agar lebih waspada terhadap penggunaan barang bekas yang memiliki risiko menyebabkan infeksi. Terlebih, jika penggunaannya di kalangan oleh anak-anak.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/