alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Masa Tunggu Haji Mojokerto 25 Tahun, 27 Ribu CJH Sudah Mengantre

MOJOKERTO – Dari tahun ke tahun minat warga Kabupaten Mojokerto dalam menunaikan ibadah haji mengalami peningkatan cukup signifikan. Hingga pertengahan tahun 2019 ini, calon jamaah haji (CJH) resmi mendaftar dibuktikan dengan surat pendaftaran pergi haji (SPPH) sudah mencapai 27 ribu orang.

Dengan demikian, waiting list atau daftar antrean keberangkatan mereka menuju Tanah Suci akan berlangsung hingga tahun 2044. Atau menunggu selama 25 tahun. ”Sekarang waiting list haji kabupaten yang tercatat di Siskohat (sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu) mencapai kurang lebih 27 ribuan orang,” ungkap Kasi Penyelenggaran Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kabupaten Mojokerto, Mukti Ali, Sabtu (6/7).

Besarnya minat pendaftar tersebut diketahui melalui hitungan tahun CJH saat kali pertama mendaftar. Yakni, dari awal Maret 2011 hingga Juni 2019, atau selama delapan tahun. ”Untuk pendaftar Maret, April, Mei, dan Juni 2019 ini, estimasi keberangkatan mereka ya ada di tahun 2044,” imbuh Mukti Ali.

Kemenag tidak memungkiri bila setiap tahunnya minat masyarakat dalam menunaikan rukun Islam kelima tersebut naik drastis. Mereka tercatat sebagai warga dari berbagai desa di 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Mukti Ali menjelaskan, pendaftar haji di Kemenag Kabupaten Mojokerto rata-rata menembus angka 5 ribu sampai 6 ribuan orang per tahun.

Baca Juga :  Himawan Berharap Kepala OPD Melek IT

Jumlah tersebut terhitung sejak awal tahun 2011 lalu hingga pertengahan 2019 ini. ”Kalau dikalkulasi per hari ada 20-an orang mendaftar haji,” imbuhnya. Namun, antusiasme pendaftar ini belum berbanding lurus dengan kuota haji yang didapat oleh kabupaten dan kota dari Provinsi Jawa Timur (Jatim) setiap tahun.

Di mana, jatah keberangkatan ibadah haji untuk kuota porsi Jatim sendiri harus menyesuaikan dengan kuota haji nasional. ”Seperti tahun ini saja kita mendapat kuota 2.138 kursi CJH. Ya, di kisaran itulah. Intinya, tetap menyesuaikan kuota provinsi,” tandasnya. Meski demikian, masih saja ditemukan CJH yang gagal berangkat setiap tahunnya.

Setelah mereka diketahui tidak dapat melunasi biaya pelunasan ibadah haji (BPIH) yang tahun ini nilainya ditetapkan Rp 36 juta. Alasannya, mayoritas karena terkendala keuangan atau ekonomi, menunda keberangkatan, meninggal dunia, dan sakit keras. ”Tahun ini ada 343 CJH gagal berangkat setelah mereka tidak melunasi BPIH,” tandasnya.

Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto Barozi menambahkan, jatah keberangkatan haji di kabupaten dan kota selama ini memang menyesuaikan kuota di tingkat provinsi. ”Kuota Jatim mendapat 35 ribuan per tahunnya,” terangnya. Di mana, alokasi jatah tersebut kemudian dibagi dengan 38 kabupaten dan kota.

Mantan kepala Kemenag Kabupaten Jombang ini menambahkan, lamanya antrean keberangkatan haji di kabupaten selama ini tidak lepas dengan tingginya minat masyarakat untuk naik haji. Terutama, di dalam kurun waktu selama delapan tahun terakhir ini. ”Sehingga dari situ daftar tunggu haji otomatis semakin panjang (lama),” tandasnya.

Baca Juga :  Gubernur Ambil Tanah dan Air Trowulan untuk Ibu Kota Negara di Kalimantan

”Peminatnya lebih tinggi dari alokasi kursi yang tersedia,” lanjutnya. Kendati demikian, Barozi mengapresiasi niat masyarakat dalam menyempurnakan rukun Islam mereka. Dia menyebutkan, salah satu di antara pendorongnya adalah meningkatnya kemampuan taraf ekonomi masyarakat.

”Ini menandakan masyarakat kita makmur-makmur. Apalagi, sekarang biaya haji cukup murah, hanya kisaran Rp 36 juta (tahun 2019). Dibanding biaya umrah yang nilainya mendekati biaya haji,” jelasnya. Sementara biaya keberangkatan ibadah umrah belakangan masyarakat banyak mendengar tawaran dari KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) atau travel umrah nilainya mencapai di kisaran Rp 25 juta hingga Rp 31 juta.

Besaran nilai tersebut menyesuaikan waktu perjalanan umrah, paket transportasi, hotel atau penginapan, serta paket kunjungan wisata religi selama berada di Madinah dan Makkah, Arab Saudi. ”Kembali lagi, haji adalah sebuah panggilan. Mana mungkin dipanggil kalau tidak mendaftar. Karenanya, kami berharap masyarakat yang sudah berniat dan mampu, monggo (silakan) mendafar mulai sekarang. Agar ke depan daftar antreannya tidak terlalu lama,” tegas Barozi. 

