alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tolak Aktivitas Galian C, Warga Istighotsah 40 Hari

GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Penolakan warga terhadap galian C di Dusun SeketiDesa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto berlanjut. Warga menuntut ditutupnya aktivitas penambangan dengan menggelar istighotsah selama 40 hari sejak akhir Maret lalu. Bahkan, mereka menutup akses utama menuju galian batu dan pasir tersebut.

Istighotsah digelar setiap bakda salat Isya. ”Karena tidak ada keadilan buat kami rakyat kecil, warga pun pasrah. Biarkan Allah yang memberi keadilan melalui doa-doa dari warga,” ujar AS, warga setempat kemarin.

Mereka juga menutup akses menuju galian sejak sepekan lalu menggunakan bambu. ”Itu kami tutup sejak tanggal 30 (Maret) lalu. Kami pasangi dengan bambu dan ditancapi pohon pisang,” imbuhnya.

Pengusaha galian C terus melakukan negoisasi agar diberikan akses menuju galian oleh warga. Namun, negosiasi berlangsung alot. Kedua pihak masih belum temui titik terang. Bahkan, mobil utusan pemilik galian nyaris dibakar warga. ”Itu kejadiannya Minggu (4/4) sekitar pukul 20.30. Mobilnya sampai mau dibakar sama warga,” beber AS.

Baca Juga :  Saat Terpapar, Suami Tutup Usia

Pihak pemilik galian C pun getol membujuk warga agar berkenan memberikan akses, dengan harapan aktivitas galian miliknya kembali beroperasi. ”Warga di sini jadi nggak rukun. Selalu ada perselisihan, ada yang suaminya ikut galian, tapi istrinya nolak karena malu dikucilkan warga. Akhirnya suami istri tiap hari bertengkar, ada yang bapak dengan anaknya, ada yang antar tetangga sebelah rumah,” ungkapnya.

Meski begitu, AS menyebutkan, warga Dusun Seketi sepakat menolak keras adanya berbagai bentuk aktivitas galian C. Baik operasional pengerukan sirtu hingga lalu-lalang truk muatan hasil galian yang melewati dusun. ”Selama alat berat masih ada di lokasi galian warga masih memanas mas, dan akan terus menolak,” tandasnya.

Kepala Desa Jatidukuh Zainal Arifin membenarkan ditutupnya akses menuju galian oleh warga. Dia juga mendukung langkah warga. Bahkan, desa mengancam mengecor akses menuju galian tersebut. ”Ini nanti mau dicor dan dibelikan pipa, mungkin besok selesai. Biar warga ndak geger lagi,” ujarnya.

Baca Juga :  Paket Data Gratis, Wali Murid Bisa Hemat Rp 200 Ribu

Hal tersebut dilakukan lantaran pihaknya menduga akvitas galian sirtu tersebut diduga ilegal. ”Itu ndak ada izinnya, ke desa itu izinnya cuma buat truk muatan hasil galian yang melintas di dusun saja,” tandasnya.  

Akses yang ditutup warga sebelumnya adalah jalan setapak menuju sawah sekitar 500 meter dari jalan desa. Namun, jalan tersebut dilebarkan pemilik galian untuk akses mereka menuju titik galian. Disinggung terkait warga yang menolak keberadaan alat berat di lokasi galian, dia menegaskan itu bukan wewenangnya. Pasalnya, lokasi titik galian sudah tak berada di wilayah Desa Jatidukuh lagi. Melainkan di Dusun Pulorejo, Desa Bening. ”Untuk itu kami sedang berkoordinasi dengan pihak polsek (Gondang), supaya ada solusinya. Agar galian ini benar-benar berhenti beroperasi dan tidak ada alat berat di sana,” imbuh Zainal. (vad)

GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Penolakan warga terhadap galian C di Dusun SeketiDesa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto berlanjut. Warga menuntut ditutupnya aktivitas penambangan dengan menggelar istighotsah selama 40 hari sejak akhir Maret lalu. Bahkan, mereka menutup akses utama menuju galian batu dan pasir tersebut.

Istighotsah digelar setiap bakda salat Isya. ”Karena tidak ada keadilan buat kami rakyat kecil, warga pun pasrah. Biarkan Allah yang memberi keadilan melalui doa-doa dari warga,” ujar AS, warga setempat kemarin.

Mereka juga menutup akses menuju galian sejak sepekan lalu menggunakan bambu. ”Itu kami tutup sejak tanggal 30 (Maret) lalu. Kami pasangi dengan bambu dan ditancapi pohon pisang,” imbuhnya.

Pengusaha galian C terus melakukan negoisasi agar diberikan akses menuju galian oleh warga. Namun, negosiasi berlangsung alot. Kedua pihak masih belum temui titik terang. Bahkan, mobil utusan pemilik galian nyaris dibakar warga. ”Itu kejadiannya Minggu (4/4) sekitar pukul 20.30. Mobilnya sampai mau dibakar sama warga,” beber AS.

Baca Juga :  Siap Laksanakan 47 Kegiatan Tahun Ini

Pihak pemilik galian C pun getol membujuk warga agar berkenan memberikan akses, dengan harapan aktivitas galian miliknya kembali beroperasi. ”Warga di sini jadi nggak rukun. Selalu ada perselisihan, ada yang suaminya ikut galian, tapi istrinya nolak karena malu dikucilkan warga. Akhirnya suami istri tiap hari bertengkar, ada yang bapak dengan anaknya, ada yang antar tetangga sebelah rumah,” ungkapnya.

Meski begitu, AS menyebutkan, warga Dusun Seketi sepakat menolak keras adanya berbagai bentuk aktivitas galian C. Baik operasional pengerukan sirtu hingga lalu-lalang truk muatan hasil galian yang melewati dusun. ”Selama alat berat masih ada di lokasi galian warga masih memanas mas, dan akan terus menolak,” tandasnya.

- Advertisement -

Kepala Desa Jatidukuh Zainal Arifin membenarkan ditutupnya akses menuju galian oleh warga. Dia juga mendukung langkah warga. Bahkan, desa mengancam mengecor akses menuju galian tersebut. ”Ini nanti mau dicor dan dibelikan pipa, mungkin besok selesai. Biar warga ndak geger lagi,” ujarnya.

Baca Juga :  Paket Data Gratis, Wali Murid Bisa Hemat Rp 200 Ribu

Hal tersebut dilakukan lantaran pihaknya menduga akvitas galian sirtu tersebut diduga ilegal. ”Itu ndak ada izinnya, ke desa itu izinnya cuma buat truk muatan hasil galian yang melintas di dusun saja,” tandasnya.  

Akses yang ditutup warga sebelumnya adalah jalan setapak menuju sawah sekitar 500 meter dari jalan desa. Namun, jalan tersebut dilebarkan pemilik galian untuk akses mereka menuju titik galian. Disinggung terkait warga yang menolak keberadaan alat berat di lokasi galian, dia menegaskan itu bukan wewenangnya. Pasalnya, lokasi titik galian sudah tak berada di wilayah Desa Jatidukuh lagi. Melainkan di Dusun Pulorejo, Desa Bening. ”Untuk itu kami sedang berkoordinasi dengan pihak polsek (Gondang), supaya ada solusinya. Agar galian ini benar-benar berhenti beroperasi dan tidak ada alat berat di sana,” imbuh Zainal. (vad)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/