alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Waspadai TBC pada Anak

RSUD Prof dr Soekandar menggelar promkes Poli Anak dengan tema Waspadai TBC pada Anak, Senin(7/2). Promkes menghadirkan dr Sofia Wardhani SpA, dokter spesialis anak RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto.

Dokter spesialis anak RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto, dr Sofia Wardhani SpA mengatakan TBC (tuberculosis) disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan data Kemenkes 2021, penyakit TBC di Indonesia menduduki peringkat 3 di dunia dengan jumlah 301 kasus per 100 ribu penduduk.

Penyakit TBC ini adalah menular yang yang ditularkan melalui udara dan percikan liur atau dahak lewat batuk, bersin, bicara  atau lewat pemakaian alat makan bersama. ’’TBC pada anak sering kali ditularkan melalui kontak erat dengan penderita TBC dewasa. Anak anak sangat rentan terinfeksi TBC terutama anak dengan penyakit HIV, gizi buruk, dan penyakit keganasan,’’ katanya.

Menurutnya, hati-hati pada anak, gejala TBC tidak khas, dan TBC pada anak tidak hanya menyerang paru-paru tetapi juga bisa menyerang selaput otak, mata tulang, dan kulit. Sehingga TBC pada anak dapat menyebabkan sesak, kejang, kesadaran menurun, anak menjadi buta tuli, lumpuh hingga kematian. ’’Anak dengan sakit TBC dapat menjadi sumber penyakit TBC dimasa depan dan menjadi beban kelaurga dan Negara. Karena itu, TBC harus diwaspadai, dikenali gejalanya sejak dini dan bila ditemukan harus segera diobati,’’ ujarnya.

Gejala TBC pada anak dapat berupa batuk lama selama tiga minggu, semakin lama semakin berat, kadang disertai batuk darah. Yang kedua, demam lebih dari dua minggu tanpa sebab yang jelas, demamnya tidak tinggi dan disertai dengan keringat malam. Berat badan semakin turun tanpa sebab yang jelas sampai terjadi gagal tumbuh pada anak.

Baca Juga :  Ingat! Kasus DBD Tak Mengenal Musim

Nafsu makan anak sangat berkurang bahkan tidak ada nafsu makan. Lemah, letih lesuh, dan anak tidak aktif bermain. Gejala selanjutnya sesak nafas, adanya pembekakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak dan selangkangan, serta ditemukan pembengkakan atau linu-linu pada sendi atau tulang. ’’Apabila menemukan gejala tersebut, segera konsuktasikan anak ke faskes terdekat,’’ tambahnya.

Permasalahan TBC anak adalah sulitnya mendiagnosa TBC pada anak. Parameter yang dipakai untuk menegakkan diagnosa TBC anak yakni uji bakteriologis, yaitu dengan cara menemukan kuman TBC pada dahak. Cara ini sulit dilakukan pada anak karena anak sangat sulit untuk mengeluarkan dahak. Oleh karena itu cara untuk mendiagnosa TBC pada anak, dilakukan dengan pendekatan skoring TBC.

Parameter yang dipakai pada sistem skoring adalah: Pertama, apakah anak kontak erat dengan penderita TBC dewasa terutama penderita TBC dengan BTA positif. Kedua, apakah uji tuberculin atau mantau tes pada anak positif atau negatif. Ketiga, bagaimana gizi anak, kurang atau buruk? Keempat, apakah ada demam pada anak. Kelima, apakah ada batuk pada anak?

Keenam, apakah di temukan pembengkakan pada kelenjar getah bening? Ketujuh, apakah ditemukan pembengkakan pada sendi atau linu pada sendi atau tulang anak? Kedelapan, apakah pada foto thorax mengarah ke sakit TBC? ’’Jika Skor TB pada anak lebih dari atau sama dengan enam maka anak dapat diberikan terapi TBC,’’ ujarnya.

Selanjutnya, bagaimana terapi TBC pada anak? Terapi TB pada anak, adalah obat anti TBC atau OAT yang terdiri dari tiga sampai empat macam kombinasi obat yang dinamakan KDT atau Kombinasi Dosis Tetap. Obat ini diberikan selama enam atau dua belas bulan tergantung berat ringan dan jenis TBC.