MOJOKERTO – Dari tahun ke tahun minat warga Kabupaten Mojokerto dalam menunaikan ibadah haji mengalami peningkatan cukup signifikan. Hingga pertengahan tahun 2019 ini, calon jamaah haji (CJH) resmi mendaftar dibuktikan dengan surat pendaftaran pergi haji (SPPH) sudah mencapai 27 ribu orang.

Dengan demikian, waiting list atau daftar antrean keberangkatan mereka menuju Tanah Suci akan berlangsung hingga tahun 2044. Atau menunggu selama 25 tahun. ”Sekarang waiting list haji kabupaten yang tercatat di Siskohat (sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu) mencapai kurang lebih 27 ribuan orang,” ungkap Kasi Penyelenggaran Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kabupaten Mojokerto, Mukti Ali, Sabtu (6/7).

Besarnya minat pendaftar tersebut diketahui melalui hitungan tahun CJH saat kali pertama mendaftar. Yakni, dari awal Maret 2011 hingga Juni 2019, atau selama delapan tahun. ”Untuk pendaftar Maret, April, Mei, dan Juni 2019 ini, estimasi keberangkatan mereka ya ada di tahun 2044,” imbuh Mukti Ali.

Kemenag tidak memungkiri bila setiap tahunnya minat masyarakat dalam menunaikan rukun Islam kelima tersebut naik drastis. Mereka tercatat sebagai warga dari berbagai desa di 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Mukti Ali menjelaskan, pendaftar haji di Kemenag Kabupaten Mojokerto rata-rata menembus angka 5 ribu sampai 6 ribuan orang per tahun.

Baca Juga :  Siapkan 400 Porsi Makanan Gratis bagi Warga Kurang Mampu

Jumlah tersebut terhitung sejak awal tahun 2011 lalu hingga pertengahan 2019 ini. ”Kalau dikalkulasi per hari ada 20-an orang mendaftar haji,” imbuhnya. Namun, antusiasme pendaftar ini belum berbanding lurus dengan kuota haji yang didapat oleh kabupaten dan kota dari Provinsi Jawa Timur (Jatim) setiap tahun.

Di mana, jatah keberangkatan ibadah haji untuk kuota porsi Jatim sendiri harus menyesuaikan dengan kuota haji nasional. ”Seperti tahun ini saja kita mendapat kuota 2.138 kursi CJH. Ya, di kisaran itulah. Intinya, tetap menyesuaikan kuota provinsi,” tandasnya. Meski demikian, masih saja ditemukan CJH yang gagal berangkat setiap tahunnya.

- Advertisement -

Setelah mereka diketahui tidak dapat melunasi biaya pelunasan ibadah haji (BPIH) yang tahun ini nilainya ditetapkan Rp 36 juta. Alasannya, mayoritas karena terkendala keuangan atau ekonomi, menunda keberangkatan, meninggal dunia, dan sakit keras. ”Tahun ini ada 343 CJH gagal berangkat setelah mereka tidak melunasi BPIH,” tandasnya.

Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto Barozi menambahkan, jatah keberangkatan haji di kabupaten dan kota selama ini memang menyesuaikan kuota di tingkat provinsi. ”Kuota Jatim mendapat 35 ribuan per tahunnya,” terangnya. Di mana, alokasi jatah tersebut kemudian dibagi dengan 38 kabupaten dan kota.

Mantan kepala Kemenag Kabupaten Jombang ini menambahkan, lamanya antrean keberangkatan haji di kabupaten selama ini tidak lepas dengan tingginya minat masyarakat untuk naik haji. Terutama, di dalam kurun waktu selama delapan tahun terakhir ini. ”Sehingga dari situ daftar tunggu haji otomatis semakin panjang (lama),” tandasnya.

Baca Juga :  Himawan Berharap Kepala OPD Melek IT

”Peminatnya lebih tinggi dari alokasi kursi yang tersedia,” lanjutnya. Kendati demikian, Barozi mengapresiasi niat masyarakat dalam menyempurnakan rukun Islam mereka. Dia menyebutkan, salah satu di antara pendorongnya adalah meningkatnya kemampuan taraf ekonomi masyarakat.

”Ini menandakan masyarakat kita makmur-makmur. Apalagi, sekarang biaya haji cukup murah, hanya kisaran Rp 36 juta (tahun 2019). Dibanding biaya umrah yang nilainya mendekati biaya haji,” jelasnya. Sementara biaya keberangkatan ibadah umrah belakangan masyarakat banyak mendengar tawaran dari KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) atau travel umrah nilainya mencapai di kisaran Rp 25 juta hingga Rp 31 juta.

Besaran nilai tersebut menyesuaikan waktu perjalanan umrah, paket transportasi, hotel atau penginapan, serta paket kunjungan wisata religi selama berada di Madinah dan Makkah, Arab Saudi. ”Kembali lagi, haji adalah sebuah panggilan. Mana mungkin dipanggil kalau tidak mendaftar. Karenanya, kami berharap masyarakat yang sudah berniat dan mampu, monggo (silakan) mendafar mulai sekarang. Agar ke depan daftar antreannya tidak terlalu lama,” tegas Barozi. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/