alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Perayaan Waisak di Mahavihara Majapahit Berlangsung Sederhana

TROWULAN,  Jawa Pos Radar Mojokerto  – Waisak tahun ini tidak dirayakan di Mahavihara Majapahit Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Dalam kondisi wabah Covid-19, Hari Raya Waisak 2564 Buddhist Era (BE)/2020 yang jatuh pada Kamis (7/5) kemarin, umat Buddha hanya diperkenankan beribadah di rumah masing-masing.

Sebagai alternatif, untuk merayakan Hari Suci Tri Waisak seluruh umat bisa mengikuti acara Hari Suci Waisak secara online. ’’Untuk tahun ini kami tiadakan demi menghindari kerumunan masyarakat dan umat Buddha,’’ ungkap Bante Biksu Viriyanadi Mahathera, kemarin.

Menurutnya, perayaan Waisak dengan tema Mawas Diri, Toleransi dan Jaga Kebersamaan Bangsa di tahun ini hanya dilangsungkan sederhana. Suasana lengang nampak di Mahavihara Majapahit.

Sementara peribadatan di dalam Mahavihara hanya dilakukan pengurus dan umat sebanyak 10 orang. Persembahan dipimpin langsung Bante Biksu Viriyanadi Mahathera.

Hal tersebut sebagai langkah mengikuti anjuran pemerintah guna mencegah penyebaran virus Covid-19. Yakni, dengan umat berada di rumah, virus korona bisa cepat tertangani dengan baik.

Baca Juga :  Hanya Bisa Peluk Peti Jenazah, Keluarga Tuntut Pelaku Dihukum Setimpal

Meski tidak seramai tahun sebelumnya, kali ini banyak hal positif yang dipetik. Umat bisa beribadah lebih khusyuk dan tanpa mengurangi makna. Di dalam Mahavihara, pihaknya bersama pengurus juga melakukan prosesi secara sederhana.

Tahun ini, tidak ada mandi Buddha, sesaji. Melainkan hanya melakukan Pradaksina atau ritual mengelilingi Mahavihara sekali dari biasanya tiga kali, pujabakti, pesan Waisak, hingga meditasi di detik-detik terakhir. Tepatnya pukul 17.44.51 selama setengah jam.

’’Yang penting hati kita. Ini tidak mengurangi rasa khusyuk kita. Yang penting di hati,’’ tegasnya. Ritual ini juga ditayangkan secara online untuk bisa diikuti umat di rumahnya masing-masing. ’’Jadi, seluruh kegiatan keagamaan untuk tahun ini lebih memanfaatkan media online.

Ceramah-ceramah ajaran Buddha, siaran keagamaan semuanya disiarkan secara online. Terlebih dengan media online dapat mencakup seluruh daerah,’’ paparnya.

Baca Juga :  Makam Troloyo, Kuburan Pelataran, Pemakaman Muslim Trah Majapahit

Dengan tidak adanya umat yang hadir dalam ibadah Waisak di Mahavihara kali ini, juga membuat Bante senang. Sebab, dengan begitu umat Buddha juga tertib dan mendukung serta patuh aturan pemerintah yang menerapkan tetap di rumah saja.

Sehingga Mahavihara itu ditutup, wisata ditutup.  Tujuannya agar virus ini tidak terus berkembang. ’’Di hari Waisak ini kami juga mengajak semua umat Buddha melakukan donor darah, baksos, obat-obatan serta pakaian sebagai alat pelindung diri untuk para dokter dan perawat yang berjuan di garda terdepan dalam melawan Clvid-19. Semoga virus ini cepat sirna di seluruh dunia,’’ harapnya.

Tahun ini memang merupakan tahun Tikus Logam. Di mana, sifatnya tikus itu rakus, keluar, dan sembunyi, untuk merusak. Jadi tak heran tahun ini banyak wabah. ’’Seperti ini juga sudah diperidiksi sebelumnya. Semoga ini cepat berakhir,’’ ujarnya lagi. (abi)

 

TROWULAN,  Jawa Pos Radar Mojokerto  – Waisak tahun ini tidak dirayakan di Mahavihara Majapahit Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Dalam kondisi wabah Covid-19, Hari Raya Waisak 2564 Buddhist Era (BE)/2020 yang jatuh pada Kamis (7/5) kemarin, umat Buddha hanya diperkenankan beribadah di rumah masing-masing.

