alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Banjir Sooko Tak Kunjung Surut

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki hari kelima, banjir di Dusun Bekucuk dan Dusun/Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto,belumjuga surut. Banjir yang merendam 467 rumah dengan 2.031 jiwa ini kondisinya masih terendam. Secara tidak langsung, penanganan dari Pemkab Mojokerto selama ini belum membuahkan hasil maksimal.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, belum tampak manfaat yang signifikan dalam penanganan banjir. Banjir masih tetap merendam ratusan rumah yang dihuni ribuan warga di dua dusun tersebut. Yakni, 57 rumah dengan 63 KK (kepala keluarga) dan 209 jiwa di Dusun Tempuran, serta 410 rumah dari 455 KK dengan 1.822 jiwa di Dusun Tempuran. Banjir juga masih sejumlah fasilitas umum (fasum). Tempat ibadah dan sekolah. ’’Dengan total warga yang terdampak masih sama, mencapai 2.031 jiwa,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini, kemarin.

Tingginya curah hujan secara merata di hulu hingga hilir Sungai Watudakon, membuat genangan air di permukiman warga tak kunjung surut. Ditambah pintu Dam Sipon sebagai satu-satunya pembuangan air ke Sungai Brantas, juga masih tersumbat sampah dan batang pepohonan. Sehingga, tingkat surut air yang merendam rumah warga melambat. Kiriman debit air dari sungai Gunting, Kabupaten Jombang yang membuat debit air kembali bertambah. ’’Penyusutan air terjadi cukup lambat. Yakni, dari 40-50 cm menjadi 30-40 cm. Tapi jika wilayah Jombang hujan lagi, tren air juga akan naik lagi,’’ paparnya.

Baca Juga :  Kampung di Mojokerto Ini Langganan Banjir sejak 1972

Untuk itu, sejumlah instansi terkait turut berupaya mencari solusi jangka pendek dan panjang. Agar bencana banjir yang terjadi setiap tahun di Desa Tempuran ini bisa teratasi. Zaini mengungkapkan, koordinasi tingkat stakeholder dan Petugas Jasa Tirta, diputuskan akan dilakukan pengurangan aliran air. Baik yang menuju afvour Balongkrai maupun yang menuju Sungai Watudakon. Itu setelah tingginya debit air di dua sungai tersebut membuat Dam Sipon tak mampu menampung. ’’Pengurangan aliran air ini masih dimintakan izin ke UPT Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jatim,’’ tegas Zaini.

Menurut dia, langkah pengurangan tersebut dianggap menjadi solusi efektif untuk mengentas banjir yang sudah terjadi selama lima hari tersebut. ’’Jadi, air Brantas (di Pulorejo), pintu air yang menuju ke Balongkrai itu dikurangi. Begitu juga dengan yang lain,’’ tegasnya. Sebab, dari pengamatan dan evaluasi di lapangan, sebenarnya air yang melintas di pintu Dam Sipon cukup deras. Sementara, kondisi air di desa terdampak belum juga surut. Sehingga asumsi banjir disebabkan oleh pintu Dam Sipon tersumbat tidak sepenuhnya benar. ’’Banyak sampah iya. Tetapi setelah sampah berkurang, ternyata tidak berbanding lurus dengan penurunan air di dua dusun tersebut,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Pemda Terganjal Kewenangan

Pihaknya berharap di wilayah Jombang sebagai hulu Sungai tersebut tidak hujan dulu sebelum banjir surut total. ’’Saat ini, pencarian solusi juga masih berlangsung alot karena banyak melibatkan lintas instansi,’’ terangnya. Sebagai langkah penanganan, saat ini, peningkatan status dari siaga menjadi tanggap darurat sudah ditetapkan Bupati Mojokerto, sejak 4 Februari 2020 lalu. Melalui Surat Pernyataan Tanggap Darurat Nomor: 360/235/416–205/2020, banjir akibat luapan Sungai Watudakon telah ditetapkan statusnya menjadi tanggap darurat selama 14 hari ke depan. ’’Artinya penanganan terdampak banjir, baik evakuasi maupun penyiapan dapur umum dapat menggunakan dana tak terduga,’’ pungkas Zaini.

