alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Belum Tuntas, Tanah Ambles

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto– Pembangunan jalan beton antardesa di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto yang ambles, ternyata belum sepenuhnya tuntas. Proyek yang dimulai September lalu, masih proses pemotongan (cutting) beton.

Kades Mojosarirejo, Wahyudi mengatakan, proyek swakelola ini belum rampung. Karena, saat ini, proses pembangunan masih berjalan. ’’Pengerjaan mulai September. Saat ini masih proses cutting,’’ ungkap Kades Mojosarirejo, Wahyudi, kemarin.

Cutting merupakan proses pemotongan konstruksi jalan cor menjadi beberapa bagian tiap beberapa meter. Hal itu untuk mengantisipasi kerusakan beton yang lebih parah. Namun, saat cutting belum rampung, tanah penyangga cor ambles yang berakibat pada patahnya konstruksi beton. Akses jalan antardesa di Kecamatan Kemlagi ini pun terputus. ’’Kedalaman sampai 2 meter lebih,’’ tegasnya.

Amblesnya jalan beton penghubung antara Desa Mojosarirejo dan Mojojajar ini tak hanya sekali saja. 4 Desember, kerusakan tak begitu parah. Amblesnya tanah masih terjadi di tepi jalan. Namun, dua hari kemudian, Senin (6/12), kerusakan menjalar. Patahan beton menjadi 15 meter. ’’Itu terjadi saat hujan deras yang mengakibatkan debit air Sungai Marmoyo naik. Dugaan awal tergerus air sungai dari bawah,’’ paparnya.

Baca Juga :  Ruang Isolasi Penuh, Warga Bakal Diisolasi ke Luar Kota

Sebab, lanjutnya, sebelum proyek ini dikerjakan, tiga bulan sebelumnya, tanggul sungai Marmoyo yang berjarak tiga meter dari jalan beton beberapa kali mengalami longsor. Agar tidak melebar, warga sekitar memasang anyaman bambu sebagai penahan tanah.

Selain itu, desa juga melakukan pengerasan tanah dengan alat berat. Nahasnya, upaya itu dinilai gagal setelah tanah yang menjadi tumpuhan beton malah ambles. ’’Selain itu, di pinggiran jalan, tanahnya juga retak-retak seperti terkikis air sungai,’’ ujarnya.

Proyek sepanjang 900 meter dan lebar tiga meter ini menelan anggaran Rp 600 juta. Ini merupakan Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) yang dilakukan Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Baca Juga :  Grand Final Dimeriahkan Pertunjukan Seni

Angka tersebut diperuntukkan untuk akses penghubung Desa Mojosarirejo sepanjang 700 meter dan Mojojajar sepanjang 200 meter.  ’’Dari total pengerjaan 900 meter, yang rawan longsor sekitar 30 meter,’’ tuturnya.

Sebagai tindak lanjut, saat ini tengah dilakukan pemasangan beton pancang oleh BBWS Brantas selaku pemangku wewenang di sepanjang aliran sungai Marmoyo. Dengan mendatangkan alat berat, pengerjaan sudah dimulai kemarin. Dilanjutkan pemasangan tanggul sekitar 6 meter. ’’Setelah itu, (jalan) baru akan kita beton lagi karena ada sisa Rp 30 juta dari anggaran tersebut. Ini masih kita konsultasikan dengan pendamping PISEW,’’ katanya. (ori/ron)

 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto– Pembangunan jalan beton antardesa di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto yang ambles, ternyata belum sepenuhnya tuntas. Proyek yang dimulai September lalu, masih proses pemotongan (cutting) beton.

Kades Mojosarirejo, Wahyudi mengatakan, proyek swakelola ini belum rampung. Karena, saat ini, proses pembangunan masih berjalan. ’’Pengerjaan mulai September. Saat ini masih proses cutting,’’ ungkap Kades Mojosarirejo, Wahyudi, kemarin.

Cutting merupakan proses pemotongan konstruksi jalan cor menjadi beberapa bagian tiap beberapa meter. Hal itu untuk mengantisipasi kerusakan beton yang lebih parah. Namun, saat cutting belum rampung, tanah penyangga cor ambles yang berakibat pada patahnya konstruksi beton. Akses jalan antardesa di Kecamatan Kemlagi ini pun terputus. ’’Kedalaman sampai 2 meter lebih,’’ tegasnya.

Amblesnya jalan beton penghubung antara Desa Mojosarirejo dan Mojojajar ini tak hanya sekali saja. 4 Desember, kerusakan tak begitu parah. Amblesnya tanah masih terjadi di tepi jalan. Namun, dua hari kemudian, Senin (6/12), kerusakan menjalar. Patahan beton menjadi 15 meter. ’’Itu terjadi saat hujan deras yang mengakibatkan debit air Sungai Marmoyo naik. Dugaan awal tergerus air sungai dari bawah,’’ paparnya.

Baca Juga :  Denyut Nadi Ekonomi Perbatasan

Sebab, lanjutnya, sebelum proyek ini dikerjakan, tiga bulan sebelumnya, tanggul sungai Marmoyo yang berjarak tiga meter dari jalan beton beberapa kali mengalami longsor. Agar tidak melebar, warga sekitar memasang anyaman bambu sebagai penahan tanah.

Selain itu, desa juga melakukan pengerasan tanah dengan alat berat. Nahasnya, upaya itu dinilai gagal setelah tanah yang menjadi tumpuhan beton malah ambles. ’’Selain itu, di pinggiran jalan, tanahnya juga retak-retak seperti terkikis air sungai,’’ ujarnya.

- Advertisement -

Proyek sepanjang 900 meter dan lebar tiga meter ini menelan anggaran Rp 600 juta. Ini merupakan Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) yang dilakukan Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Baca Juga :  Eksis di Tengah Riuh Redam Wacana Jembatan

Angka tersebut diperuntukkan untuk akses penghubung Desa Mojosarirejo sepanjang 700 meter dan Mojojajar sepanjang 200 meter.  ’’Dari total pengerjaan 900 meter, yang rawan longsor sekitar 30 meter,’’ tuturnya.

Sebagai tindak lanjut, saat ini tengah dilakukan pemasangan beton pancang oleh BBWS Brantas selaku pemangku wewenang di sepanjang aliran sungai Marmoyo. Dengan mendatangkan alat berat, pengerjaan sudah dimulai kemarin. Dilanjutkan pemasangan tanggul sekitar 6 meter. ’’Setelah itu, (jalan) baru akan kita beton lagi karena ada sisa Rp 30 juta dari anggaran tersebut. Ini masih kita konsultasikan dengan pendamping PISEW,’’ katanya. (ori/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/