alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Harga Lebih Mahal dan Barang Disunat

SEMENTARA itu, harga bahan pokok yang dibeli di e-Warong itu tercatat lebih mahal dibanding di pasaran. Berat bersih sebagian komoditas yang dijual juga disunat. Sebab, setelah ditimbang tiap kemasan telurnya tidak sampai satu kilogram atau hanya delapan ons.
Hal itu diungkapkan salah satu KPM, Nuni Kusmita. Warga Dusun Temboro yang menjadi salah satu korban intimidasi penarik uang bantuan ini dibuat kecewa. Pasalnya, uang Rp 600 ribu yang baru diterimanya Sabtu (28/2) dari Kementerian Sosial RI ditarik oknum warga yang mengatasnamakan pendamping PKH. Uang bantuan tiga tahap Januari, Februari, dan Maret itu dikembalikan untuk dibelanjakan di salah satu e-Warung yang sudah ditunjuk. ’’Tentu kecewa, padahal di desa-desa lain tidak. Ini harga bahan pokoknya juga lebih mahal dari pasaran,’’ ungkapnya, kemarin.
Komoditas beras misalnya. Di e-Warong Mbak Fitri di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, ini dibanderol harga Rp 10 ribu per kilogram. Padahal dengan kualitas yang sama, di pasaran hanya sekitar Rp 9 ribuan per kilogram. Begitu juga dengan harga telur, per kilogramnya dibanderol Rp 21 ribu. Sedangkan di pasar tak sampai segitu. ’’Berat telur saat saya timbang juga tidak sampai satu kilogram, hanya sekitar 8,5 ons,’’ ungkapnya.
Harga komoditas kentang juga begitu. Jika di pasaran sekitar Rp 12.750 per kilo, di e-Warong ini dibanderol Rp 13 ribu per kilogramnya. Selain harganya lebih mahal dengan harga pasar, yang membuat warga kecewa, uang Rp 600 ribu itu juga tak bisa dibelanjakan secara betahap sesuai kebutuhan tiap harinya. Warga dipaksa langsung menghabiskan. Warga pun khawatir jika bahan pokok yang dibelinya malah membusuk. ’’Seperti daging ayam, kalau tidak punya lemari es kan juga basi kalau disimpan tidak dihabsikan. Beras juga, lama-lama kan jelek kualitasnya,’’ sahut Agus, warga lain.
Dengan memaksa warga berbelanja ke e-Warong tersebut cukup mencederai sistem yang tengah diperbarui pemerintah lantaran tidak sesuai harapan. ’’Tujuan langsung tunai ini kan sebenarnya agar masyarakat bisa bebas belanja di mana saja. Bisa membeli sesuai kebutuhannya. Ini di e-Warong sudah barangnya tidak sesuai, lebih malah lagi,’’ ujarnya. ’’Apalagi, ada ancaman dicoret dari penerima, kita yang tidak tau apa-apa, kan takut juga. Akhirnya ngikut saja meski dibodohi,’’ tambahnya.
Sementara itu, Pendamping PKH Dinsos Kabupaten Mojokerto, Asmudin Isom, menegaskan, tidak pernah intervensi atas penarikan bantuan uang pengganti BPNT yang menjadi wilayahnya. ’’Maaf saya tidak pernah intervensi,’’ ungkapnya. Disinggung soal hubungan keluarga dekat oknum e-Warong Fitri asal Bejijong yang diduga jadi otak penarikan, Isom, pilih irit bicara. ’’(Fitri) Agen,’’ katanya singkat. (ori/abi)

Baca Juga :  Izin Penggunaan Darurat Vaksin Dapat Dikeluarkan, Ini Kata Prof Cissy

SEMENTARA itu, harga bahan pokok yang dibeli di e-Warong itu tercatat lebih mahal dibanding di pasaran. Berat bersih sebagian komoditas yang dijual juga disunat. Sebab, setelah ditimbang tiap kemasan telurnya tidak sampai satu kilogram atau hanya delapan ons.
Hal itu diungkapkan salah satu KPM, Nuni Kusmita. Warga Dusun Temboro yang menjadi salah satu korban intimidasi penarik uang bantuan ini dibuat kecewa. Pasalnya, uang Rp 600 ribu yang baru diterimanya Sabtu (28/2) dari Kementerian Sosial RI ditarik oknum warga yang mengatasnamakan pendamping PKH. Uang bantuan tiga tahap Januari, Februari, dan Maret itu dikembalikan untuk dibelanjakan di salah satu e-Warung yang sudah ditunjuk. ’’Tentu kecewa, padahal di desa-desa lain tidak. Ini harga bahan pokoknya juga lebih mahal dari pasaran,’’ ungkapnya, kemarin.
Komoditas beras misalnya. Di e-Warong Mbak Fitri di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, ini dibanderol harga Rp 10 ribu per kilogram. Padahal dengan kualitas yang sama, di pasaran hanya sekitar Rp 9 ribuan per kilogram. Begitu juga dengan harga telur, per kilogramnya dibanderol Rp 21 ribu. Sedangkan di pasar tak sampai segitu. ’’Berat telur saat saya timbang juga tidak sampai satu kilogram, hanya sekitar 8,5 ons,’’ ungkapnya.
Harga komoditas kentang juga begitu. Jika di pasaran sekitar Rp 12.750 per kilo, di e-Warong ini dibanderol Rp 13 ribu per kilogramnya. Selain harganya lebih mahal dengan harga pasar, yang membuat warga kecewa, uang Rp 600 ribu itu juga tak bisa dibelanjakan secara betahap sesuai kebutuhan tiap harinya. Warga dipaksa langsung menghabiskan. Warga pun khawatir jika bahan pokok yang dibelinya malah membusuk. ’’Seperti daging ayam, kalau tidak punya lemari es kan juga basi kalau disimpan tidak dihabsikan. Beras juga, lama-lama kan jelek kualitasnya,’’ sahut Agus, warga lain.
Dengan memaksa warga berbelanja ke e-Warong tersebut cukup mencederai sistem yang tengah diperbarui pemerintah lantaran tidak sesuai harapan. ’’Tujuan langsung tunai ini kan sebenarnya agar masyarakat bisa bebas belanja di mana saja. Bisa membeli sesuai kebutuhannya. Ini di e-Warong sudah barangnya tidak sesuai, lebih malah lagi,’’ ujarnya. ’’Apalagi, ada ancaman dicoret dari penerima, kita yang tidak tau apa-apa, kan takut juga. Akhirnya ngikut saja meski dibodohi,’’ tambahnya.
Sementara itu, Pendamping PKH Dinsos Kabupaten Mojokerto, Asmudin Isom, menegaskan, tidak pernah intervensi atas penarikan bantuan uang pengganti BPNT yang menjadi wilayahnya. ’’Maaf saya tidak pernah intervensi,’’ ungkapnya. Disinggung soal hubungan keluarga dekat oknum e-Warong Fitri asal Bejijong yang diduga jadi otak penarikan, Isom, pilih irit bicara. ’’(Fitri) Agen,’’ katanya singkat. (ori/abi)

Baca Juga :  Berantas Rokok Ilegal, Pemkot Gandeng Media dan Influencer

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/