alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Trombosit Merosot Tajam

KEPALA Puskesmas Jetis dr Nurcahyati Akbar Kusuma Wardani dan keluarga korban menegaskan, bocah 6 tahun di Desa Parengan, Kecamatan Jetis yang meninggal dunia, pekan lalu, disebabkan Demam berdarah dengue (DBD). Hasil uji laboratorium terjadi penurunan trombosit yang cukup signifikan. ’’Sesuai bukti hasil uji lab, trombositnya hanya 40 ribu dari normalnya 150 ribu. Itu juga sesuai konfirmasi kami ke keluarga dan rumah sakit,’’ ungkapnya.

Kemarin, Muspika Jetis dan puskesmas memberikan atensi penuh. Salah satunya melakukan fogging ke desa yang diketahui warganya sudah positif DBD. Seperti di Desa Parengan dan Perning. ’’Kami dibantu TNI, Polri, dan perangkat desa melakukan fogging. Ini untuk menghindari persebaran di masyarakat, karena kami anggap sudah darurat, akibat sudah ada anak yang jadi korban,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Pendaftar Abaikan Sistem Zonasi, Sekolah Favorit Masih Jadi Rebutan

Selain itu, sesuai koordinasi dengan Muspika dan tiga pilar desa setempat, pihaknya juga bakal melakukan edukasi ke tiap-tiap desa untuk menggelorakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) atau dengan program si-cantik (Siaga Mulai dari Jentik). Setelah fogging menjadi pilihan terakhir dalam penanganan DBD.

Tujuannya memang mengantisipasi kejadian terburuk kembali terjadi. ’’Secara bertahap, kami gilir di tiap-tiap desa. Kami bakal bentuk tim dan tempel stiker berupa imbauan. Apa yang harus dilakukan dalam PSN itu, di tiap rumah penduduk sebagai pengawasan. Sekaligus mengajak untuk hidup bersih,’’ paparnya.

Yang terpenting, di tengah pandemi Covid-19, penyakit DBD tak boleh diabaikan. Masyarakat diminta aktif melapor jika keluarganya mengalami gejala DBD. Seperti demam tinggi, nyeri kepala, dan linu persendian. ’’Pokoknya, kita tegaskan kalau panas tiga hari wajib dilakukan uji laboratorium. Kalau mereka tidak punya BPJS, tidak apa-apa pakai KTP, kita yang datang ke desa untuk ambil sampel darah,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Banjir Kasus DBD, Marak Fogging Mandiri

Sementara itu, ayah korban, Iswanto saat ditemui di rumahnya, kemarin (7/1) membenarkan jika buah hatinya meninggal dunia akibat terjangkit DBD. ’’Hasil diagnosis akibat DBD. Awalnya, saya kira sudah sembuh. Tahunya malah drop. Tidak mau makan dan perutnya sakit, baru setelah itu saya bawa ke rumah sakit,’’ ungkapnya berkaca-kaca.

Sebelumnya, Kasus DBD di kawasan utara Sungai Brantas, mengkhawatirkan. Seorang bocah usia enam tahun di Desa Parengan, Kecamatan, Jetis, Kabupaten Mojokerto meninggal dunia. Korban meninggal Minggu (2/1) lalu, akibat telat penanganan. (ori/ron)

 

KEPALA Puskesmas Jetis dr Nurcahyati Akbar Kusuma Wardani dan keluarga korban menegaskan, bocah 6 tahun di Desa Parengan, Kecamatan Jetis yang meninggal dunia, pekan lalu, disebabkan Demam berdarah dengue (DBD). Hasil uji laboratorium terjadi penurunan trombosit yang cukup signifikan. ’’Sesuai bukti hasil uji lab, trombositnya hanya 40 ribu dari normalnya 150 ribu. Itu juga sesuai konfirmasi kami ke keluarga dan rumah sakit,’’ ungkapnya.

Kemarin, Muspika Jetis dan puskesmas memberikan atensi penuh. Salah satunya melakukan fogging ke desa yang diketahui warganya sudah positif DBD. Seperti di Desa Parengan dan Perning. ’’Kami dibantu TNI, Polri, dan perangkat desa melakukan fogging. Ini untuk menghindari persebaran di masyarakat, karena kami anggap sudah darurat, akibat sudah ada anak yang jadi korban,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Marak Truk Bongkar Muat di Bahu Jalan

Selain itu, sesuai koordinasi dengan Muspika dan tiga pilar desa setempat, pihaknya juga bakal melakukan edukasi ke tiap-tiap desa untuk menggelorakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) atau dengan program si-cantik (Siaga Mulai dari Jentik). Setelah fogging menjadi pilihan terakhir dalam penanganan DBD.

Tujuannya memang mengantisipasi kejadian terburuk kembali terjadi. ’’Secara bertahap, kami gilir di tiap-tiap desa. Kami bakal bentuk tim dan tempel stiker berupa imbauan. Apa yang harus dilakukan dalam PSN itu, di tiap rumah penduduk sebagai pengawasan. Sekaligus mengajak untuk hidup bersih,’’ paparnya.

Yang terpenting, di tengah pandemi Covid-19, penyakit DBD tak boleh diabaikan. Masyarakat diminta aktif melapor jika keluarganya mengalami gejala DBD. Seperti demam tinggi, nyeri kepala, dan linu persendian. ’’Pokoknya, kita tegaskan kalau panas tiga hari wajib dilakukan uji laboratorium. Kalau mereka tidak punya BPJS, tidak apa-apa pakai KTP, kita yang datang ke desa untuk ambil sampel darah,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Panitia Serahkan Polemik Pilkades ke Wabup

Sementara itu, ayah korban, Iswanto saat ditemui di rumahnya, kemarin (7/1) membenarkan jika buah hatinya meninggal dunia akibat terjangkit DBD. ’’Hasil diagnosis akibat DBD. Awalnya, saya kira sudah sembuh. Tahunya malah drop. Tidak mau makan dan perutnya sakit, baru setelah itu saya bawa ke rumah sakit,’’ ungkapnya berkaca-kaca.

- Advertisement -

Sebelumnya, Kasus DBD di kawasan utara Sungai Brantas, mengkhawatirkan. Seorang bocah usia enam tahun di Desa Parengan, Kecamatan, Jetis, Kabupaten Mojokerto meninggal dunia. Korban meninggal Minggu (2/1) lalu, akibat telat penanganan. (ori/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/