alexametrics
24.2 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Pasca Tawur Kesanga, Hari ini, Umat Hindu Jalani Catur Brata

MOJOKERTO – Hari ini, seluruh umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian. Sehari penuh selama Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941 ini, mereka melakukan perenungan diri terhadap perbuatan yang pernah dilakukan maupun yang hendak dilakukan di tahun depan.

Agar seluruh prosesi suci tersebut berjalan lancar, sehari sebelumnya, Rabu (6/3) ratusan umat Hindu se-Kabupaten dan Kota Mojokerto menjalankan ritual Tawur Agung atau Tawur Kesanga. Ritual yang dipusatkan di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto itu bertujuan untuk penyucian diri, sekaligus agar alam semesta terlepas dari aura negatif.

”Mudah-mudahan dengan kita menggelar Tawur Kesanga supaya alam semesta akan berjalan harmonis dan seimbang,” terang Humas Panitia Hari Raya Nyepi Sat Cit Ananda Santih Peni, seusai acara.

Menurutnya, Tawur Kesanga merupakan serangkaian prosesi wajib untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941. Sebelumnya, umat Hindu telah menggelar upacara Melasti yang berlangsung di Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Sabtu (2/3) lalu.

Prosesi Tawur Kesanga diawali dengan melakukan sembahyang yang diikuti rastusan umat Hundu dari tujuh Pura di Kabupaten dan Kota Mojokerto. Bertempat di halaman hutan kota di halaman Stadion Gajah Mada Mojosari, mereka melangsungkan doa bersama sebagai wujud raya syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Baca Juga :  Total 93 Nakes Terpapar Covid-19

”Umat Hindu berdoa, mudah-mudahan bisa menetralisir aura atau pengaruh negatif. Sehingga diberi kelancaran di tahun berikutnya,” paparnya. Oleh karena itu, dalam kegiatan kemarin terdapat empat ogoh-ogoh yang masing-masing berasal dari Pura Sasana Bhina Yoga, Mojosari; Pura Manunggal Jati, Pungging; serta Pura Ranu Ploso, Gondang.

Ananda Santih memaparkan, keempat boneka raksasa itu melambangkan buta kala atau aura negatif dan sifat buruk manusia. Setelah doa bersama, ogoh-ogoh kemudian diarak bersama-sama mengelilingi halaman Stadion Gajah Mada sebanyak tiga kali.

Dia menyatakan, upaya itu merupakan simbol memutari wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto untuk menarik unsur-unsur negatif yang ada. ”Selesai itu, ogoh-ogoh akan kita bakar. Harapannya, pengaruh negatif bisa ternetralisir,” ulasnya.

Dengan harapan, pada puncak Tapa Brata Penyepian yang dilangsungkan sejak pukul 06.00 hari ini dan berakhir pada 06.00 esok hari bisa menjalankan dengan lancar. Ananda Santih menambahkan, selama sehari penuh itu, umat Hindu memiliki empat pantangan.

Baca Juga :  Layanan Adminduk Online Dikeluhkan

Di antaranya adalah amati karya dengan tidak melakukan pekerjaan atau aktivitas secara ekonomi. Kemudian amati lelungan atau tidak boleh bepergian keluar rumah. Selain itu amati lelanguan, yakni diimbau tidak terlalu bersenang-senang. Serta amati geni atau tidak menyalakan api.

Baik api secara fisik, seperti memasak atau menyalakan lampu, maupun api bersifat rohani. Seperti sifat amarah dan dengki. ”Memang pada saat itu dikhususkan untuk merenungkan diri dari perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan,” tandasnya.

Tawur Kesanga 2019 ini juga mengusung tema untuk menyukseskan pesta demokrasi atau Pemilu 2019 yang digelar serentak 17 April Nanti. Ananda Santih berharap, baik Pilpres dan Pileg nanti akan berjalan lancar dan damai.  ”Diawali dengan kesucian batin, semoga pemilu nanti bisa berjalan deban baik dan sesuai harapan,” tandasnya. 

