alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

490 Pelajar Derita Rabun Jauh, Akibat Belajar Daring Terlalu Lama

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jumlah kasus penyakit rabun jauh pada anak usia sekolah di Kota Mojokerto meningkat dua kali lipat. Disinyalir, mereka terdeteksi mengalami gangguan penglihatan akibat terlalu lama belajar daring dari rumah.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr Lily Nurlaily mengatakan, tahun ini, berdasarkan data hingga Mei lalu, 490 anak mengalami gangguan penglihatan. Tahun lalu, jumlah kasus rabun jauh tercatat diderita sebanyak 226 anak. ’’Meningkat lebih banyak tahun ini. Mereka berusia mulai dari 6-17 tahun,’’ ujarnya.

Mantan Kepala Puskesmas Mentikan ini menerangkan, penyebab penambahan jumlah kasus rabun jauh pada usia pelajar ini bisa jadi merupakan efek dari pembelajaran daring selama dua tahun. Namun, ia juga tak memungkiri, faktor keturunan juga bisa menyebabkan anak mengalami rabun jauh sejak dini. ’’Mau tidak mau, kita akui memang saat ini pengaruh gadget sangat besar. Apalagi, saat ini kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari gadget, ini juga memicu angka kasus rabun jauh mengalami peningkatan,’’ papar dia.

Baca Juga :  Enam Formasi Dipastikan Lowong

Lebih lanjut, Lily menjelaskan, setiap tiga bulan sekali, tim puskesmas akan terjun ke sekolah untuk melakukan skrining kesehatan mata pada anak. Tak hanya itu, mereka juga akan diperiksa terkait kondisi kesehatan lainnya. Seperti status imunisasi, tekanan darah, serta suhu tubuh dan pengecekan gizi.

’’Kita pasti periksa terus secara berkala selama tiga bulan sekali. Nanti, semisal ditemukan siswa yang mengalami rabun jauh, biasanya kita sarankan untuk dapat pemeriksaan lebih lanjut dari pihak puskesmas,’’ terangnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga memberikan sosialisasi pada sekolah agar membatasi siswa dalam penggunaan gadget berlebihan. Nantinya, pihak sekolah diharapkan berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya menjaga kesehatan mata sejak dini.

Baca Juga :  Ini Perkiraan Harga Mobil Subaru dan Range Rover yang Disita KPK

’’Jadi, kita kerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikan batasan siswa bermain gadget. Tentunya, kita perlu bantuan sekolah agar mereka bisa mensosialisasikan hal tersebut ke orang tua siswa,’’ tandasnya. (oce/fen)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jumlah kasus penyakit rabun jauh pada anak usia sekolah di Kota Mojokerto meningkat dua kali lipat. Disinyalir, mereka terdeteksi mengalami gangguan penglihatan akibat terlalu lama belajar daring dari rumah.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr Lily Nurlaily mengatakan, tahun ini, berdasarkan data hingga Mei lalu, 490 anak mengalami gangguan penglihatan. Tahun lalu, jumlah kasus rabun jauh tercatat diderita sebanyak 226 anak. ’’Meningkat lebih banyak tahun ini. Mereka berusia mulai dari 6-17 tahun,’’ ujarnya.

Mantan Kepala Puskesmas Mentikan ini menerangkan, penyebab penambahan jumlah kasus rabun jauh pada usia pelajar ini bisa jadi merupakan efek dari pembelajaran daring selama dua tahun. Namun, ia juga tak memungkiri, faktor keturunan juga bisa menyebabkan anak mengalami rabun jauh sejak dini. ’’Mau tidak mau, kita akui memang saat ini pengaruh gadget sangat besar. Apalagi, saat ini kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari gadget, ini juga memicu angka kasus rabun jauh mengalami peningkatan,’’ papar dia.

Baca Juga :  Pemerintah Dorong Produktivitas Komoditas Unggulan

Lebih lanjut, Lily menjelaskan, setiap tiga bulan sekali, tim puskesmas akan terjun ke sekolah untuk melakukan skrining kesehatan mata pada anak. Tak hanya itu, mereka juga akan diperiksa terkait kondisi kesehatan lainnya. Seperti status imunisasi, tekanan darah, serta suhu tubuh dan pengecekan gizi.

’’Kita pasti periksa terus secara berkala selama tiga bulan sekali. Nanti, semisal ditemukan siswa yang mengalami rabun jauh, biasanya kita sarankan untuk dapat pemeriksaan lebih lanjut dari pihak puskesmas,’’ terangnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga memberikan sosialisasi pada sekolah agar membatasi siswa dalam penggunaan gadget berlebihan. Nantinya, pihak sekolah diharapkan berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya menjaga kesehatan mata sejak dini.

Baca Juga :  Dana Desa Terserap 72 Persen
- Advertisement -

’’Jadi, kita kerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikan batasan siswa bermain gadget. Tentunya, kita perlu bantuan sekolah agar mereka bisa mensosialisasikan hal tersebut ke orang tua siswa,’’ tandasnya. (oce/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/