alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Hasil Jepretan Lebih Orisinal

DIGITALISASI membuat yang tradisional tersingkir. Termasuk eksistensi fotografi analog yang tergerus kamera digital. Kendati bekeradaanya sulit dicari. Di sejumlah kota besar justru mengalami masa kejayaan.

Meskipun rol film dan tempat cetak mulai banyak yang gulung tikar. Namun, otentitas foto dan pengalaman vintage memberikan nuansa yang tak tergantikan.

Salah satu pemuda yang masih menggeluti kamera analog Fahmi Haqqi. Dia mengaku saat ini eksistensi kamera analog memang menjadi tren baru. Teturama di kota-kota besar, seperti Surabaya. ”Kalau di Mojokerto memang tidak terlalu banyak yang minat sepertinya,” kata pria 20 tahun tersebut.

Setidaknya selama setahun terakhir, Fahmi mulai memakai kamera analog. Menurutnya, ada bagian yang tetap tidak tergantikan dari hasil jepretan analog. Utamanya adalah otentitas atau keaslian foto yang tampak lebih riil.

Baca Juga :  Siswa Akan Hadapi Tatanan Baru di Tahun Ajaran Baru

Hal ini, berkaitan dengan fungsi pencahaayaan yang dihasilkan secara langsung tanpa bantuan exposure sebagaimana yang terdapat pada kamera-kamera digital. ”Fotonya lebih ada ceritanya saja. Terus warnanya (hasil foto) memang beda daripada digital,” lanjutnya.

Dia mengatakan, warna foto hasil jepretan analog lebih sesuai dengan kenyataan. Lantaran tak membutuhkan sumber energi, kamera ini juga tak dilengkapi baterai. Selain itu, kamera analog lebih menyimpan banyak kesulitan yang justru memberi pengalaman tersendiri bagi fotografer.

Piranti-piranti kamera analog disusun  secara manual. Seperti penyertaan rol film yang kini mulai sulit ditemukan. Lebih jelimet lagi proses cetaknya yang butuh  alat khusus dan lagi-lagi hanya ada di kota-kota besar. ”Paling dekat di Surabaya yang ada tempat cetak. Di sana justru jadi bisnis baru dan jadi tren,”  ungkapnya.

Baca Juga :  Pemkab Gelontor Peralatan IKM Rp 749 Juta

Fahmi pun mengamini hal ini. Dia mengaku untuk mendapatkan satu roll film berisi 36 frames dibelinya dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Bergantung dari merek dan jumlah frames.

Sementara itu, untuk jenis kamera pocket analog second dihargai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah. ”Biayanya sekarang memang mahal. Buat nyuci (klise) juga gampang-gampang susah,” imbuhnya. (adi)

 

 

 

 

DIGITALISASI membuat yang tradisional tersingkir. Termasuk eksistensi fotografi analog yang tergerus kamera digital. Kendati bekeradaanya sulit dicari. Di sejumlah kota besar justru mengalami masa kejayaan.

Meskipun rol film dan tempat cetak mulai banyak yang gulung tikar. Namun, otentitas foto dan pengalaman vintage memberikan nuansa yang tak tergantikan.

Salah satu pemuda yang masih menggeluti kamera analog Fahmi Haqqi. Dia mengaku saat ini eksistensi kamera analog memang menjadi tren baru. Teturama di kota-kota besar, seperti Surabaya. ”Kalau di Mojokerto memang tidak terlalu banyak yang minat sepertinya,” kata pria 20 tahun tersebut.

Setidaknya selama setahun terakhir, Fahmi mulai memakai kamera analog. Menurutnya, ada bagian yang tetap tidak tergantikan dari hasil jepretan analog. Utamanya adalah otentitas atau keaslian foto yang tampak lebih riil.

Baca Juga :  Pemkot Terima Bantuan 50 Ton Pupuk dari PT Petrokimia

Hal ini, berkaitan dengan fungsi pencahaayaan yang dihasilkan secara langsung tanpa bantuan exposure sebagaimana yang terdapat pada kamera-kamera digital. ”Fotonya lebih ada ceritanya saja. Terus warnanya (hasil foto) memang beda daripada digital,” lanjutnya.

Dia mengatakan, warna foto hasil jepretan analog lebih sesuai dengan kenyataan. Lantaran tak membutuhkan sumber energi, kamera ini juga tak dilengkapi baterai. Selain itu, kamera analog lebih menyimpan banyak kesulitan yang justru memberi pengalaman tersendiri bagi fotografer.

- Advertisement -

Piranti-piranti kamera analog disusun  secara manual. Seperti penyertaan rol film yang kini mulai sulit ditemukan. Lebih jelimet lagi proses cetaknya yang butuh  alat khusus dan lagi-lagi hanya ada di kota-kota besar. ”Paling dekat di Surabaya yang ada tempat cetak. Di sana justru jadi bisnis baru dan jadi tren,”  ungkapnya.

Baca Juga :  THL Diusulkan Dapat Rp 600 Ribu

Fahmi pun mengamini hal ini. Dia mengaku untuk mendapatkan satu roll film berisi 36 frames dibelinya dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Bergantung dari merek dan jumlah frames.

Sementara itu, untuk jenis kamera pocket analog second dihargai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah. ”Biayanya sekarang memang mahal. Buat nyuci (klise) juga gampang-gampang susah,” imbuhnya. (adi)

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/