alexametrics
22.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Pangsa Pasar Seantero Nusantara

KERAJINAN bedug asal Mojokerto dikenal hingga penjuru Nusantara. Ada yang memproduksi secara rutin, ada pula yang berdasarkan pesanan. Kendati permintaannya tak sebanter kebutuhan harian, namun perputaran uangnya cukup besar. Ibaratnya, sekali terjual, perajin bisa langsung beli motor baru.

Salah satunya bengkel kerajinan bedug milik Zainal Arifin, 73, warga Dusun/Desa Jeruk Seger, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Dia bisa memproduksi bedug dengan berbagai ukuran. Mulai diameter 50 sentimeter hingga 1,5 sentimeter.

Proses produksi menyesuaikan ukurannya. Semakin besar bedug, waktu yang dibutuhkan semakin lama. Pria yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia kerajinan kayu ini memproduksi bedug secara rutin. ”Ada pesanan atau tidak tetap bikin untuk stok. Kalau ada yang pesan, baru nanti kita pasang pirantinya seperti kulitnya,’ terang Zainal.

Baca Juga :  Ratusan Orang Tua Larang Anaknya Vaksin

Zainal mengakui, bedug bukan kebutuhan primer. Permintaannya juga tidak datang setiap hari. Bahkan, sebulan penuh tanpa pesanan pun bisa terjadi. Namun, sepanjang pengalamannya, keberadaan bedug bakal tetap dicari. ”Memang tidak selalu ada. Tapi melihat jumlah masjid sekarang ini, kita tetap optimis,” ucapnya.

Optimisme itu tak lepas dari perputaran uang yang menurutnya juga menjanjikan. Modal besar yang dikeluarkan sebanding dengan harga bedug yang cukup mahal. Satu bedug bisa terjual dengan kisaran harga mulai dari paling murah Rp 3 juta hingga yang paling mahal Rp 30 juta.

Dalam setahun, Zainal mengaku bisa menjual sekitar 10 sampai 15 bedug. ”Tiga bulan saya tidak ada pesanan. Tapi bulan ini ternyata ada lima pesanan,” ungkap dia.

Baca Juga :  Kolam Air Panas VVIP Mangkrak

Zainal mengklaim, bedug garapannya bisa bertahan hingga 20 tahun. Bedug dibuat dengan bahan kayu berkualitas tinggi. Mulai dari jenis kayu jati hingga kayu waru. Selain pemasaran secara manual, dia juga memasarkan bedugnya secara online lewat facebook.

Selama ini, hasil produksinya telah terjual di seantore Jawa Timur. Mulai dari Surabaya, Gresik, hingga Lamongan. Bahkan, pasarnya juga telah sampai di ujung timur Nusantara. ”Tahun lalu pernah kirim ke Papua,” tandasnya. Selain memproduksi bedug, bengkelnya juga melayani reparasi. Permintaan ini biasanya meningkat jelang bulan puasa. (adi/ron)

KERAJINAN bedug asal Mojokerto dikenal hingga penjuru Nusantara. Ada yang memproduksi secara rutin, ada pula yang berdasarkan pesanan. Kendati permintaannya tak sebanter kebutuhan harian, namun perputaran uangnya cukup besar. Ibaratnya, sekali terjual, perajin bisa langsung beli motor baru.

Salah satunya bengkel kerajinan bedug milik Zainal Arifin, 73, warga Dusun/Desa Jeruk Seger, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Dia bisa memproduksi bedug dengan berbagai ukuran. Mulai diameter 50 sentimeter hingga 1,5 sentimeter.

Proses produksi menyesuaikan ukurannya. Semakin besar bedug, waktu yang dibutuhkan semakin lama. Pria yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia kerajinan kayu ini memproduksi bedug secara rutin. ”Ada pesanan atau tidak tetap bikin untuk stok. Kalau ada yang pesan, baru nanti kita pasang pirantinya seperti kulitnya,’ terang Zainal.

Baca Juga :  Siswa Diungsikan ke Balai Desa

Zainal mengakui, bedug bukan kebutuhan primer. Permintaannya juga tidak datang setiap hari. Bahkan, sebulan penuh tanpa pesanan pun bisa terjadi. Namun, sepanjang pengalamannya, keberadaan bedug bakal tetap dicari. ”Memang tidak selalu ada. Tapi melihat jumlah masjid sekarang ini, kita tetap optimis,” ucapnya.

Optimisme itu tak lepas dari perputaran uang yang menurutnya juga menjanjikan. Modal besar yang dikeluarkan sebanding dengan harga bedug yang cukup mahal. Satu bedug bisa terjual dengan kisaran harga mulai dari paling murah Rp 3 juta hingga yang paling mahal Rp 30 juta.

Dalam setahun, Zainal mengaku bisa menjual sekitar 10 sampai 15 bedug. ”Tiga bulan saya tidak ada pesanan. Tapi bulan ini ternyata ada lima pesanan,” ungkap dia.

Baca Juga :  Tersangka Pemerkosaan Bocah SD Bertambah
- Advertisement -

Zainal mengklaim, bedug garapannya bisa bertahan hingga 20 tahun. Bedug dibuat dengan bahan kayu berkualitas tinggi. Mulai dari jenis kayu jati hingga kayu waru. Selain pemasaran secara manual, dia juga memasarkan bedugnya secara online lewat facebook.

Selama ini, hasil produksinya telah terjual di seantore Jawa Timur. Mulai dari Surabaya, Gresik, hingga Lamongan. Bahkan, pasarnya juga telah sampai di ujung timur Nusantara. ”Tahun lalu pernah kirim ke Papua,” tandasnya. Selain memproduksi bedug, bengkelnya juga melayani reparasi. Permintaan ini biasanya meningkat jelang bulan puasa. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/