alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

NIP Dituding Jadi Biang Banjir

NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir luapan Avour Sumberwaru Selasa (07/12) malam, tak hanya berdampak terhadap minimarket dan ratusan rumah warga. Namun, 15 hektare sawah turut terendam. Banjir terparah sejak 10 tahun terakhir ini diduga karena perluasan wilayah Ngoro Industri Persada (NIP) tanpa disertai pembuatan saluran baru.

Kepala Desa Kembangsri Mohammad  Lamadi mengatakan, banjir yang merendam dua dusun di desanya itu merupakan banjir terparah sejak tahun 2011 silam. Karena, 150 rumah terendam banjir. Bahkan, 15 hektare area persawahan turut terendam.

Selain itu, luapan air sungai itu turut menyapu tiga titik tanggul Avour Sumberwaru hingga jebol. Setidaknya, tanggul dari tembok batu bata yang ambrol itu mencapai 35 meter. ”Ada tiga titik yang jebol, satu titik panjangnya 10 meter, ada yang 5 meter, dan yang terparah ini sampai 20 meter,” sebutnya.

Baca Juga :  Pemerintah Dorong Pesantren Manfaatkan KUR untuk Berjiwa Usaha

Selain akibat derasnya guyuran hujan, banjir terparah itu akibat minimnya lahan resapan di lereng gunung penanggungan akibat perluasan lahan Ngoro Industri Persada. Karena, Avour Sumberwari jadi satu-satunya saluran pembuangan air dari NIP menuju Sungai Brantas. ”Dulu, sebelum ada NIP masih biasa. Sekarang kondisinya jadi begini,” ungkapnya.

Anggota komisi IV DPRD Kabupaten Mojokerto Eko Sutrisno turut buka suara terkait banjir terparah yang melanda Desa Kembangsri itu. Dikatakannya, sejauh ini total ada enam desa di Kecamatan Ngoro yang menjadi langganan banjir luapan Avour Sumberwaru itu. Yakni, Desa Tambakrejo, Candiharjo, Kembangsri, Sedati, Jasem, dan Ngoro.

Pihaknya turut menyoroti perluasan kawasan NIP yang kurang memperhatikan lingkungan. Terutama terkait saluran pembuangan air dari objek vital nasional itu. Eko meminta, pihak NIP dan Pemkab Mojokerto segera memberikan solusi terhadap permasalahan menahun itu. ”Setidaknya NIP ini bikin satu saluran (alternatif) baru. Jadi supaya di sini tidak menumpuk. Padahal setiap tahun kawasan NIP itu terus diperluas. Ini harus ada solusinya supaya tidak terus terulang setiap turun hujan,” tegasnya di lokasi.  

Baca Juga :  Komandan Puspenerbal: Kepribadian Bangsa Harus Berkarakter Maritim

Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Mojokerto telah menyediakan puluhan karung dan pasir guna pembangunan tanggul sementara. Tak lain guna mengantisipasi adanya banjir susulan dalam waktu dekat. ”Memang semestinya tanggul di Avour Sumberwaru itu di-plengseng atau permanen seperti yang sekarang sedang dibangun di Desa Tempuran (Kecamatan Sooko). Itu sudah kami koordinasikan dengan pihak terkait sekaligus BBWS Brantas,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat. (vad/ron)

NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir luapan Avour Sumberwaru Selasa (07/12) malam, tak hanya berdampak terhadap minimarket dan ratusan rumah warga. Namun, 15 hektare sawah turut terendam. Banjir terparah sejak 10 tahun terakhir ini diduga karena perluasan wilayah Ngoro Industri Persada (NIP) tanpa disertai pembuatan saluran baru.

Kepala Desa Kembangsri Mohammad  Lamadi mengatakan, banjir yang merendam dua dusun di desanya itu merupakan banjir terparah sejak tahun 2011 silam. Karena, 150 rumah terendam banjir. Bahkan, 15 hektare area persawahan turut terendam.

Selain itu, luapan air sungai itu turut menyapu tiga titik tanggul Avour Sumberwaru hingga jebol. Setidaknya, tanggul dari tembok batu bata yang ambrol itu mencapai 35 meter. ”Ada tiga titik yang jebol, satu titik panjangnya 10 meter, ada yang 5 meter, dan yang terparah ini sampai 20 meter,” sebutnya.

Baca Juga :  Serabi Rasa Daun Kelor, Warna dan Rasa Lebih Alami

Selain akibat derasnya guyuran hujan, banjir terparah itu akibat minimnya lahan resapan di lereng gunung penanggungan akibat perluasan lahan Ngoro Industri Persada. Karena, Avour Sumberwari jadi satu-satunya saluran pembuangan air dari NIP menuju Sungai Brantas. ”Dulu, sebelum ada NIP masih biasa. Sekarang kondisinya jadi begini,” ungkapnya.

Anggota komisi IV DPRD Kabupaten Mojokerto Eko Sutrisno turut buka suara terkait banjir terparah yang melanda Desa Kembangsri itu. Dikatakannya, sejauh ini total ada enam desa di Kecamatan Ngoro yang menjadi langganan banjir luapan Avour Sumberwaru itu. Yakni, Desa Tambakrejo, Candiharjo, Kembangsri, Sedati, Jasem, dan Ngoro.

Pihaknya turut menyoroti perluasan kawasan NIP yang kurang memperhatikan lingkungan. Terutama terkait saluran pembuangan air dari objek vital nasional itu. Eko meminta, pihak NIP dan Pemkab Mojokerto segera memberikan solusi terhadap permasalahan menahun itu. ”Setidaknya NIP ini bikin satu saluran (alternatif) baru. Jadi supaya di sini tidak menumpuk. Padahal setiap tahun kawasan NIP itu terus diperluas. Ini harus ada solusinya supaya tidak terus terulang setiap turun hujan,” tegasnya di lokasi.  

Baca Juga :  ASC Foundation Bantu Ratusan Nakes dan Ojol
- Advertisement -

Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Mojokerto telah menyediakan puluhan karung dan pasir guna pembangunan tanggul sementara. Tak lain guna mengantisipasi adanya banjir susulan dalam waktu dekat. ”Memang semestinya tanggul di Avour Sumberwaru itu di-plengseng atau permanen seperti yang sekarang sedang dibangun di Desa Tempuran (Kecamatan Sooko). Itu sudah kami koordinasikan dengan pihak terkait sekaligus BBWS Brantas,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat. (vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/