alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Pohon Pinggir Jalan Dijual Dijadikan Kayu Bakar

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tebangan pohon peneduh yang terdampak proyek saluran air di Jalan Pekayon, Kecamatan Kranggan, diperjualbelikan. Padahal, pohon jenis sono kembang itu termasuk aset daerah Kota Mojokerto yang semestinya ditampung di TPA Randegan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, penebangan pohon dilakukan oleh pihak ketiga. Yakni pihak yang diminta pelaksana proyek untuk menebang pohon di sepanjang area saluran. Hasil tebangan pohon itu dijual ke pabrik di kawasan Dusun Banci, Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg. ”Dijual sebagai bahan bakar. Jadi kayu bakar,” ungkap sumber terpercaya.

Menurut sumber tersebut, harga kayu dijual per ukuran lingkar diameter. Satu truk dihargai Rp 1 juta. Setidaknya sudah ada dua truk batang pohon yang terjual. Hasil penjualan itu masuk ke kantong pribadi pihak pemotong. ”Kita hanya disuruh menebang. Dan kita jual,” ucap pria yang juga menjadi bagian dari pihak penebang ini.

Baca Juga :  Pasang Tiga Bilik Sterilisasi di Pasar

Penebangan dilakukan untuk mempercepat proyek pengerjaan dari DPUPRPKP Kota Mojokerto. Pasalnya, penggarapan proyek saluran tersebut terkendala keberadaan pohon-pohon sono kembang. Sehingga, pihak pelaksana memotongnya. Penebangan boleh dilakukan namun tidak untuk diperjualbelikan.

Hal ini dikonfirmasi langsung oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Hasil tebangan, mestinya dibawa ke tempat penampungan yang berada di TPA Randegan. Sebab, pohon peneduh tersebut termasuk aset daerah. ”Masuk aset daerah itu. Tidak bisa dijual. Harusnya dibawa ke TPA (Randegan),” ujar Kepala DLH Kota Mojokerto Bambang Mujiono ditemui di kantornya, kemarin.

Bambang mengira, jika prosedur tersebut telah dilaksanakan. Namun, pohon hasil tebangan ternyata diperjualbelikan. Pihaknya pun mengaku kecolongan. ”Wah kecolongan ini. Langsung hubungi pelaksananya saja,” katanya sembari meminta staf untuk mengonfirmasi ke pihak pelaksana. Hasilnya, ternyata benar, tebangan pohon tidak dibawa ke TPA Randegan. Namun diperjualbelikan.

Baca Juga :  Tekan Penyebaran PMK, Terapkan Penyekatan

Kepada pelaksana, pihaknya meminta supaya potongan pohon yang sudah dijual ditarik kembali. Selain itu, batang pohon yang masih tergeletak di tepi Jalan Pekayon maupun yang belum ditebang harus dibawa ke tempat penampungan yang telah disediakan. ”Harus ditarik kembali. Tidak boleh itu. Pelanggaran,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta pertanggungjawaban. DLH akan memanggil pihak pelaksana untuk klarifikasi dan penjelasan terkait penjualan pohon peneduh yang masuk aset daerah tersebut. Selain harus dibawa ke tempat penampungan, pihak pelaksana juga harus melakukan penggantian. Pohon yang dipotong harus dikembalikan dengan bibit pohon baru. ”Kita panggil nanti untuk dimintai pertanggungjawaban,” papar dia. (adi/ron)

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tebangan pohon peneduh yang terdampak proyek saluran air di Jalan Pekayon, Kecamatan Kranggan, diperjualbelikan. Padahal, pohon jenis sono kembang itu termasuk aset daerah Kota Mojokerto yang semestinya ditampung di TPA Randegan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, penebangan pohon dilakukan oleh pihak ketiga. Yakni pihak yang diminta pelaksana proyek untuk menebang pohon di sepanjang area saluran. Hasil tebangan pohon itu dijual ke pabrik di kawasan Dusun Banci, Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg. ”Dijual sebagai bahan bakar. Jadi kayu bakar,” ungkap sumber terpercaya.

Menurut sumber tersebut, harga kayu dijual per ukuran lingkar diameter. Satu truk dihargai Rp 1 juta. Setidaknya sudah ada dua truk batang pohon yang terjual. Hasil penjualan itu masuk ke kantong pribadi pihak pemotong. ”Kita hanya disuruh menebang. Dan kita jual,” ucap pria yang juga menjadi bagian dari pihak penebang ini.

Baca Juga :  Pasang Tiga Bilik Sterilisasi di Pasar

Penebangan dilakukan untuk mempercepat proyek pengerjaan dari DPUPRPKP Kota Mojokerto. Pasalnya, penggarapan proyek saluran tersebut terkendala keberadaan pohon-pohon sono kembang. Sehingga, pihak pelaksana memotongnya. Penebangan boleh dilakukan namun tidak untuk diperjualbelikan.

Hal ini dikonfirmasi langsung oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Hasil tebangan, mestinya dibawa ke tempat penampungan yang berada di TPA Randegan. Sebab, pohon peneduh tersebut termasuk aset daerah. ”Masuk aset daerah itu. Tidak bisa dijual. Harusnya dibawa ke TPA (Randegan),” ujar Kepala DLH Kota Mojokerto Bambang Mujiono ditemui di kantornya, kemarin.

Bambang mengira, jika prosedur tersebut telah dilaksanakan. Namun, pohon hasil tebangan ternyata diperjualbelikan. Pihaknya pun mengaku kecolongan. ”Wah kecolongan ini. Langsung hubungi pelaksananya saja,” katanya sembari meminta staf untuk mengonfirmasi ke pihak pelaksana. Hasilnya, ternyata benar, tebangan pohon tidak dibawa ke TPA Randegan. Namun diperjualbelikan.

Baca Juga :  Rawan Tumbang, Pohon Jalan Ditebang
- Advertisement -

Kepada pelaksana, pihaknya meminta supaya potongan pohon yang sudah dijual ditarik kembali. Selain itu, batang pohon yang masih tergeletak di tepi Jalan Pekayon maupun yang belum ditebang harus dibawa ke tempat penampungan yang telah disediakan. ”Harus ditarik kembali. Tidak boleh itu. Pelanggaran,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta pertanggungjawaban. DLH akan memanggil pihak pelaksana untuk klarifikasi dan penjelasan terkait penjualan pohon peneduh yang masuk aset daerah tersebut. Selain harus dibawa ke tempat penampungan, pihak pelaksana juga harus melakukan penggantian. Pohon yang dipotong harus dikembalikan dengan bibit pohon baru. ”Kita panggil nanti untuk dimintai pertanggungjawaban,” papar dia. (adi/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/