alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Kalah Pamor karena Bencana Alam dan Pembangunan Jalan

Sementara itu, pada dekade awal abad ke-20, lalu lintas transportasi air di sungai Brantas, perlahan meredup. Kondisi itu seiring terbangunnya jalur darat di Mojokerto. Terutama jalur untuk moda kereta api (KA).

Ayuhanafiq menambahkan, setidaknya terdapat tiga perusahaan KA yang memiliki jalur yang melintasi wilayah Mojokerto. Masing-masing Staatsspoorwegen (SS), Oost-Java Stoomtram Maatschappij  (OJS), dan Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM).

Di samping melayani penumpang, armada lokomotif itu juga melayani pengiriman barang dan gula. Akibatnya, kata dia, kepadatan arus transportasi air mulai mengalami penurunan. ”Tapi transportasi sungai Brantas masih sanggup bersaing, karena tarifnya jauh di bawah harga transportasi darat,” paparnya.

Saat itu, biaya jasa angkut KA masih terlalu tinggi. Sehingga, tidak seluruh pabrik gula di Mojokerto langsung beralih menggunakan transportasi darat untuk mengirim produk. Karena hal tersebut bakal mempengaruhi harga jual yang bakal turut terkerek naik. Namun, pesatnya perkembangan transportasi darat pada akhirnya menenggelamkan jalur perdagangan di sungai Brantas. Selain menjadi pilihan alternatif, faktor alam juga turut mematikan jalur transportasi air.

Baca Juga :  Waspadai Empat Titik Rawan Pohon Tumbang

Letusan Gunung Kelud mengakibatkan pendangkalan di Sungai Brantas. Terutama erupsi yang terjadi pada tahun 1910 dan disusul 9 tahun berikutnya. Yuhan mengatakan, muntahan pasir dan batu dari gunung berapi tersebut sempat memutus jalur air di Sungai Brantas dari Kertosono ke Kediri. ”Hanya jalur Mojokerto ke Surabaya yang masih bisa dilalui,” paparnya.

Bencana alam itu, membuat lalu lintas air menurun signifikan. Di sisi lain, kebutuhan transportasi barang terus mengalami tren kenaikan. Sehingga, pemerintah kolonial meningkatkan infrastruktur darat dengan membangun jalan.

Peningkatan jalan tersebut mengakibatkan pengiriman komoditas perdagangan dan hasil industri beralih melalui moda transportasi darat. Keberadaan perahu angkut di sungai Brantas kian merosot hingga tahun 1930an. ”Hingga akhirnya, pintu air Mlirip ditutup untuk lalu lintas angkutan sungai,” pungkas Yuhan. (ram/ron)

Baca Juga :  Kemilau Keemasan dan Gemerlap saat Malam

 

Sementara itu, pada dekade awal abad ke-20, lalu lintas transportasi air di sungai Brantas, perlahan meredup. Kondisi itu seiring terbangunnya jalur darat di Mojokerto. Terutama jalur untuk moda kereta api (KA).

Ayuhanafiq menambahkan, setidaknya terdapat tiga perusahaan KA yang memiliki jalur yang melintasi wilayah Mojokerto. Masing-masing Staatsspoorwegen (SS), Oost-Java Stoomtram Maatschappij  (OJS), dan Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM).

Di samping melayani penumpang, armada lokomotif itu juga melayani pengiriman barang dan gula. Akibatnya, kata dia, kepadatan arus transportasi air mulai mengalami penurunan. ”Tapi transportasi sungai Brantas masih sanggup bersaing, karena tarifnya jauh di bawah harga transportasi darat,” paparnya.

Saat itu, biaya jasa angkut KA masih terlalu tinggi. Sehingga, tidak seluruh pabrik gula di Mojokerto langsung beralih menggunakan transportasi darat untuk mengirim produk. Karena hal tersebut bakal mempengaruhi harga jual yang bakal turut terkerek naik. Namun, pesatnya perkembangan transportasi darat pada akhirnya menenggelamkan jalur perdagangan di sungai Brantas. Selain menjadi pilihan alternatif, faktor alam juga turut mematikan jalur transportasi air.

Baca Juga :  Digelar di Alun-Alun, Jadi Even Paling Spektakuler Sepanjang 2019

Letusan Gunung Kelud mengakibatkan pendangkalan di Sungai Brantas. Terutama erupsi yang terjadi pada tahun 1910 dan disusul 9 tahun berikutnya. Yuhan mengatakan, muntahan pasir dan batu dari gunung berapi tersebut sempat memutus jalur air di Sungai Brantas dari Kertosono ke Kediri. ”Hanya jalur Mojokerto ke Surabaya yang masih bisa dilalui,” paparnya.

Bencana alam itu, membuat lalu lintas air menurun signifikan. Di sisi lain, kebutuhan transportasi barang terus mengalami tren kenaikan. Sehingga, pemerintah kolonial meningkatkan infrastruktur darat dengan membangun jalan.

- Advertisement -

Peningkatan jalan tersebut mengakibatkan pengiriman komoditas perdagangan dan hasil industri beralih melalui moda transportasi darat. Keberadaan perahu angkut di sungai Brantas kian merosot hingga tahun 1930an. ”Hingga akhirnya, pintu air Mlirip ditutup untuk lalu lintas angkutan sungai,” pungkas Yuhan. (ram/ron)

Baca Juga :  Ini Sepuluh Karya Terbaik LKTI 2021 Yang Lolos Babak Final

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/