MOJOKERTO – Hari ini, seluruh umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian. Sehari penuh selama Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941 ini, mereka melakukan perenungan diri terhadap perbuatan yang pernah dilakukan maupun yang hendak dilakukan di tahun depan.

Agar seluruh prosesi suci tersebut berjalan lancar, sehari sebelumnya, Rabu (6/3) ratusan umat Hindu se-Kabupaten dan Kota Mojokerto menjalankan ritual Tawur Agung atau Tawur Kesanga. Ritual yang dipusatkan di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto itu bertujuan untuk penyucian diri, sekaligus agar alam semesta terlepas dari aura negatif.

”Mudah-mudahan dengan kita menggelar Tawur Kesanga supaya alam semesta akan berjalan harmonis dan seimbang,” terang Humas Panitia Hari Raya Nyepi Sat Cit Ananda Santih Peni, seusai acara.

Menurutnya, Tawur Kesanga merupakan serangkaian prosesi wajib untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941. Sebelumnya, umat Hindu telah menggelar upacara Melasti yang berlangsung di Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Sabtu (2/3) lalu.

Prosesi Tawur Kesanga diawali dengan melakukan sembahyang yang diikuti rastusan umat Hundu dari tujuh Pura di Kabupaten dan Kota Mojokerto. Bertempat di halaman hutan kota di halaman Stadion Gajah Mada Mojosari, mereka melangsungkan doa bersama sebagai wujud raya syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Baca Juga :  Keberangkatan 719 CJH Terancam Ditunda, jika Tak Segera Lunasi BPIH

”Umat Hindu berdoa, mudah-mudahan bisa menetralisir aura atau pengaruh negatif. Sehingga diberi kelancaran di tahun berikutnya,” paparnya. Oleh karena itu, dalam kegiatan kemarin terdapat empat ogoh-ogoh yang masing-masing berasal dari Pura Sasana Bhina Yoga, Mojosari; Pura Manunggal Jati, Pungging; serta Pura Ranu Ploso, Gondang.

- Advertisement -

Ananda Santih memaparkan, keempat boneka raksasa itu melambangkan buta kala atau aura negatif dan sifat buruk manusia. Setelah doa bersama, ogoh-ogoh kemudian diarak bersama-sama mengelilingi halaman Stadion Gajah Mada sebanyak tiga kali.

Dia menyatakan, upaya itu merupakan simbol memutari wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto untuk menarik unsur-unsur negatif yang ada. ”Selesai itu, ogoh-ogoh akan kita bakar. Harapannya, pengaruh negatif bisa ternetralisir,” ulasnya.

Dengan harapan, pada puncak Tapa Brata Penyepian yang dilangsungkan sejak pukul 06.00 hari ini dan berakhir pada 06.00 esok hari bisa menjalankan dengan lancar. Ananda Santih menambahkan, selama sehari penuh itu, umat Hindu memiliki empat pantangan.

Baca Juga :  Pelajar SMAN 2 Kota Mojokerto dengan Segudang Prestasinya

Di antaranya adalah amati karya dengan tidak melakukan pekerjaan atau aktivitas secara ekonomi. Kemudian amati lelungan atau tidak boleh bepergian keluar rumah. Selain itu amati lelanguan, yakni diimbau tidak terlalu bersenang-senang. Serta amati geni atau tidak menyalakan api.

Baik api secara fisik, seperti memasak atau menyalakan lampu, maupun api bersifat rohani. Seperti sifat amarah dan dengki. ”Memang pada saat itu dikhususkan untuk merenungkan diri dari perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan,” tandasnya.

Tawur Kesanga 2019 ini juga mengusung tema untuk menyukseskan pesta demokrasi atau Pemilu 2019 yang digelar serentak 17 April Nanti. Ananda Santih berharap, baik Pilpres dan Pileg nanti akan berjalan lancar dan damai.  ”Diawali dengan kesucian batin, semoga pemilu nanti bisa berjalan deban baik dan sesuai harapan,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/