Baca Juga :  Dulang Prestasi di Tengah Pandemi

TBC paru diberikan OAT selama enam bulan, sedangkan TBC tulang atau TBC selaput otak diberikan selama dua belas bulan. Obat TBC harus diminum setiap hari tidak boleh putus. Selain mengobati TBC-nya,  juga harus diobati penyakit penyertanya. Misal, anak tersebut penderita HIV, maka juga harus diberikan obat HIV. Termasuk juga yang gizi buruk maka gizinya juga harus tercukupi dengan baik.

Agar pengobatan TBC pada anak dapat tuntas,’’Orang tua harus punya komitmen untuk mengawasi dan mendampingi anak dalam minum OAT setiap hari sampai tuntas. Apabila anak kontak erat dengan penderita TBC maka, meskipun tidak ada gejala TBC,  anak ini harus mendapatkan obat untuk pencegahan,’’ tambahnya.

Bila terjadi TB MDR (Multi Drug Resisten) kasus kuman TB yang kebal obat, maka harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki alat diagnostik dan obat-obat yang lebih lengkap sehingga anak ini akan mendapat pelayanan yang memadai sehingga diharapkan bisa menyembuhkan penyakit TBCnya . ’’TB MDR atau yang resistensi obat ini harus diwaspadai karena saat ini kasusnya meningkat,’’ tandasnya.

Cara mencegah TBC, bayi harus diberikan vaksin BCG, anak-anak diberikan makanan bergizi untuk meningkatkan imunitas anak, lingkungan harus bersih di antaranya ventilasi rumah harus punya sirkulasi udara dan cahaya yang baik karena kuman TBC ini bisa mati karena sinar matahari. ’’Apabila ada TBC dewasa satu rumah sebisa mungkin dijauhkan dari TBC dewasa. Terakhir, apabila anak terkena TBC harus diobati dengan tuntas,’’ pungkasnya. (bas/fen)

RSUD Prof dr Soekandar menggelar promkes Poli Anak dengan tema Waspadai TBC pada Anak, Senin(7/2). Promkes menghadirkan dr Sofia Wardhani SpA, dokter spesialis anak RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto.

Dokter spesialis anak RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto, dr Sofia Wardhani SpA mengatakan TBC (tuberculosis) disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan data Kemenkes 2021, penyakit TBC di Indonesia menduduki peringkat 3 di dunia dengan jumlah 301 kasus per 100 ribu penduduk.

Penyakit TBC ini adalah menular yang yang ditularkan melalui udara dan percikan liur atau dahak lewat batuk, bersin, bicara  atau lewat pemakaian alat makan bersama. ’’TBC pada anak sering kali ditularkan melalui kontak erat dengan penderita TBC dewasa. Anak anak sangat rentan terinfeksi TBC terutama anak dengan penyakit HIV, gizi buruk, dan penyakit keganasan,’’ katanya.

Menurutnya, hati-hati pada anak, gejala TBC tidak khas, dan TBC pada anak tidak hanya menyerang paru-paru tetapi juga bisa menyerang selaput otak, mata tulang, dan kulit. Sehingga TBC pada anak dapat menyebabkan sesak, kejang, kesadaran menurun, anak menjadi buta tuli, lumpuh hingga kematian. ’’Anak dengan sakit TBC dapat menjadi sumber penyakit TBC dimasa depan dan menjadi beban kelaurga dan Negara. Karena itu, TBC harus diwaspadai, dikenali gejalanya sejak dini dan bila ditemukan harus segera diobati,’’ ujarnya.

Gejala TBC pada anak dapat berupa batuk lama selama tiga minggu, semakin lama semakin berat, kadang disertai batuk darah. Yang kedua, demam lebih dari dua minggu tanpa sebab yang jelas, demamnya tidak tinggi dan disertai dengan keringat malam. Berat badan semakin turun tanpa sebab yang jelas sampai terjadi gagal tumbuh pada anak.

