alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Candi Waji Diyakini Sentra Doa Lintas Agama

MOJOKERTO – Tiga candi atau gapura yang dinamai Candi Waji rampung didirikan di Dusun Sumber Tempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Candi ini dinilai erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit akhir. Sehingga, lokasi candi tersebut diyakini menjadi sentra doa lintas agama pada zaman dahulu dengan adanya Saka Prasasti Tempuran tahun 1338.

Demikian itu diungkapkan pendiri Yayasan Tlasih Delapan Tujuh, Ki Wiro Kadek Wongso Jumeno. ’’Lokasi sebagai simbol kebersamaan dari lintas agama. Ya di candi ini.Sentra doa lintas agama. Ini bisa untuk muslim nonmuslim. Bisa untuk berdoa, cangkrukan, suluk, candi bisa untuk pemersatu. Tetenger,’’ paparnya.

Baca Juga :  Di Kota, Dandim Kebagian Suntikan Pertama

Candi itu sebenarnya maknanya wewacan diri atau bacaan diri. Sementara Waji adalah wayahe dadi siji waktunya jadi satu. ’’Rukun,’’ tambahnya. Ki Wiro menambahkan, adanya 3 pilar itu mewakili unsur yang ada di bumi ini.

Yaitu air, angin dan api. Jumat (7/12) pagi, puluhan orang dari berbagai daerah datang untuk melaksanakan ritual yang disebut sujud syukur kepada Sang Mahakuasa dan para leluhur.

’’Untuk menyinergikan energi yang ada di area sini supaya sinergi antara Bali dan Jawa yang meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Membangkitkan energi Majapahit untuk sinergikan ketentraman alam ini,’’ katanya.

Selain itu, ini adalah candi atau gapura untuk tempat leluhur sebagai arahan. Terkait proses pendirian, Ki Wiro menjelaskan, ini bekerja sama dengan karang taruna setempat sembari kerja bakti.

Baca Juga :  Desa Medali, Kecamatan Puri, Jadikan Ikon UKM Alas Kaki di Mojokerto

’’Satu bulan persis jadi fondasinya. Satu bulan lagi jadi bangunannya. Proses hanya dua bulan,’’ katanya. Sehingga, menurutnya, perlu melaksanakan ritual sebagai ungkapan rasa syukur.

’’Ini hanya sujud syukur. Ini kan rumah kita sendiri dan tanah pribadi. Ini syukuran, ngleboni omah (menempati rumah-Red),’’ katanya.

Bangunan tersebut seluruhnya dibuat dari batu. Menurutnya, ini adalah simbol pada zaman batu yang muncul kembali, ’’Zaman batu kembali muncul untuk kedamaian nusantara,’’ pungkasnya. (sad)

MOJOKERTO – Tiga candi atau gapura yang dinamai Candi Waji rampung didirikan di Dusun Sumber Tempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Candi ini dinilai erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit akhir. Sehingga, lokasi candi tersebut diyakini menjadi sentra doa lintas agama pada zaman dahulu dengan adanya Saka Prasasti Tempuran tahun 1338.

Demikian itu diungkapkan pendiri Yayasan Tlasih Delapan Tujuh, Ki Wiro Kadek Wongso Jumeno. ’’Lokasi sebagai simbol kebersamaan dari lintas agama. Ya di candi ini.Sentra doa lintas agama. Ini bisa untuk muslim nonmuslim. Bisa untuk berdoa, cangkrukan, suluk, candi bisa untuk pemersatu. Tetenger,’’ paparnya.

Baca Juga :  Desa Medali, Kecamatan Puri, Jadikan Ikon UKM Alas Kaki di Mojokerto

Candi itu sebenarnya maknanya wewacan diri atau bacaan diri. Sementara Waji adalah wayahe dadi siji waktunya jadi satu. ’’Rukun,’’ tambahnya. Ki Wiro menambahkan, adanya 3 pilar itu mewakili unsur yang ada di bumi ini.

- Advertisement -

Yaitu air, angin dan api. Jumat (7/12) pagi, puluhan orang dari berbagai daerah datang untuk melaksanakan ritual yang disebut sujud syukur kepada Sang Mahakuasa dan para leluhur.

’’Untuk menyinergikan energi yang ada di area sini supaya sinergi antara Bali dan Jawa yang meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Membangkitkan energi Majapahit untuk sinergikan ketentraman alam ini,’’ katanya.

Selain itu, ini adalah candi atau gapura untuk tempat leluhur sebagai arahan. Terkait proses pendirian, Ki Wiro menjelaskan, ini bekerja sama dengan karang taruna setempat sembari kerja bakti.

Baca Juga :  Serapan Bulog di Tahun 2018 Meleset dari Target

’’Satu bulan persis jadi fondasinya. Satu bulan lagi jadi bangunannya. Proses hanya dua bulan,’’ katanya. Sehingga, menurutnya, perlu melaksanakan ritual sebagai ungkapan rasa syukur.

’’Ini hanya sujud syukur. Ini kan rumah kita sendiri dan tanah pribadi. Ini syukuran, ngleboni omah (menempati rumah-Red),’’ katanya.

Bangunan tersebut seluruhnya dibuat dari batu. Menurutnya, ini adalah simbol pada zaman batu yang muncul kembali, ’’Zaman batu kembali muncul untuk kedamaian nusantara,’’ pungkasnya. (sad)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/