Sebagai alternatif, untuk merayakan Hari Suci Tri Waisak seluruh umat bisa mengikuti acara Hari Suci Waisak secara online. ’’Untuk tahun ini kami tiadakan demi menghindari kerumunan masyarakat dan umat Buddha,’’ ungkap Bante Biksu Viriyanadi Mahathera, kemarin.

Menurutnya, perayaan Waisak dengan tema Mawas Diri, Toleransi dan Jaga Kebersamaan Bangsa di tahun ini hanya dilangsungkan sederhana. Suasana lengang nampak di Mahavihara Majapahit.

Sementara peribadatan di dalam Mahavihara hanya dilakukan pengurus dan umat sebanyak 10 orang. Persembahan dipimpin langsung Bante Biksu Viriyanadi Mahathera.

Hal tersebut sebagai langkah mengikuti anjuran pemerintah guna mencegah penyebaran virus Covid-19. Yakni, dengan umat berada di rumah, virus korona bisa cepat tertangani dengan baik.

Baca Juga :  Gubernur Ambil Tanah dan Air Trowulan untuk Ibu Kota Negara di Kalimantan
- Advertisement -

Meski tidak seramai tahun sebelumnya, kali ini banyak hal positif yang dipetik. Umat bisa beribadah lebih khusyuk dan tanpa mengurangi makna. Di dalam Mahavihara, pihaknya bersama pengurus juga melakukan prosesi secara sederhana.

Tahun ini, tidak ada mandi Buddha, sesaji. Melainkan hanya melakukan Pradaksina atau ritual mengelilingi Mahavihara sekali dari biasanya tiga kali, pujabakti, pesan Waisak, hingga meditasi di detik-detik terakhir. Tepatnya pukul 17.44.51 selama setengah jam.

’’Yang penting hati kita. Ini tidak mengurangi rasa khusyuk kita. Yang penting di hati,’’ tegasnya. Ritual ini juga ditayangkan secara online untuk bisa diikuti umat di rumahnya masing-masing. ’’Jadi, seluruh kegiatan keagamaan untuk tahun ini lebih memanfaatkan media online.

Ceramah-ceramah ajaran Buddha, siaran keagamaan semuanya disiarkan secara online. Terlebih dengan media online dapat mencakup seluruh daerah,’’ paparnya.

Baca Juga :  Watesnegoro, Simpan Objek Wisata Peninggalan Majapahit

Dengan tidak adanya umat yang hadir dalam ibadah Waisak di Mahavihara kali ini, juga membuat Bante senang. Sebab, dengan begitu umat Buddha juga tertib dan mendukung serta patuh aturan pemerintah yang menerapkan tetap di rumah saja.

Sehingga Mahavihara itu ditutup, wisata ditutup.  Tujuannya agar virus ini tidak terus berkembang. ’’Di hari Waisak ini kami juga mengajak semua umat Buddha melakukan donor darah, baksos, obat-obatan serta pakaian sebagai alat pelindung diri untuk para dokter dan perawat yang berjuan di garda terdepan dalam melawan Clvid-19. Semoga virus ini cepat sirna di seluruh dunia,’’ harapnya.

Tahun ini memang merupakan tahun Tikus Logam. Di mana, sifatnya tikus itu rakus, keluar, dan sembunyi, untuk merusak. Jadi tak heran tahun ini banyak wabah. ’’Seperti ini juga sudah diperidiksi sebelumnya. Semoga ini cepat berakhir,’’ ujarnya lagi. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Kepincut Kopi Nusantara

Suamiku Lupa Jalan Pulang ke Rumah

Anakku Bukan Darah Dagingku

Artikel Terbaru


/