Baca Juga :  Libur Lebaran, RSUD Fokuskan Perawatan Gawat Darurat

Nafsu makan anak sangat berkurang bahkan tidak ada nafsu makan. Lemah, letih lesuh, dan anak tidak aktif bermain. Gejala selanjutnya sesak nafas, adanya pembekakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak dan selangkangan, serta ditemukan pembengkakan atau linu-linu pada sendi atau tulang. ’’Apabila menemukan gejala tersebut, segera konsuktasikan anak ke faskes terdekat,’’ tambahnya.

- Advertisement -

Permasalahan TBC anak adalah sulitnya mendiagnosa TBC pada anak. Parameter yang dipakai untuk menegakkan diagnosa TBC anak yakni uji bakteriologis, yaitu dengan cara menemukan kuman TBC pada dahak. Cara ini sulit dilakukan pada anak karena anak sangat sulit untuk mengeluarkan dahak. Oleh karena itu cara untuk mendiagnosa TBC pada anak, dilakukan dengan pendekatan skoring TBC.

Parameter yang dipakai pada sistem skoring adalah: Pertama, apakah anak kontak erat dengan penderita TBC dewasa terutama penderita TBC dengan BTA positif. Kedua, apakah uji tuberculin atau mantau tes pada anak positif atau negatif. Ketiga, bagaimana gizi anak, kurang atau buruk? Keempat, apakah ada demam pada anak. Kelima, apakah ada batuk pada anak?

Keenam, apakah di temukan pembengkakan pada kelenjar getah bening? Ketujuh, apakah ditemukan pembengkakan pada sendi atau linu pada sendi atau tulang anak? Kedelapan, apakah pada foto thorax mengarah ke sakit TBC? ’’Jika Skor TB pada anak lebih dari atau sama dengan enam maka anak dapat diberikan terapi TBC,’’ ujarnya.

Selanjutnya, bagaimana terapi TBC pada anak? Terapi TB pada anak, adalah obat anti TBC atau OAT yang terdiri dari tiga sampai empat macam kombinasi obat yang dinamakan KDT atau Kombinasi Dosis Tetap. Obat ini diberikan selama enam atau dua belas bulan tergantung berat ringan dan jenis TBC.

Baca Juga :  Pemerintah Gulirkan Bantuan Subisidi Upah bagi 2 Juta Pendidik Non-PNS

TBC paru diberikan OAT selama enam bulan, sedangkan TBC tulang atau TBC selaput otak diberikan selama dua belas bulan. Obat TBC harus diminum setiap hari tidak boleh putus. Selain mengobati TBC-nya,  juga harus diobati penyakit penyertanya. Misal, anak tersebut penderita HIV, maka juga harus diberikan obat HIV. Termasuk juga yang gizi buruk maka gizinya juga harus tercukupi dengan baik.

Agar pengobatan TBC pada anak dapat tuntas,’’Orang tua harus punya komitmen untuk mengawasi dan mendampingi anak dalam minum OAT setiap hari sampai tuntas. Apabila anak kontak erat dengan penderita TBC maka, meskipun tidak ada gejala TBC,  anak ini harus mendapatkan obat untuk pencegahan,’’ tambahnya.

Bila terjadi TB MDR (Multi Drug Resisten) kasus kuman TB yang kebal obat, maka harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki alat diagnostik dan obat-obat yang lebih lengkap sehingga anak ini akan mendapat pelayanan yang memadai sehingga diharapkan bisa menyembuhkan penyakit TBCnya . ’’TB MDR atau yang resistensi obat ini harus diwaspadai karena saat ini kasusnya meningkat,’’ tandasnya.

Cara mencegah TBC, bayi harus diberikan vaksin BCG, anak-anak diberikan makanan bergizi untuk meningkatkan imunitas anak, lingkungan harus bersih di antaranya ventilasi rumah harus punya sirkulasi udara dan cahaya yang baik karena kuman TBC ini bisa mati karena sinar matahari. ’’Apabila ada TBC dewasa satu rumah sebisa mungkin dijauhkan dari TBC dewasa. Terakhir, apabila anak terkena TBC harus diobati dengan tuntas,’’ pungkasnya. (bas/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/