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki hari kelima, banjir di Dusun Bekucuk dan Dusun/Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto,belumjuga surut. Banjir yang merendam 467 rumah dengan 2.031 jiwa ini kondisinya masih terendam. Secara tidak langsung, penanganan dari Pemkab Mojokerto selama ini belum membuahkan hasil maksimal.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, belum tampak manfaat yang signifikan dalam penanganan banjir. Banjir masih tetap merendam ratusan rumah yang dihuni ribuan warga di dua dusun tersebut. Yakni, 57 rumah dengan 63 KK (kepala keluarga) dan 209 jiwa di Dusun Tempuran, serta 410 rumah dari 455 KK dengan 1.822 jiwa di Dusun Tempuran. Banjir juga masih sejumlah fasilitas umum (fasum). Tempat ibadah dan sekolah. ’’Dengan total warga yang terdampak masih sama, mencapai 2.031 jiwa,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini, kemarin.

Tingginya curah hujan secara merata di hulu hingga hilir Sungai Watudakon, membuat genangan air di permukiman warga tak kunjung surut. Ditambah pintu Dam Sipon sebagai satu-satunya pembuangan air ke Sungai Brantas, juga masih tersumbat sampah dan batang pepohonan. Sehingga, tingkat surut air yang merendam rumah warga melambat. Kiriman debit air dari sungai Gunting, Kabupaten Jombang yang membuat debit air kembali bertambah. ’’Penyusutan air terjadi cukup lambat. Yakni, dari 40-50 cm menjadi 30-40 cm. Tapi jika wilayah Jombang hujan lagi, tren air juga akan naik lagi,’’ paparnya.

Baca Juga :  Umrah Ditunda, Kemenag Upayakan Tak Ada Biaya Tambahan

Untuk itu, sejumlah instansi terkait turut berupaya mencari solusi jangka pendek dan panjang. Agar bencana banjir yang terjadi setiap tahun di Desa Tempuran ini bisa teratasi. Zaini mengungkapkan, koordinasi tingkat stakeholder dan Petugas Jasa Tirta, diputuskan akan dilakukan pengurangan aliran air. Baik yang menuju afvour Balongkrai maupun yang menuju Sungai Watudakon. Itu setelah tingginya debit air di dua sungai tersebut membuat Dam Sipon tak mampu menampung. ’’Pengurangan aliran air ini masih dimintakan izin ke UPT Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jatim,’’ tegas Zaini.

Menurut dia, langkah pengurangan tersebut dianggap menjadi solusi efektif untuk mengentas banjir yang sudah terjadi selama lima hari tersebut. ’’Jadi, air Brantas (di Pulorejo), pintu air yang menuju ke Balongkrai itu dikurangi. Begitu juga dengan yang lain,’’ tegasnya. Sebab, dari pengamatan dan evaluasi di lapangan, sebenarnya air yang melintas di pintu Dam Sipon cukup deras. Sementara, kondisi air di desa terdampak belum juga surut. Sehingga asumsi banjir disebabkan oleh pintu Dam Sipon tersumbat tidak sepenuhnya benar. ’’Banyak sampah iya. Tetapi setelah sampah berkurang, ternyata tidak berbanding lurus dengan penurunan air di dua dusun tersebut,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Dewan Panggil DLH dan DPUPR

Pihaknya berharap di wilayah Jombang sebagai hulu Sungai tersebut tidak hujan dulu sebelum banjir surut total. ’’Saat ini, pencarian solusi juga masih berlangsung alot karena banyak melibatkan lintas instansi,’’ terangnya. Sebagai langkah penanganan, saat ini, peningkatan status dari siaga menjadi tanggap darurat sudah ditetapkan Bupati Mojokerto, sejak 4 Februari 2020 lalu. Melalui Surat Pernyataan Tanggap Darurat Nomor: 360/235/416–205/2020, banjir akibat luapan Sungai Watudakon telah ditetapkan statusnya menjadi tanggap darurat selama 14 hari ke depan. ’’Artinya penanganan terdampak banjir, baik evakuasi maupun penyiapan dapur umum dapat menggunakan dana tak terduga,’’ pungkas Zaini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Eks Kades Mengadu Ke Polisi

Pemkab Bakal Gunakan BTT

PSMTI Berbagi dan Hibur Lansia

8 Tahun, Pemkot Rutin Raih WTP

/